PONTIANAK POST - Jumlah titik panas (hotspot) di Kalimantan Barat menurun menjadi 419 titik pada Rabu (14/10). Namun, kebakaran hutan dan lahan (karhutla) masih menjadi perhatian, terutama di Kabupaten Ketapang yang mencatat kenaikan titik panas dengan tingkat kepercayaan tinggi lebih tiga kali lipat, dari 31 menjadi 98 titik.
Kabid Kedaruratan dan Logistik BPBD Kalbar Novel mengatakan, berdasarkan data terbaru BMKG, total titik panas di Kalbar turun dibandingkan sehari sebelumnya yang mencapai sekitar 700 titik. Meski demikian, peningkatan di Ketapang menunjukkan kebakaran masih membutuhkan penanganan intensif.
“Ketapang terdapat 98 titik hotspot dengan tingkat kepercayaan tinggi. Angka ini naik dari kemarin yang hanya 31 titik,” ujarnya dalam pemaparan perkembangan penanganan karhutla, Rabu (14/10).
Titik panas tersebut terutama tersebar di Kecamatan Kendawangan dan Matan Hilir Selatan, antara lain di Natai Kuini, Air Besar Hulu, dan Air Besar Hitam. Menurut Novel, sebagian titik panas diduga berasal dari lokasi kebakaran sebelumnya yang kembali terbakar. Kondisi lahan gambut yang dalam menyulitkan pemadaman karena api berpotensi bertahan di bawah permukaan dan kembali menyala.
“Ini titik hotspot lama yang naik lagi atau terbakar lagi. Salah satunya karena gambut di kita sangat dalam, sehingga pemadamannya agak terkendala. Namun, kita terus berupaya melakukan pemadaman di daerah-daerah tersebut,” jelasnya.
Kabut asap juga menghambat operasi pemadaman melalui udara. Jarak pandang di Ketapang yang sebelumnya berkisar 300–400 meter pada pagi hari, pada Rabu pagi turun menjadi sekitar 100 meter. Kondisi tersebut berisiko bagi penerbangan sehingga patroli dan pemadaman udara harus menyesuaikan situasi di lapangan. Di Sambas, jarak pandang yang sempat membaik kembali menurun. Pada Selasa hingga Rabu, jarak pandang di wilayah itu berkisar dua hingga lima kilometer.
Kendawangan Jadi Prioritas Pemadaman
BPBD Kalbar bersama satuan tugas (satgas) darat dan udara terus mengintensifkan pemadaman di sejumlah wilayah. Kecamatan Kendawangan, Ketapang, menjadi prioritas operasi helikopter water bombing atau pengeboman air.
Dua lokasi yang menjadi sasaran awal adalah Desa Pembedilan dan Desa Danau Buntar, berdasarkan permintaan satgas darat dan kebutuhan penanganan di lapangan. Operasi selanjutnya direncanakan menyasar Desa Natai Kuini.
Pemadaman juga menjadi perhatian di kawasan Taman Nasional Gunung Palung, Sukadana, Kabupaten Kayong Utara. Kawasan konservasi tersebut merupakan habitat orangutan yang perlu dilindungi dari ancaman kebakaran.
Di Kabupaten Mempawah, helikopter water bombing diarahkan ke Desa Malikian, Kecamatan Mempawah Hilir. Meski luasan kebakaran di lokasi itu tidak terlalu besar, pemadaman tetap dilakukan untuk mencegah api meluas.
Sementara itu, kebakaran di Desa Teluk Bakung, Kecamatan Sungai Ambawang, Kabupaten Kubu Raya, masih membutuhkan penanganan lanjutan. Dari perkiraan luas kebakaran sekitar 23 hektare, sekitar 10 hektare telah dipadamkan. Artinya, masih sekitar 13 hektare yang perlu ditangani.
Pemadaman dilakukan melalui kolaborasi satgas darat dan udara. Satgas juga merencanakan penanganan di Desa Pasir, Kabupaten Mempawah, untuk mencegah api meluas di kawasan yang memiliki karakteristik lahan gambut.“Sekecil apa pun hotspot, kita padamkan semaksimal mungkin,” tegas Novel.
OMC Difokuskan di Wilayah Selatan
Untuk membantu menekan kebakaran, BPBD Kalbar mengoptimalkan Operasi Modifikasi Cuaca (OMC) atau hujan buatan, terutama di wilayah selatan Kalbar. Kabupaten Kubu Raya, Kayong Utara, dan Ketapang menjadi daerah prioritas.
Penyemaian awan dilakukan dengan mempertimbangkan kondisi pertumbuhan awan yang memungkinkan terjadinya hujan. “Untuk OMC, kami maksimalkan di wilayah selatan Kalbar, yaitu Kabupaten Kubu Raya, Kayong Utara, serta Ketapang. Pelaksanaannya tetap melihat pertumbuhan awan,” kata Novel.
Selain OMC, BMKG memperkirakan potensi hujan pada 15 dan 19 Oktober, termasuk di wilayah selatan Ketapang. Pertumbuhan awan juga berpotensi terjadi di sejumlah wilayah Kalbar pada 15, 16, 17, 19, dan 20 Oktober. Potensi hujan tersebut diharapkan membantu membasahi lahan dan menekan kebakaran. Meski demikian, pemadaman di lapangan tetap dilanjutkan selama masih terdapat titik api.
Patroli udara pada Rabu direncanakan menyasar wilayah selatan dan utara Ketapang hingga Kayong Utara. Sementara itu, patroli dari pangkalan Pontianak diarahkan ke Kubu Raya, Landak, Bengkayang, dan Sambas, kemudian kembali melalui Singkawang dan Mempawah. Seluruh rencana penerbangan menyesuaikan kondisi jarak pandang.
Novel mengatakan, penurunan jumlah titik panas secara keseluruhan belum menjadi alasan untuk menghentikan penanganan. Kenaikan titik panas di Ketapang dan kebakaran yang masih berlangsung di sejumlah daerah membutuhkan pemadaman berkelanjutan.
BPBD Kalbar berharap hujan alami maupun hasil OMC segera turun agar kebakaran dapat dikendalikan dan kabut asap berkurang. Dengan demikian, kesehatan masyarakat terlindungi dan aktivitas sehari-hari, termasuk kegiatan belajar anak-anak, dapat kembali normal. (bar)
Editor : Aristono Edi Kiswantoro