Dari Pontianak ke Korea Selatan, YARSI Buka Jalan Kuliah dan Karier Internasional

Salman Busrah • Dipublikasikan Selasa, 13 Oktober 2026 | 08:17 WIB

 

Ketua Yayasan YARSI Suhadi SW foto bersama
Ketua Yayasan YARSI Suhadi SW foto bersama Direktur Busan Indonesia Center. 

MoU dengan Busan Indonesia Center Perluas Peluang Dosen dan Mahasiswa STIKes serta AKFAR YARSI, Lulusan D-3 Berpeluang Lanjut S-1

PONTIANAK – Peluang menempuh pendidikan tinggi sekaligus membangun karier di luar negeri kini terbuka bagi mahasiswa dan alumni Yayasan Rumah Sakit Islam (YARSI) Pontianak. Melalui kerja sama dengan Busan Indonesia Center, Korea Selatan, YARSI berupaya memperluas akses pendidikan internasional serta membuka peluang kerja bagi lulusan Sekolah Tinggi Ilmu Kesehatan (STIKes) dan Akademi Farmasi (AKFAR) YARSI Pontianak.

Komitmen tersebut ditandai dengan penandatanganan nota kesepahaman atau Memorandum of Understanding (MoU) antara YARSI Pontianak dan Busan Indonesia Center di kampus STIKes YARSI Pontianak. Penandatanganan dilakukan Ketua Pengurus YARSI Pontianak, Drs. Suhadi, SW, M.Si, bersama Direktur Busan Indonesia Center, Prof. Dr. Kim Soo Il.

Kerja sama ini menjadi langkah strategis untuk meningkatkan kualitas sumber daya manusia, memperluas wawasan internasional dosen dan mahasiswa, serta menjajaki jalur pendidikan lanjutan dan kesempatan kerja di Korea Selatan.

Melalui kolaborasi tersebut, Busan Indonesia Center akan memfasilitasi penjajakan perguruan tinggi di Korea Selatan yang sesuai dengan program studi STIKes dan AKFAR YARSI Pontianak. Lembaga tersebut juga menyatakan kesiapan membantu penyaluran alumni YARSI untuk memperoleh peluang kerja di Korea Selatan.

Lulusan D-3 Berpeluang Lanjut S-1

Salah satu peluang yang disampaikan dalam kegiatan tersebut adalah kesempatan bagi lulusan Diploma III Keperawatan dan Diploma III Farmasi untuk melanjutkan pendidikan ke jenjang sarjana di Korea Selatan.

Prof. Dr. Kim Soo Il menjelaskan, berdasarkan skema yang dipaparkannya, lulusan D-3 dapat memperoleh pengakuan atas sebagian masa studi yang telah ditempuh. Empat semester dapat diakui, sedangkan dua semester lainnya harus ditempuh kembali di Korea Selatan.

Dengan skema tersebut, mahasiswa diperkirakan perlu menjalani empat semester atau sekitar dua tahun untuk menyelesaikan pendidikan lanjutan, dengan tetap mengikuti ketentuan akademik perguruan tinggi tujuan.

Setelah menyelesaikan pendidikan strata satu, para lulusan berpeluang memasuki dunia kerja di Korea Selatan sesuai bidang keilmuan masing-masing. Untuk bidang keperawatan dan kefarmasian, peluang tersebut tentu harus mengikuti persyaratan profesi, pengakuan kualifikasi, kemampuan bahasa, serta ketentuan ketenagakerjaan dan perizinan yang berlaku di Korea Selatan.

Bagi YARSI Pontianak, peluang ini diharapkan menjadi motivasi bagi mahasiswa untuk meningkatkan kompetensi, kemampuan bahasa asing, dan kesiapan menghadapi persaingan global.

Prof. Kim Soo Il, Bukan Orang Asing bagi Indonesia

Di balik kerja sama pendidikan Indonesia-Korea Selatan ini, tersimpan kedekatan personal Prof. Dr. Kim Soo Il dengan Indonesia yang telah terjalin selama lebih dari empat dekade.

Prof. Kim mengenal Indonesia sejak 1983, ketika mengikuti program pertukaran mahasiswa Indonesia-Korea Selatan. Dalam program tersebut, ia mendapat penugasan di Tarakan, Kalimantan Timur, dan pernah mengunjungi Pontianak, Kalimantan Barat.

Pengalaman tinggal dan berinteraksi langsung dengan masyarakat Indonesia turut memperkuat kemampuannya berbahasa Indonesia. Latar belakang keilmuan dalam bidang bahasa Indonesia juga menjadi bagian dari kedekatannya dengan negeri ini.

Pada 2022, Prof. Kim membuka kantor Busan Indonesia Center di Jakarta untuk mendukung berbagai kegiatan yang berkaitan dengan hubungan Indonesia dan Korea Selatan.

Pengalamannya dalam hubungan kedua negara juga tidak terlepas dari kiprahnya sebagai Atase Kebudayaan Korea Selatan di Indonesia. Dalam perjalanan pengabdiannya, ia disebut menerima sejumlah penghargaan dari pemerintah Indonesia, termasuk pada masa Presiden Soeharto, Presiden B.J. Habibie, dan Presiden Megawati Soekarnoputri.

Kedekatan panjang tersebut menjadi modal penting dalam menjembatani komunikasi dan kerja sama pendidikan antara kedua negara.

Hadirkan Dua Tokoh Pendidikan

Ketua Pengurus YARSI Pontianak, Drs. Suhadi, SW, M.Si, menilai kehadiran Prof. Dr. Kim Soo Il dan Prof. Dr. Didin Muhafidin dalam kegiatan tersebut memberikan nilai strategis bagi pengembangan YARSI Pontianak.

Menurut Suhadi, kolaborasi ini diharapkan mampu memperkuat kepercayaan masyarakat terhadap STIKes dan AKFAR YARSI Pontianak, sekaligus mendorong institusi pendidikan tersebut meningkatkan mutu dan daya saing lulusannya.

Ia juga menyoroti peran kedua tokoh dalam jejaring pendidikan Indonesia dan Korea Selatan. Keterlibatan mereka diharapkan membuka ruang kolaborasi yang lebih luas, baik dalam pengembangan akademik, pertukaran pengetahuan, maupun penjajakan program pendidikan lintas negara.

Bagi YARSI, kerja sama internasional bukan semata-mata tentang membuka kesempatan belajar di luar negeri. Lebih dari itu, kolaborasi ini diharapkan dapat memperkuat kualitas pendidikan, memperluas pengalaman akademik, dan mempersiapkan lulusan agar mampu bersaing di pasar kerja global.

Kuliah Pakar Diikuti Sekitar 500 Peserta

Sebelum penandatanganan MoU, YARSI Pontianak menggelar kuliah pakar yang diikuti sekitar 500 peserta, terdiri atas dosen, mahasiswa semester akhir, dan calon wisudawan. Kegiatan berlangsung secara luring di kampus dan daring melalui Zoom.

Antusiasme peserta terlihat dari respons dan pertanyaan yang disampaikan selama pemaparan materi. Forum tersebut menghadirkan Prof. Dr. Kim Soo Il dan Prof. Dr. Didin Muhafidin sebagai narasumber.

Kedua pakar membahas tema kepemimpinan adaptif, sementara Prof. Kim secara khusus memaparkan peluang kerja sama antara Indonesia dan Korea Selatan.

Materi tersebut relevan dengan tantangan perguruan tinggi saat ini, terutama dalam menyiapkan lulusan yang tidak hanya memiliki kompetensi akademik, tetapi juga mampu beradaptasi dengan perubahan dunia kerja, perkembangan teknologi, dan kebutuhan industri lintas negara.

Melalui penandatanganan MoU dan kuliah pakar tersebut, YARSI Pontianak berharap langkah menuju internasionalisasi pendidikan semakin terbuka. Bagi dosen, mahasiswa, dan alumni, kerja sama ini menjadi pintu awal untuk menjajaki kesempatan yang lebih luas, dari ruang kuliah di Pontianak hingga perguruan tinggi dan dunia kerja di Korea Selatan.

Kerja sama ini selanjutnya perlu diterjemahkan ke dalam program konkret, mulai dari pemetaan perguruan tinggi mitra, mekanisme pengakuan kredit akademik, persiapan bahasa, hingga kejelasan jalur pendidikan dan penempatan kerja bagi alumni.**

Editor : Salman Busrah
Busan Center yarsi pontianak RS Yarsi