Karhutla Kalbar Mulai Mereda Setelah Hujan, BPBD Ingatkan Warga Tetap Waspada

Idil Aqsa Akbary • Dipublikasikan Rabu, 30 September 2026 | 11:16 WIB
Ilustrasi hujan. (DOK PONTIANAK POST)
Ilustrasi hujan. (DOK PONTIANAK POST)

PONTIANAK POST - Kondisi kebakaran hutan dan lahan di Kalimantan Barat menunjukkan perkembangan positif. Berdasarkan pemantauan Badan Penanggulangan Bencana Daerah Kalbar hingga Selasa (29/9), hampir seluruh kabupaten/kota tidak lagi memiliki titik panas dengan tingkat kepercayaan tinggi.

Pelaksana Tugas (Plt) Kepala BPBD Kalbar, Ridwan mengatakan, berdasarkan data Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) yang diperbarui hingga Senin (28/9) pukul 23.59 WIB, hanya Kabupaten Ketapang yang masih terdeteksi memiliki titik panas dengan tingkat kepercayaan tinggi.

“Kalau secara keseluruhan dari kabupaten yang berada di Kalbar pada hari ini, tanggal 29 September, sudah mengalami perbaikan yang cukup bagus,” kata Ridwan saat menyampaikan perkembangan penanganan karhutla, Selasa (29/9).

Baca Juga: Hujan Petir Berpotensi Guyur Pontianak, BMKG Ingatkan Gelombang Tinggi

Dalam data tersebut, terdapat empat titik panas dengan tingkat kepercayaan tinggi di Ketapang. Sementara dari pemantauan aplikasi Sipongi menggunakan tiga satelit, yakni Terra/Aqua, SNPP, dan NOAA, hampir tidak terlihat lagi titik panas maupun titik api di wilayah kabupaten/kota lainnya.

Meski demikian, Ridwan mengatakan, sejumlah titik dengan tingkat kepercayaan menengah masih terlihat dalam pemantauan. “Namun, titik tersebut belum dapat dipastikan sebagai kejadian kebakaran atau karhutla,” ungkapnya.

Perbaikan juga terlihat dari kondisi jarak pandang di sejumlah wilayah. Di Kota Pontianak, jarak pandang hingga sekitar pukul 06.00 WIB berada pada kisaran dua hingga lima kilometer. Kondisi serupa juga terlihat di Kabupaten Kubu Raya.

Meski demikian, beberapa daerah masih mengalami jarak pandang terbatas. Kabupaten Sintang, misalnya, pada Selasa pagi masih mencatat jarak pandang sekitar 700 meter. BPBD berharap kondisi tersebut membaik seiring berjalannya waktu.

Baca Juga: 86 Hari Menanti Hujan, Ketapang Akhirnya Diguyur Hujan Deras di Tengah Kemarau Panjang

Potensi hujan juga menjadi salah satu faktor yang diharapkan membantu pemulihan kondisi. Berdasarkan data BMKG, hampir seluruh kabupaten/kota di Kalbar memiliki potensi hujan pada Selasa (29/9). Yakni dengan intensitas rendah hingga sedang. Potensi hujan juga diperkirakan masih cukup baik pada Rabu (30/9). 

“Kalau dilihat pada saat ini, sudah ada titik-titik hujan yang mempunyai intensitas hujan yang sedang. Selain juga ada beberapa kabupaten yang mempunyai potensi hujan ringan,” jelasnya.

Dari laporan yang masuk melalui aplikasi Tanggap, BPBD Kalbar juga mencatat perkembangan penanganan yang cukup signifikan. Dari total 95 laporan yang diterima hingga Selasa, sebanyak 94 laporan telah diselesaikan. Satu laporan masih dalam penanganan, yakni di Kabupaten Sintang.

Baca Juga: Dana Karhutla Rp20 Miliar di Kayong Utara Disorot, Pemkab Didesak Buka Rincian Penggunaan

Ridwan mengatakan, kondisi titik di Sintang tersebut tidak lagi menunjukkan kebakaran besar. Tim di lapangan telah melakukan pendinginan untuk memastikan tidak terjadi penyalaan kembali. 

“Berdasarkan seluruh data pemantauan BMKG, Sipongi dan aplikasi Tanggap, operasi penanganan karhutla tetap dilaksanakan melalui tim udara, dan darat,” ujarnya.

Untuk operasi udara, BPBD Kalbar mengerahkan dua helikopter. Salah satu helikopter diarahkan untuk penanganan dan pemantauan di wilayah Ketapang serta Kayong Utara. Sementara satu helikopter lainnya melaksanakan patroli udara di wilayah Kubu Raya, Mempawah, Bengkayang, Singkawang, Sambas, dan daerah sekitarnya.

Operasi water bombing dari pangkalan di Lanud Supadio juga diarahkan ke sejumlah lokasi yang masih terpantau memiliki titik api atau asap. Penanganan dilakukan di Desa Laman Satong, Kecamatan Matan Hilir Utara dan Desa Air Hitam Hulu, Kecamatan Kendawangan, Kabupaten Ketapang. Satu operasi lainnya diarahkan ke wilayah Lubuk Batu, Kecamatan Simpang Hilir, Kabupaten Kayong Utara.

Sementara tim darat BPBD Kalbar bersama sejumlah organisasi perangkat daerah, dan unsur terkait melakukan pendinginan di wilayah Kubu Raya. Tim tersebut melibatkan Manggala Agni, Satpol PP, DLHK, TNI dan Polri. Pemantauan menggunakan drone juga dilakukan untuk memastikan lokasi yang masih terbakar maupun membutuhkan pendinginan.

“BPBD kabupaten/kota juga tetap melakukan penanganan di wilayah masing-masing. Di Ketapang, misalnya, tim daerah melakukan pemadaman dan pendinginan terhadap lokasi yang masih terpantau dari data BMKG,” jelasnya.

Meski kondisi karhutla mulai menunjukkan perbaikan, BPBD Kalbar mengingatkan masyarakat agar tidak lengah. Ridwan menyebut, berdasarkan data BMKG, potensi kemudahan terjadinya karhutla masih perlu diwaspadai pada 3 hingga 5 Oktober mendatang, terutama pada 4 dan 5 Oktober.

Karena itu, masyarakat maupun pihak perusahaan diminta tidak melakukan pembakaran lahan. Langkah tersebut penting untuk mencegah munculnya kembali titik api setelah kondisi karhutla di Kalbar mulai membaik.

“Diharapkan kepada seluruh masyarakat, baik itu secara pribadi ataupun korporasi, dilarang untuk membakar lahan,” tegasnya.

Sementara itu, Polda Kalbar bersama jajaran juga terus melakukan pemantauan, dan penanganan terhadap wilayah yang masih berpotensi mengalami kebakaran.

Upaya tersebut dilakukan bersamaan dengan imbauan kepada masyarakat agar ikut mencegah terjadinya karhutla, terutama dengan tidak melakukan pembakaran lahan.

Kabid Humas Polda Kalbar, Kombes Pol Bambang Suharyono mengatakan, masyarakat tetap perlu memperhatikan perkembangan kualitas udara. Terutama ketika harus melakukan aktivitas di luar ruangan. 

“Masyarakat yang harus beraktivitas di luar rumah, terutama ketika kondisi udara berasap, kami imbau untuk menggunakan masker, dan mengurangi aktivitas di luar ruangan yang tidak diperlukan. Kami juga mengajak seluruh masyarakat bersama-sama mencegah karhutla dengan tidak melakukan pembakaran lahan,” ujar Bambang.

Perhatian lebih juga perlu diberikan kepada kelompok rentan, seperti anak-anak, lanjut usia, serta masyarakat yang memiliki gangguan atau sensitivitas terhadap pernapasan. Masyarakat diimbau mengikuti informasi resmi dari BMKG mengenai perkembangan cuaca, dan kualitas udara sebelum melakukan aktivitas di luar rumah.

Menurut Bambang, informasi mengenai kondisi udara penting menjadi perhatian masyarakat agar aktivitas di luar ruangan dapat disesuaikan dengan kondisi yang ada. Terlebih, kualitas udara di sejumlah wilayah belum sepenuhnya kembali ke kondisi sehat.

Selain menjaga diri dari paparan asap, masyarakat juga diharapkan berperan aktif dalam mencegah munculnya titik api baru. Tidak melakukan pembakaran lahan menjadi salah satu langkah penting yang dapat dilakukan masyarakat untuk membantu upaya pencegahan karhutla.

Bambang memastikan, Polda Kalbar bersama jajaran akan terus melakukan pemantauan terhadap perkembangan karhutla dan kondisi di lapangan.

“Dengan hujan yang mulai turun di sejumlah wilayah, kualitas udara di Kalbar diharapkan terus membaik. Namun, kewaspadaan terhadap karhutla, dan dampak asap tetap diperlukan hingga kondisi benar-benar aman, dan kualitas udara kembali berada pada kategori sehat,” kata Bambang.

Anggota Komisi II DPRD Kalbar, Marten Luther mengatakan penanganan karhutla harus diikuti dengan strategi pencegahan yang lebih kuat.

Menurutnya, berkurangnya karhutla saat ini diharapkan dapat segera memulihkan berbagai aktivitas masyarakat, termasuk kegiatan belajar mengajar di sekolah.

“Kita berharap karhutla ini segera selesai, sehingga aktivitas anak-anak sekolah bisa berjalan dengan baik,” kata Marten.

Ia menilai pencegahan harus menjadi perhatian utama setelah kondisi karhutla mereda. Pemerintah bersama masyarakat perlu memperkuat pengawasan terhadap aktivitas pembakaran lahan, baik yang dilakukan secara sengaja maupun tidak sengaja.

Marten mendorong adanya kerja sama antara pemerintah dan masyarakat untuk menjaga kawasan hutan serta mencegah munculnya titik api baru.

“Ke depannya kita harap kalau ini tidak terjadi lagi, ada antisipasi. Pembakaran-pembakaran itu juga bisa ditangani oleh pemerintah. Pemerintah maupun masyarakat harus saling bekerja sama menjaga hutan,” ujarnya.

Ia berharap pemerintah memiliki cadangan anggaran yang memadai sehingga ketika bencana kembali terjadi, penanganan dapat dilakukan dengan cepat tanpa harus menunggu bantuan tambahan.

“Kita berharap pemerintah nanti bisa mencadangkan anggaran bencana. Jadi ketika ini terjadi, kita sudah siap untuk melaksanakan penanggulangan bencana,” katanya.

Menurut Marten, kesiapan anggaran penting karena penanganan bencana tidak hanya berkaitan dengan pemadaman api, tetapi juga dampak lanjutan yang dirasakan masyarakat.

“Untuk krisis air bersih memang ini terjadi di mana-mana. Ini karena faktor kemarau yang cukup panjang,” ujarnya.(bar/den)

Editor : Hanif
cuaca Kalbar titik panas Kalimantan Barat karhutla kalbar kebakaran hutan dan lahan BPBD KALBAR