KEMARIN, 9 April, 76 tahun yang lalu, Presiden Soekarno mengeluarkan Penetapan Pemerintah Nomor: 6/SD/1946 yang berisi pembentukan Tentara Republik Indonesia Angkatan Udara (TNI-AU), dan menetapkan Komodor Udara Soerjadi Soerjadarma sebagai Kepala Staf Angkatan Udara pertama. Tanggal tersebut kemudian diperingati sebagai Hari Angkatan Udara.
Perjalanan TNI-AU untuk menjadi sebuah angkatan perang diwarnai berbagai peristiwa bersejarah. Menurut situs tni-au.mil.id, diawali ketika Panitia Persiapan Kemerdekaan Indonesia membentuk tiga wadah perjuangan, yaitu Komite Nasional Indonesia (KNI), Partai Nasional Indonesisa (PNI), dan Badan Keamanan Rakyat (BKR), 23 Agustus 1945. BKR adalah badan yang bertugas untuk menjamin ketenteraman umum dan merupakan bagian dari Badan Penolong Keluarga Korban Perang (BPKKP). Dengan terbentuknya BKR, Presiden mengamanatkan kepada seluruh rakyat Indonesia agar tetap tenang, memegang teguh disiplin, dan siap sedia berjuang untuk Indonesia merdeka. Kepada semua pejuang mantan prajurit PETA, HEIHO, Pelaut, dan pemuda-pemuda diperintahkan Presiden untuk sementara waktu bergabung dan bekerja dalam BKR. Kemudian berdirilah BKR Udara di daerah-daerah yang memiliki pangkalan udara atau pemusatan unsur-unsur penerbangan.
Pada 5 Oktober 1945, BKR ditingkatkan menjadi Tentara Keamanan Rakyat (TKR), sehingga BKR Udara pun otomatis menjadi TKR Udara yang dikenal dengan TKR Djawatan Penerbangan. Pada 12 November 1945 di Yogjakarta dilaksanakan Konferensi TKR dan peserta konferensi bersepakat untuk secepatnya dapat mengembangkan kekuatan udara Indonesia. Sebagai realisasinya, pada 12 Desember 1945, Markas Tertinggi TKR mengeluarkan pengumuman yang ditandatangani Kepala Staf Umum Letnan Jenderal Oerip Soemohardjo yang menyatakan pembentukan Bagian Penerbangan pada MT TKR. Kemudian mulai 10 Desember 1945, semua kekuatan bagian penerbangan di Indonesia, termasuk prajurit, pegawai pangkalan dan alat-alatnya ditempatkan di bawah Kepala Bagian Penerbangan. Kepala Bagian Penerbangan pun berkedudukan di Markas Besar Umum dan ditetapkan Soerjadi Soerjadarma sebagai Kepala TKR Bagian Penerbangan dan Sukarnen Martokusumo sebagai Wakilnya.
Pada 25 Januari 1946 TKR berubah nama menjadi Tentara Republik Indonesia (TRI), sehingga TKR Djawatan Penerbangan pun mengalami perubahan. Hal ini terbukti dengan dikeluarkannya Penetapan Pemerintah Nomor: 6/SD/1946 yang berisi tentang Pembentukan Tentara Republik Indonesia Angkatan Udara, dan menetapkan Komodor Udara Soerjadi Soerjadarma sebagai Kepala Staf Angkatan Udara pertama.
TNI-AU adalah salah satu bagian integral dari TNI yang memiliki tugas pokok sebagai penegak kedaulatan negara di wilayah udara nasional, mempertahankan keutuhan wilayah dirgantara nasional, dan penegak hukum di udara serta mengembangkan potensi nasional menjadi kekuatan pertahanan keamanan di udara. Mereka memiliki fungsi sebagai alat pertahanan keamanan negara di wilayah udara nasional. Dalam pelaksanaan tugas pokok dan fungsinya, telah dijabarkan kepada jajaran yang berada dibawah komando TNI-AU.
Pelaksanaan fungsi dan tugas pokok TNI-AU dijabarkan dalam satuan-satuan yang berada di bawah jajarannya dan salah satunya adalah Komando Operasi Angkatan Udara (Koopsau). Satuan komando ini memiliki fungsi sebagai komando kewilayahan, yang terbagi menjadi dua bagian, yakni Komando Operasi Angkatan Udara I untuk komando kewilayahan Indonesia Bagian Barat, dan Komando Operasi Angkatan Udara II untuk komando kewilayahan Indonesia Bagian Timur.
Tingkat keberhasilan pelaksanaan tugas pokok tiap-tiap satuan komando itu tergantung dari tingkat keberhasilan dari satuan-satuan kerja yang berada di bawah jajarannya. Adapun salah satu satuan/pangkalan udara yang berada di bawah tanggung jawab pembinaan Koopsau I adalah Pangkalan TNI Angkatan Udara (Lanud) Supadio Pontianak, yang memiliki tugas pokok sebagai pelaksana penegak kedaulatan udara di Kalimantan Barat pada khususnya.
Lanud Supadio dalam perjalanan sejarahnya dimulai dari Kampung Sungai Durian. Melihat dan mempertimbangkan kondisi arus lalu lintas angkutan di sekitar daerah perkampungan yang semakin padat, Pemerintah Belanda berencana untuk membuka lapangan terbang di daerah Sungai Durian. Pemerintah Belanda melakukan kesepakatan dengan Pemerintah Kerajaan Pontianak merencanakan pembangunan lapangan terbang di daerah Sungai Durian.
Pertimbangan lain membangun lapangan terbang tersebut adalah faktor strategis pertahanan yaitu untuk mempertahankan kekuasaan Pemerintah Belanda di daerah Kalimantan Barat dari pihak Jepang dan para pejuang Republik Indonesia. Namun dalam Perang Dunia II, Belanda dikalahkan oleh Pemerintah Jepang. Pada masa pendudukan Jepang rencana pembangunan Lapangan Terbang Sungai Durian dilanjutkan sampai dengan selesai. Maksud dari pembangunan lapangan tersebut adalah untuk membangun kekuatan udara Jepang di Kalimantan Barat, dengan menempatkan pesawat-pesawat tempurnya untuk menunjang berbagai kegiatan penerbangan.
Setelah Pemerintah Jepang mengalami kekalahan perang dengan pihak sekutu/NICA pada 1942, maka Indonesia kembali dijajah sekutu/NICA. Pada waktu Pemerintah Belanda kembali menjajah Indonesia, Belanda tidak ada usaha untuk membangun kembali Pangkalan Udara Sungai Durian yang sudah dalam kondisi rusak parah akibat dibom mereka. Mulai 1951 oleh Pemerintah Indonesia, mulai dibangun kembali Lapangan Terbang Sungai Durian dengan memperbaiki kondisi yang telah rusak parah karena sebagian telah berubah menjadi hutan dan sebagian lagi sudah menjadi areal pertanian/ladang.
Adapun pembangunan kembali Pangkalan Udara Sungai Durian dimulai dari pembentukan Perwakilan Singkawang I sampai menjadi Pos Penghubung. Peningkatan pembangunan Lapangan Terbang Sungai Durian, dimulai pada saat hubungan antara Pemerintah Indonesia dengan Pemerintah Malaysia terjadi konfrontasi. Pemerintah Indonesia melaksanakan persiapan operasi Dwikora dan mulai dilaksanakan gelar kekuatan pesawat terbang dan pasukan. Untuk dapat menampung semua kekuatan, maka diadakan peningkatan pembangunan Lapangan Terbang Sungai Durian dalam waktu cukup singkat.
Dalam perkembangan selanjutnya, sejarah Lapangan Terbang Sungai Durian mengalami banyak rangkaian proses perubahan, mulai dari perubahan peningkatan status atau tipe maupun perubahan penggantian nama. Adapun perubahan status/peningkatan tipe Lapangan Terbang Sungai Durian dari tipe C menjadi tipe B. Sedangkan perubahan nama Pangkalan Udara Sungai Durian berubah nama menjadi Pangkalan TNI AU Supadio berlaku sejak 1969. Dengan berubahnya status tersebut, maka diikuti dengan penempatan 1 Skadron pesawat tempur dengan kekuatan 18 pesawat Hawk Mk 109/209. Dengan adanya Skadron Udara tersebut, maka Pangkalan TNI Angkatan Udara Supadio dinyatakan sebagai pangkalan induk.
Dalam perjalanannya, untuk menunjang poros maritim dan menjaga kedaulatan wilayah di udara, Panglima TNI Jenderal TNI Gatot Nurmantyo mengeluarkan Surat Keputusan Nomor 13 Tahun 2015 untuk menaikkan Lanud Supadio menjadi Lanud tipe A. dipilihnya Lanud supadio tidak terlepas dari letaknya yang berbatasan langsung dengan perbatasan, sehingga perlu adanya penanganan ekstra untuk menjaga kedaulatan NKRI.
Melalui upacara serah terima jabatan yang dipimpin Pangkoopsau I Marsekal Muda (Marsda) TNI A. Dwi Putranto di Apron Lanud Supadio, 4 Agustus 2015, Marsekal Pertama (Marsma) TNI Tatang Harlyansyah mendapatkan tanggung jawab memimpin Lanud Supadio, menggantikan Kolonel Pnb Palito Sitorus.
Dinaikkannya Lanud Supadio menjadi tipe A tidak terlepas dari persyaratan dengan menambah satu skadron lagi. Skadron yang sudah berdiri saat ini adalah Skadron Udara 1 dengan pesawat tempur Hawk 100/200, di mana satu Skadron yang sudah ditambahkan adalah Skadron Udara 51 dengan pesawat terbang tanpa awak.
Saat ini tongkat komando Lanud Supadio dipegang Marsma TNI Deni Hasoloan Simanjuntak. Dia menggantikan Marsma TNI Palito Sitorus. Pergantian tersebut berlangsung dalam sebuah prosesi Serah Terima Jabatan (Sertijab) Komandan Lanud Supadio di Gedung Roesmin Nurjadin Makoopsau I, Jakarta Timur, 1 Desember 2020. Sertijab Danlanud Supadio yang digelar bersamaan dengan sertijab Danlanud Atang Senjaya tersebut dipimpin langsung Panglima Komando Operasi TNI Angkatan Udara I (Pangkoopsau I) Marsda TNI Tri Bowo Budi Santoso. (berbagai sumber)