Karhutla Mereda, Kalbar Tetap Siaga: Status Tanggap Darurat Diperpanjang

Novantar Ramses Negara • Dipublikasikan Selasa, 6 Oktober 2026 | 11:38 WIB
Pelaksana Tugas (Plt) Kepala BPBD Kalbar, Ridwan, saat memantau titik api atau titik panas (hotspot) karhutla menggunakan aplikasi utama SiPongi+ di Pontianak, Senin (5/10). (ANTARA)
Pelaksana Tugas (Plt) Kepala BPBD Kalbar, Ridwan, saat memantau titik api atau titik panas (hotspot) karhutla menggunakan aplikasi utama SiPongi+ di Pontianak, Senin (5/10). (ANTARA)

PONTIANAK POST – Kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Kalimantan Barat menunjukkan tren penurunan. Namun, pemerintah provinsi tetap memperpanjang status tanggap darurat selama 14 hari karena kebakaran masih ditemukan di sejumlah wilayah.

Berdasarkan data BMKG hingga 4 Oktober 2026 pukul 23.59 WIB, tercatat 24 titik panas dengan tingkat kepercayaan tinggi. Sebagian besar titik panas tersebut berada di Kabupaten Ketapang, khususnya Kendawangan.

Pelaksana Tugas (Plt) Kepala BPBD Kalbar, Ridwan, mengatakan kondisi karhutla secara keseluruhan semakin membaik. Bahkan, Kalbar sempat berada pada kondisi nol titik panas dengan tingkat kepercayaan tinggi pada pekan sebelumnya.

Baca Juga: Karhutla Ketapang Belum Reda, Puluhan Hotspot Muncul di Kendawangan dan Bakar 8 Hektare Lahan

“Secara keseluruhan, kondisi karhutla di Kalbar sudah semakin membaik dan terkendali. Bahkan pada minggu lalu, kita sempat berada pada kondisi nol titik panas dengan tingkat kepercayaan tinggi,” ungkap Ridwan dalam konferensi pers di Kantor BPBD Kalbar, Senin (5/10).

Meski jumlah titik panas menurun, penanganan tetap dilakukan karena kebakaran masih ditemukan di sejumlah wilayah. Selain itu, Kayong Utara, Melawi, dan Mempawah disebut masih berada dalam status tanggap darurat.

“Ada beberapa kabupaten yang masih berstatus tanggap. Selain itu, faktanya di wilayah Kalbar masih terdapat kebakaran. Karena itu, status tanggap darurat tetap kami pertahankan sebagai bentuk kesiapsiagaan,” ucapnya.

BPBD tetap mengerahkan Satgas Udara dan Satgas Darat. Dua helikopter digunakan untuk patroli di sejumlah wilayah, sementara pemadaman dan water bombing dilakukan apabila ditemukan lokasi yang membutuhkan penanganan.

Baca Juga: Karhutla Kalbar Mulai Mereda Setelah Hujan, BPBD Ingatkan Warga Tetap Waspada

Satgas Darat melakukan ground check, pemadaman, dan pendinginan bersama BPBD kabupaten/kota, Manggala Agni, TNI, dan Polri.

Di sisi lain, kabut asap masih dirasakan di sejumlah wilayah. Jarak pandang di Ketapang sempat sekitar 600 meter, sedangkan di Pontianak sekitar 1,5 kilometer pada pagi hari sebelum membaik setelah pukul 07.00 WIB.

Ridwan mengatakan kondisi tersebut dipengaruhi arah angin dan masih adanya sumber kebakaran.

“Berdasarkan data yang kami pantau, arah angin saat ini masih bergerak menuju wilayah Kota Pontianak. Di Kalbar sendiri masih ada sumber kebakaran meskipun jumlahnya tidak besar,” katanya.

Selain karhutla, Pemprov Kalbar mulai mengantisipasi peningkatan curah hujan yang diperkirakan terjadi mulai pertengahan Oktober. Kondisi tersebut berpotensi memicu banjir, tanah longsor, dan angin kencang.

“Kita tidak hanya fokus pada karhutla. Berdasarkan informasi BMKG, mulai pertengahan Oktober kita akan menghadapi curah hujan yang cukup tinggi dan puncak hujan diperkirakan mulai terjadi pada periode berikutnya,” kata Ridwan.

Ia berharap peningkatan pertumbuhan awan dapat membantu pembasahan lahan, terutama di wilayah yang masih terdapat titik panas. Masyarakat juga diminta tidak membuka atau membersihkan lahan dengan cara membakar.

“Kami ingin memastikan masyarakat bahwa Pemprov Kalbar bersama seluruh pihak terkait tetap serius menangani karhutla. Kondisinya memang semakin membaik, tetapi bukan berarti kita boleh lengah,” pungkasnya. (mse)

Editor : Hanif
titik panas Kalbar karhutla kalbar BPBD KALBAR kabut asap Tanggap Darurat