Hotspot Karhutla Kalbar Turun Jadi 14 Titik, Sekat Kanal Diperkuat Cegah Kebakaran

Idil Aqsa Akbary • Dipublikasikan Selasa, 29 September 2026 | 10:33 WIB
Peta sebaran titik panas Kalimantan Barat dalam pemantauan BMKG, Minggu (27/9), pukul 00.00–21.00 WIB. Dari 447 deteksi, sebanyak 14 titik berkepercayaan tinggi, 431 sedang, dan dua rendah. Sumber: BMKG.
Peta sebaran titik panas Kalimantan Barat dalam pemantauan BMKG, Minggu (27/9), pukul 00.00–21.00 WIB. Dari 447 deteksi, sebanyak 14 titik berkepercayaan tinggi, 431 sedang, dan dua rendah. Sumber: BMKG.

PONTIANAK POST - Jumlah titik panas atau hotspot dengan tingkat kepercayaan tinggi di Kalimantan Barat terus menurun setelah hujan mengguyur sejumlah wilayah. Meski kondisi membaik, upaya pemadaman, patroli, pencegahan hingga pemulihan kawasan gambut tetap dilakukan untuk mencegah karhutla kembali meluas.

Plt Kepala BPBD Kalbar, Ridwan mengatakan, data BMKG hingga pukul 23.59 WIB, Minggu (27/9), mencatat 14 hotspot dengan tingkat kepercayaan tinggi. Sebanyak 11 titik berada di Kabupaten Ketapang dan dua titik di Kabupaten Sintang.

“Penurunan jumlah hotspot tersebut menjadi salah satu indikator membaiknya kondisi karhutla di Kalbar. Hujan yang turun dalam beberapa hari terakhir turut membantu menekan potensi munculnya titik api baru,” ujar Ridwan.

Baca Juga: Langit Pontianak Kembali Biru: Hotspot Karhutla Sudah Nol, Tapi Waspada Udara Masih Tidak Sehat

Selain penurunan hotspot, jarak pandang di sejumlah wilayah juga mulai membaik. Di Kota Pontianak, jarak pandang pada Senin (28/9) pagi berkisar 1-2 kilometer. Sementara di Kubu Raya, jarak pandang sempat berada di sekitar 800 meter pada pukul 06.00 WIB sebelum berangsur membaik.

BMKG masih memprakirakan potensi hujan di sejumlah wilayah, termasuk Kapuas Hulu, Sanggau dan Sintang pada Senin dan Selasa. Hujan diharapkan turut membantu menekan potensi kebakaran, terutama di wilayah yang masih memiliki titik panas.

Meski demikian, operasi penanganan karhutla tetap berjalan. Pemantauan dilakukan melalui sistem Sipongi dan aplikasi Tanggap BPBD Kalbar. Dalam aplikasi tersebut tercatat 94 laporan kebakaran, dengan 67 laporan telah tertangani. Sebanyak 55 berada dalam fase pendinginan, 33 berstatus waspada dan enam dalam kondisi kritis.

Dukungan operasi udara juga masih dilakukan. Dua helikopter berpatroli di sejumlah wilayah, antara lain Ketapang, Kayong Utara, Kubu Raya, Mempawah, Bengkayang, Singkawang dan Sambas. Sementara tiga unit water bombing disiagakan dari Lanud Supadio untuk mendukung penanganan titik panas utama di Ketapang dan Kayong Utara.

Baca Juga: Cuaca Membaik, Sekolah Tatap Muka di Pontianak Dipertimbangkan Mulai Senin

Ridwan mengatakan, operasi udara tetap mempertimbangkan kondisi jarak pandang demi keselamatan penerbangan dan efektivitas pemadaman. Di darat, tim gabungan BPBD, Manggala Agni, Satpol PP, DLHK, TNI dan Polri terus melakukan pemadaman serta pendinginan, termasuk di wilayah Kubu Raya.

Upaya pencegahan juga dilakukan Polda Kalbar melalui Satgas Pencegahan Operasi Aman Nusa II “Karhutla Kapuas-2026”. Personel menyambangi sejumlah desa di Kecamatan Sungai Raya, Kubu Raya, untuk memberikan edukasi mengenai larangan pembakaran lahan, membagikan masker dan mengingatkan warga menghemat air bersih.

Kabid Humas Polda Kalbar Kombes Pol Bambang Suharyono mengatakan pencegahan membutuhkan keterlibatan masyarakat. Warga diminta tidak membakar lahan dan segera melaporkan apabila menemukan titik api maupun kepulan asap.

Baca Juga: Bukan Cuma Urusan Titik Api, Suluh Cendikia ICMI Ingatkan Pencegahan dan Penegakan Hukum Karhutla

“Kami mengajak seluruh masyarakat untuk bersama-sama mencegah karhutla dengan tidak melakukan pembakaran lahan. Masyarakat juga diharapkan segera melaporkan apabila menemukan titik api atau kepulan asap, sehingga dapat dilakukan penanganan sedini mungkin,” kata Bambang.

Di sisi lain, pencegahan jangka panjang mulai diarahkan pada pemulihan tata air gambut. Gerakan Pulihkan Rimba dan Budaya (GEMPUR) Kalimantan Barat bersama JARI Indonesia Borneo Barat melakukan survei lokasi pembangunan sekat kanal di Desa Kalibandung, Kecamatan Sungai Raya, Kubu Raya, Minggu (27/9).

Koordinator GEMPUR Kalimantan Beny Than Heri mengatakan pembangunan sekat kanal menjadi bagian dari pemulihan kawasan gambut yang baru mengalami karhutla. Infrastruktur tersebut diharapkan menjaga gambut tetap basah sehingga tidak mudah terbakar saat musim kemarau.

“Kalibandung baru saja menghadapi karhutla. Karena itu, pembangunan sekat kanal menjadi langkah pemulihan sekaligus pencegahan agar kejadian serupa tidak terus berulang. Gambut yang tetap basah akan lebih terlindungi dari ancaman kebakaran,” ujarnya.

Berdasarkan hasil diskusi dengan masyarakat setempat, Kalibandung diperkirakan membutuhkan sedikitnya 15 unit sekat kanal. Saat ini baru terdapat tiga unit. Pembangunan satu unit oleh GEMPUR akan menambah jumlahnya menjadi empat.

Menurut Beny, satu sekat kanal belum cukup memenuhi kebutuhan desa. Karena itu, pembangunan berikutnya diharapkan dapat dilakukan secara bertahap melalui kolaborasi dengan masyarakat dan lembaga pengelola hutan desa.

“Kami ingin memastikan masyarakat menjadi bagian utama dari proses ini, mulai dari perencanaan hingga pengelolaan setelah sekat kanal dibangun,” katanya.

Program tersebut mendapat dukungan Yayasan KEHATI melalui Tropical Forest Conservation Act (TFCA) Kalimantan. Hasil survei selanjutnya akan menjadi dasar penentuan desain dan lokasi pembangunan sekat kanal berikutnya.(bar/mse)

Editor : Hanif
hotspot Kalbar sekat kanal gambut karhutla kalbar BPBD KALBAR