Nasional Metropolis Daerah Pro Bisnis Ekonomi Olahraga Otomotif Internasional Kriminal Features Mozaik Ramadan Tekno Entertainment Event Kesehatan Kuliner Lifestyle Ragam Cahaya Iman

Halal Menjadi Haram Ketika Puasa

A'an • Selasa, 18 Maret 2025 | 15:04 WIB

Dr. Nurhadianto. M. Pd
Dr. Nurhadianto. M. Pd


Oleh: Dr. Nurhadianto. M. Pd

Ketua Pimpinan Pusat Pemuda Muhammadiyah Kalbar

 

 

PUASA sebagai salah satu ibadah yang diwajibkan dalam agama Islam, tidak sekadar menahan lapar dan haus. Lebih dari itu, puasa mengandung banyak hikmah yang menyentuh aspek spiritual, sosial, dan moral. Setiap tahun, umat Islam di seluruh dunia menyambut datangnya bulan Ramadan dengan penuh harapan dan keinginan untuk mendapatkan keberkahan serta ampunan dari Allah SWT. Namun, di balik kewajiban puasa yang telah ditetapkan, ada pertanyaan mendalam yang sering muncul: Mengapa sesuatu yang halal seperti makan, minum, dan berhubungan suami istri menjadi haram hanya karena kita sedang berpuasa?

 Baca Juga: Puasa dan Berfikir Positif

Hikmah dari Berpuasa

Berpuasa dalam bulan Ramadan membawa banyak hikmah yang tidak hanya bermanfaat bagi tubuh, tetapi juga bagi jiwa. Puasa mengajarkan kita untuk bersabar, menahan diri, dan lebih mendekatkan diri kepada Allah SWT. Ketika kita menahan lapar dan dahaga, kita diingatkan untuk merasakan penderitaan orang-orang yang kurang beruntung, yang sering kali kekurangan pangan. Hal ini mendorong timbulnya rasa empati dan solidaritas terhadap sesama.

Sebagaimana Allah berfirman dalam Al-Qur'an surah Al-Baqarah (2:183): "Wahai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu agar kamu bertakwa." Tujuan utama puasa adalah untuk mencapai ketakwaan. Puasa mengajarkan kita untuk mengekang nafsu duniawi, sehingga kita dapat lebih fokus pada kedekatan dengan Allah SWT dan memperbaiki kualitas spiritual kita.

Lebih dari itu, puasa juga mengajarkan kita untuk lebih disiplin dalam mengatur waktu dan mengelola diri. Meskipun kita menahan diri dari makanan dan minuman, puasa juga memotivasi kita untuk menjaga lisan, mata, telinga, dan perbuatan dari segala hal yang dapat mengurangi pahala puasa. Secara keseluruhan, puasa melatih kita untuk menjadi pribadi yang lebih baik, sabar, dan penuh pengertian.

 Baca Juga: Polres Mempawah Buka Puasa Bersama Santri

Mengapa Halal Menjadi Haram Ketika Puasa?

Makan, minum, dan berhubungan suami istri adalah perbuatan yang dihalalkan oleh Allah SWT dalam kondisi normal. Namun, selama bulan Ramadan, semua hal ini menjadi haram bagi mereka yang sedang berpuasa dari fajar hingga Maghrib. Puasa bukan sekadar menahan diri dari makan dan minum. Puasa adalah bentuk ibadah yang melibatkan aspek fisik dan spiritual. Dengan menahan hal-hal yang halal, kita diajak untuk menanggalkan kepentingan duniawi dan lebih fokus pada hubungan kita dengan Sang Pencipta.

Semua hal yang kita lakukan selama bulan Ramadan seharusnya diarahkan untuk mendekatkan diri kepada Allah, bukan hanya sekadar rutinitas fisik. Tindakan menahan diri dari makan, minum, dan hubungan suami istri di siang hari adalah cara untuk menundukkan nafsu dan lebih mengutamakan ketakwaan. Dengan menahan diri dari hal-hal yang pada dasarnya halal, kita menunjukkan penghormatan dan ketundukan terhadap perintah Allah SWT yang memerintahkan kita untuk berpuasa.

Hal ini juga mengingatkan kita bahwa kehidupan dunia hanyalah sementara, dan segala kenikmatan duniawi tidak boleh menghalangi kita untuk mencapai tujuan yang lebih mulia, yaitu keridhaan Allah SWT. Rasulullah bersabda: "Barang siapa yang berpuasa Ramadan dengan penuh iman dan mengharapkan pahala, maka akan diampuni dosa-dosanya yang telah lalu." (HR. Bukhari dan Muslim). Puasa adalah kesempatan bagi kita untuk memperoleh ampunan dari Allah SWT, yang hanya dapat diperoleh dengan melaksanakan ibadah dengan penuh iman dan harapan.

 Baca Juga: Ketua Fraksi PKB DPRD Kabupaten Mempawah, Apresiasi Pemberantasan Narkoba di Bulan Ramadan

Fadhilah dari Meninggalkan Perbuatan yang Dilarang oleh Allah SWT

Setiap perbuatan yang dilarang oleh Allah SWT, termasuk makan, minum, dan berhubungan suami istri saat berpuasa, bukan tanpa alasan. Allah SWT selalu mengatur hidup umat-Nya dengan penuh kebijaksanaan. Ada fadhilah atau pahala besar yang terkandung dalam menahan diri dari perbuatan yang dilarang-Nya, terutama ketika kita berpuasa. Puasa mengajarkan kita untuk meninggalkan perbuatan yang sia-sia dan fokus pada hal-hal yang lebih bermanfaat, baik bagi diri sendiri maupun orang lain.

Dengan menahan diri, kita tidak hanya mengekang nafsu, tetapi juga memperbanyak amal ibadah lainnya seperti berdoa, membaca Alquran, dan bersedekah. Semua ini memperkuat hubungan kita dengan Allah SWT dan memperbaiki akhlak serta kualitas hidup kita. Sebagaimana dalam hadis yang diriwayatkan oleh Imam Ahmad:

"Puasa adalah perisai. Jika seseorang berpuasa, maka janganlah ia berkata kotor atau berbuat jahil. Jika ada yang mengajaknya berkelahi atau mencacinya, hendaknya ia mengatakan: 'Sesungguhnya saya sedang berpuasa.'" (HR. Ahmad). Hal ini mengingatkan kita untuk menjaga diri dari perkataan dan perbuatan yang tidak baik, sehingga kita tetap menjaga kesucian ibadah puasa.

 Baca Juga: Tadarus Alquran Sambut Ramadan di Sambas

Ramadan Bulan Keberkahan

Umat Islam dianjurkan berbagi lebih banyak dengan sesama, baik dalam bentuk makanan, uang, atau bantuan lainnya. Puasa tidak hanya menuntut kita untuk menahan diri dari perbuatan-perbuatan yang bersifat duniawi, tetapi juga mengajarkan kita untuk lebih peduli terhadap orang-orang yang kurang beruntung. Puasa mengingatkan kita bahwa keberkahan dalam hidup ini tidak hanya terletak pada materi, tetapi juga pada kesediaan untuk berbagi.

Allah SWT berfirman dalam surah Al-Baqarah (2:177):"Bukanlah kebaikan itu hanya dengan menghadapkan wajahmu ke arah timur dan barat, tetapi kebaikan itu adalah siapa yang beriman kepada Allah, hari akhir, malaikat, kitab-kitab-Nya, dan nabi-nabi-Nya, serta memberikan hartanya, meskipun ia menyukai harta itu, kepada kerabatnya, anak-anak yatim, orang miskin, orang yang sedang dalam perjalanan, orang yang meminta-minta, dan untuk membebaskan hamba sahaya." Kita dingatkan tentang pentingnya berbagi dan berbuat baik kepada sesama, terutama di bulan Ramadan yang penuh berkah ini.

 Baca Juga: Gubernur Ria Norsan Ajak Umat Islam Perbanyak Baca Al-Quran di Nuzulul Quran: 'Tak Hanya Saat Ramadan

 

Ramadan sebagai Refleksi Diri

Ramadan waktu yang tepat bagi kita untuk merenung dan merefleksikan diri. Di tengah kesibukan dan hiruk-pikuk kehidupan, seringkali kita lupa untuk sejenak menilai diri. Ramadan memberikan ruang bagi kita untuk menilai sejauh mana kita telah mengikuti petunjuk Allah SWT dalam kehidupan kita. Apakah kita sudah menjalankan kewajiban agama dengan baik? Apakah kita sudah bersikap baik terhadap sesama? Apa yang perlu diperbaiki dalam diri kita?

Sebagaimana yang disampaikan dalam Surah Al-Hashr (59:18): "Wahai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah dan hendaklah setiap jiwa memperhatikan apa yang telah diperbuatnya untuk hari esok (akhirat), dan bertakwalah kepada Allah. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan." Kita sebagai hamba untuk selalu merenung dan memperhatikan amal perbuatan kita, serta mempersiapkan bekal terbaik untuk kehidupan setelah mati.

Baca Juga: Kapolsek Monterado Ajak Jamaah Perkuat Iman dan Jaga Kamtibmas dalam Kultum Ramadan

Bulan Ramadan adalah bulan yang penuh berkah, yang mengajarkan kita untuk menahan diri dari perbuatan yang dapat mengurangi kualitas puasa, dan lebih mendekatkan diri kepada Allah SWT. Meskipun sesuatu yang halal menjadi haram ketika kita berpuasa, hal ini memiliki hikmah dan fadhilah yang mendalam, baik bagi tubuh maupun jiwa. Ramadan juga menjadi momentum untuk berbagi dengan sesama, meningkatkan rasa kepedulian, dan melakukan refleksi diri untuk menjadi pribadi yang lebih baik.

Editor : A'an
#halal #Hikmah #Keberkahan #puasa #Refleksi Diri #ramadan #haram