Gubernur Ria Norsan Minta Warga Kalbar Waspadai Hujan Ekstrem dan Bencana Hidrometeorologi

Novantar Ramses Negara • Dipublikasikan Sabtu, 3 Oktober 2026 | 15:00 WIB
Gubernur Kalimantan Barat, Ria Norsan.
Gubernur Kalimantan Barat, Ria Norsan.

PONTIANAK POST - Gubernur Kalimantan Barat Ria Norsan meminta pemerintah daerah dan masyarakat meningkatkan kewaspadaan menghadapi musim hujan 2026/2027. Pergeseran awal musim hujan di sejumlah wilayah Kalbar perlu diantisipasi karena dapat diikuti hujan berintensitas tinggi dalam waktu singkat.

Menurut Ria Norsan, kondisi tersebut dapat meningkatkan risiko bencana hidrometeorologi, seperti banjir, genangan, dan tanah longsor. Karena itu, pemerintah daerah perlu menggunakan informasi cuaca dan iklim sebagai dasar dalam menentukan langkah antisipasi.

“Kita tidak ingin berpindah dari satu risiko ke risiko lainnya tanpa kesiapan. Pengalaman menghadapi karhutla (kebakaran hutan dan lahan) dan kekeringan harus menjadi pembelajaran untuk memperkuat kesiapsiagaan kita menghadapi musim hujan,” tegas Ria Norsan di Pontianak, kemarin.

Baca Juga: Hujan Ringan Mendominasi Sejumlah Wilayah Indonesia, Pontianak Berpotensi Diguyur Hujan

Ia meminta perangkat daerah di tingkat provinsi maupun kabupaten/kota menjadikan data dan prediksi Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) sebagai acuan dalam mengambil langkah di lapangan.

Menurutnya, informasi cuaca dan iklim juga penting dalam perencanaan pembangunan, mulai dari pola tanam dan ketahanan pangan, pengelolaan sumber daya air, kesiapsiagaan bencana, penganggaran mitigasi, hingga pengendalian inflasi.

“Informasi ini menjadi salah satu masukan strategis dalam menyusun kebijakan pembangunan daerah, mulai dari perencanaan tanam dan ketahanan pangan, pengelolaan sumber daya air, kesiapsiagaan bencana, penganggaran mitigasi di tingkat provinsi maupun kabupaten/kota, hingga upaya menekan laju inflasi agar tetap terkendali demi kesejahteraan masyarakat,” ujar Ria Norsan.

Ria Norsan meminta koordinasi lintas sektor diperkuat, terutama antara Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD), Dinas Pekerjaan Umum, Dinas Pertanian, Dinas Kesehatan, serta perangkat daerah dan instansi teknis lainnya.

Baca Juga: BMKG Ungkap Tantangan OMC Karhutla, Awan Hujan di Selatan Ekuator Minim

Ia juga meminta pelaku usaha, khususnya sektor perkebunan, pertanian, perikanan, transportasi, dan logistik, menyesuaikan aktivitas dengan kondisi cuaca untuk mengurangi risiko akibat cuaca ekstrem.

“Langkah penyesuaian aktivitas dan mitigasi juga perlu dilakukan oleh para pelaku dunia usaha, khususnya yang bergerak di sektor perkebunan, pertanian, perikanan, transportasi, dan logistik, agar kegiatan operasional tetap berjalan aman serta dapat meminimalkan risiko kerugian akibat cuaca ekstrem,” jelasnya.

Masyarakat juga diminta meningkatkan kesiapsiagaan di lingkungan masing-masing dengan menjaga kebersihan saluran air, tidak membuang sampah sembarangan, serta mewaspadai potensi bencana.

Baca Juga: BMKG Ingatkan Jeda Hujan Awal Oktober, Karhutla Kalbar Kembali Diwaspadai

Pemerintah Provinsi Kalimantan Barat, lanjut Ria Norsan, akan memperkuat koordinasi dengan BMKG, TNI/Polri, pemerintah kabupaten/kota, dan pemangku kepentingan lainnya untuk memperkuat sistem peringatan dini serta mempercepat respons terhadap potensi bencana.

“Mari kita bangun budaya siaga sebelum terjadi, tanggap ketika terjadi, dan cepat dalam melakukan pemulihan. Dengan kerja bersama dan kepedulian seluruh pihak, kita dapat menjaga masyarakat, lingkungan, serta keberlanjutan pembangunan Kalimantan Barat,” pungkasnya.

Norsan juga menyampaikan apresiasi kepada BMKG Pusat dan BMKG Kalimantan Barat yang secara berkala menyediakan informasi prediksi musim serta pemutakhiran cuaca dan iklim.

Sebelumnya, Septikasari, Prakirawan Stasiun Meteorologi Kelas 1 Supadio mengingatkan masyarakat untuk tetap waspada terhadap potensi kemudahan kebakaran hutan dan lahan beberapa hari kedepan. Terutama pada 2 hingga 7 Oktober 2026.

"Karena sebagian wilayah Kalbar masuk dalam kategori mudah hingga sangat mudah terbakar," ujarnya.

Sementara itu, pola angin saat ini  mengindikasikan potensi banyak hujan di Kalbar pada hari ini, Kamis (1/10).  "Berdasarkan prakiraan angin di lapisan 3000 feet, esok hari (hari ini, red)  secara umum di wilayah Kalbar angin bertiup dari arah Tenggara hingga Barat Daya dengan kecepatan 15 knot," jelasnya. 

Septikasari juga mengingatkan bahwa hujan yang terjadi dapat disertai kilat, petir dan angin kencang berdurasi singkat.  "Waspadai potensi hujan yang terjadi dapat disertai kilat, petir ataupun angin kencang berdurasi singkat. Terutama pada siang, sore, hingga malam hari," ucapnya. 

Meski curah hujan meningkat beberapa hari terakhir, BMKG Kalbar tetap mengingatkan masyarakat untuk waspada terhadap kualitas udara yang tidak sehat akibat asap.

Berdasarkan ikhtisar beberapa unsur cuaca yang diamati pada 9 lokasi di Provinsi Kalimantan Barat (Kalbar) tanggal 29 September 2026 Pukul 07.00 WIB sampai dengan 30 September 2026 Pukul 07.00 WIB, masih terdapat jarak pandang ekstrem. Jarak pandang kurang dari 1 km berada di Ketapang. 

BMKG Kalbar juga mencatat, tidak terdapat suhu udara ekstrem. Suhu udara maksimum tertinggi yaitu 35.1°C terjadi di Kubu Raya. Suhu udara rata-rata berkisar 27.6°C hingga 29.5°C. Sementara suhu udara minimum terendah adalah 22.5°C di Sintang.  

Terjadi hujan di beberapa titik pengamatan. Curah hujan tertinggi terjadi di Kota Singkawang yaitu 15.9 mm/hari. Kriteria hari tanpa hujan termasuk kategori sangat pendek (15 hari). Tidak terdapat kejadian angin kencang ekstrem. Kecepatan angin tertinggi yaitu 19 knot di Kota Singkawang.(mse)

Editor : Hanif
musim hujan Kalbar ria norsan Bencana Hidrometeorologi Hujan Ekstrem BMKG Kalbar