Titik Panas Karhutla Kalbar Naik Lagi, Ketapang Terdeteksi 37 Titik

Idil Aqsa Akbary • Dipublikasikan Jumat, 2 Oktober 2026 | 10:58 WIB
Peta sebaran titik panas Kalimantan Barat dalam pemantauan BMKG, Minggu (27/9), pukul 00.00–21.00 WIB. Dari 447 deteksi, sebanyak 14 titik berkepercayaan tinggi, 431 sedang, dan dua rendah. Sumber: BMKG.
Peta sebaran titik panas Kalimantan Barat dalam pemantauan BMKG, Minggu (27/9), pukul 00.00–21.00 WIB. Dari 447 deteksi, sebanyak 14 titik berkepercayaan tinggi, 431 sedang, dan dua rendah. Sumber: BMKG.

PONTIANAK POST - Perkembangan kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Kalimantan Barat (Kalbar) kembali menunjukkan peningkatan. Berdasarkan data Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) hingga Rabu (30/9) pukul 23.59 WIB, tercatat 47 titik panas dengan tingkat kepercayaan tinggi di sejumlah wilayah Kalbar.

Pelaksana Tugas (Plt) Kepala Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kalbar, Ridwan mengatakan, dari total 47 titik panas tersebut, Kabupaten Ketapang menjadi wilayah dengan sebaran terbanyak, yakni 37 titik. Selain Ketapang, titik panas dengan tingkat kepercayaan tinggi juga terdeteksi di Kabupaten Sanggau sebanyak tiga titik, Sintang tiga titik, Melawi dua titik, serta Landak, dan Sekadau masing-masing satu titik.

“Untuk data pada hari ini (Kamis), terlihat ada kenaikan sedikit lagi untuk sebaran titik panas tingkat kepercayaan tinggi,” kata Ridwan saat menyampaikan perkembangan penanganan karhutla Kalbar, Kamis (1/10).

Baca Juga: Titik Api Menurun, BPBD Sebut Kualitas Udara di Kabupaten Sanggau Mulai Membaik

Ridwan mengatakan, berdasarkan data BMKG, sejumlah kabupaten/kota lainnya tidak memiliki titik panas dengan tingkat kepercayaan tinggi. Namun, kondisi berbeda terlihat dalam data Sipongi. Berdasarkan pantauan tiga satelit, yakni Terra/Aqua, SNPP, dan NOAA, juga terlihat adanya peningkatan titik panas dengan tingkat kepercayaan tinggi maupun menengah.

Untuk satelit Terra/Aqua terdeteksi 16 titik panas dengan tingkat kepercayaan tinggi. Sementara SNPP mendeteksi 19 titik panas tingkat kepercayaan tinggi, dan NOAA satu titik.

Menurut Ridwan, data dari Sipongi juga menunjukkan adanya titik panas di sejumlah kabupaten/kota yang sebelumnya terkategori aman. Di antaranya Sanggau, Sekadau, Landak, dan Sintang yang mulai memiliki titik panas dengan tingkat kepercayaan menengah maupun tinggi.

Di tengah peningkatan titik panas tersebut, kondisi jarak pandang di sejumlah wilayah Kalbar dilaporkan berangsur membaik. Ridwan mengatakan, di Kabupaten Kubu Raya, jarak pandang pada periode pukul 18.00 WIB, 30 September hingga pukul 06.00 WIB, 1 Oktober, berada pada kisaran dua hingga lima kilometer. Kondisi serupa juga terlihat di Kota Pontianak dengan jarak pandang antara satu hingga lima kilometer.

Baca Juga: Kalbar Terdeteksi 447 Titik Panas, Tinggal 14 Hotspot Berkepercayaan Tinggi

Sementara itu, kondisi jarak pandang lebih dari lima kilometer terpantau di Kota Singkawang, dan Kabupaten Sambas. Kondisi tersebut tercatat sejak pukul 07.00 WIB, 30 September hingga pukul 06.00 WIB, 1 Oktober.

"Untuk Kabupaten Ketapang terlihat tadi di pukul 06.00 hanya berjarak pandang satu setengah kilometer, dan untuk Kabupaten Sintang ini berjarak pandang hanya sejauh satu kilometer,” jelasnya.

Sedangkan di Kabupaten Kapuas Hulu dan Mempawah, jarak pandang juga mulai membaik. Ridwan berharap kondisi tersebut terus bertahan hingga malam hari.

Terkait potensi hujan, Ridwan mengatakan berdasarkan data BMKG pada 1 Oktober, potensi hujan ringan hingga menengah terlihat di Kabupaten Sambas dan wilayah perhuluan. Namun, kondisi berbeda diperkirakan terjadi di Ketapang, dan Kayong Utara.

Berdasarkan data potensi curah hujan hingga 7 Oktober, potensi hujan di kedua wilayah tersebut mulai terlihat rendah.

"Kami agak khawatirkan tadi untuk Kabupaten Ketapang, karena kalau dilihat dari potensi hujan yang ada di kabupaten ini, mulai tanggal 1 sampai tanggal 7 Oktober nanti sudah mulai terlihat tidak ada lagi potensi hujan,” ujarnya.

Meski demikian, Ridwan menyebut data tersebut masih dapat berubah seiring perkembangan kondisi cuaca. Karena di sisi lain, potensi pertumbuhan awan hujan di Kabupaten Ketapang masih cukup tinggi, yakni lebih dari 70 persen. Kondisi tersebut membuka peluang pelaksanaan Operasi Modifikasi Cuaca (OMC).

Namun, pelaksanaan OMC tetap menunggu perkembangan, dan rekomendasi data dari BMKG untuk memastikan kondisi memungkinkan dilakukannya operasi tersebut.

"Semoga dari data ini kita bisa melakukan OMC untuk wilayah Ketapang, dan untuk waktu-waktu ke depan juga kalau potensi pertumbuhan awan di kabupaten tersebut cukup bagus, operasi OMC dapat kami lakukan,” katanya.

Mengantisipasi peningkatan titik panas, BPBD Kalbar bersama Manggala Agni, TNI-Polri, Satpol PP, Dinas Lingkungan Hidup dan Kehutanan (DLHK), serta perangkat daerah lainnya juga memperkuat penanganan melalui Satgas Udara, dan Satgas Darat. Untuk Satgas Udara, Ridwan mengatakan pihaknya menurunkan dua patroli pada Kamis (1/10).

Patroli pertama diarahkan ke wilayah Ketapang bagian selatan. Sementara patroli kedua diarahkan ke Ketapang bagian utara sekaligus Kayong Utara. Untuk pergerakan patroli lainnya, helikopter diarahkan ke Kubu Raya dan Kayong Utara. Sementara pergerakan berikutnya mencakup wilayah Kubu Raya, Landak, Sanggau, dan Sekadau.

Selain patroli, penanganan juga dilakukan melalui water bombing dari Base Lanud Supadio. Untuk sortie pertama, water bombing diarahkan ke Desa Natai Kuini, Kecamatan Kendawangan, Kabupaten Ketapang, berdasarkan permintaan Satgas Darat.

Water bombing berikutnya diarahkan ke Desa Kuala Tolak, Kecamatan Matan Hilir Utara, Kabupaten Ketapang. Sementara satu armada lainnya diarahkan ke wilayah Lubuk Batu, Kecamatan Simpang Hilir, Kabupaten Kayong Utara.

"Ini juga berdasarkan dari hasil patroli udara kita yang kemarin,” kata Ridwan.

Untuk sortie kedua, armada water bombing masih disiagakan. Selain dari Base Lanud Supadio, dukungan water bombing juga disiapkan dari Base Sintang. Untuk wilayah tersebut, rencana water bombing diarahkan ke Desa Merakai Dua, Kecamatan Sungai Tebelian, Kabupaten Sintang.

Sementara itu, Satgas Darat yang terdiri dari BPBD provinsi, BPBD kabupaten/kota, Manggala Agni, Satpol PP, DLHK, relawan, serta TNI-Polri terus melakukan pemadaman di wilayah masing-masing. Untuk Satgas Darat yang dipimpin BPBD Kalbar, fokus penanganan masih berada di sekitar kawasan Bandara Supadio, Kabupaten Kubu Raya.

Sedangkan satgas yang berada di masing-masing kabupaten/kota, dan dipimpin BPBD setempat, melakukan pemadaman serta patroli berdasarkan titik panas yang terdeteksi.

Ridwan mengatakan, Kabupaten Ketapang menjadi salah satu wilayah yang mendapat perhatian karena masih memiliki titik panas dengan tingkat kepercayaan tinggi. Patroli juga dilakukan di wilayah Melawi, Sanggau, Sintang, Landak dan sejumlah wilayah lainnya berdasarkan data dari BMKG maupun Sipongi.

Melihat kondisi cuaca, dan potensi karhutla hingga beberapa hari ke depan, BPBD Kalbar kembali mengingatkan masyarakat maupun korporasi untuk tidak melakukan pembakaran lahan dengan alasan apapun. Karena menurut Ridwan, berdasarkan data yang diterima, periode 2 hingga 7 Oktober masih menunjukkan potensi mudah terjadi karhutla.

Menurutnya, aktivitas pembakaran berpotensi kembali meningkatkan jumlah titik api maupun titik panas yang terpantau melalui aplikasi pemantauan. "Karena apabila melakukan pembakaran maka titik-titik api ataupun titik panas yang ada di aplikasi ataupun di wilayah kita akan mengalami peningkatan lagi,” katanya.

Ridwan khawatir kondisi yang sebelumnya telah berhasil ditanggulangi kembali terulang apabila ada aktivitas pembakaran yang dilakukan. "Sehingga kejadian-kejadian kemarin yang sudah kita bisa tanggulangi, dikhawatirkan itu akan terulang kembali,” pungkasnya.(bar)

Editor : Hanif
titik panas Kalbar water bombing karhutla kalbar BPBD KALBAR ketapang