Nasional Metropolis Daerah Pro Bisnis Ekonomi Olahraga Otomotif Internasional Kriminal Features Mozaik Ramadan Tekno Entertainment Event Kesehatan Kuliner Lifestyle Ragam Cahaya Iman

Memaafkan di Hari Raya: Bukan Sekadar Tradisi, Tapi Revolusi Hati

A'an • Jumat, 28 Maret 2025 | 12:55 WIB
Prof. Dr. H. Thamrin Usman, DEA
Prof. Dr. H. Thamrin Usman, DEA

Oleh: Prof. Dr. H. Thamrin Usman, DEA*

 

Seorang guru sufi menuangkan kopi panas ke dalam dua gelas. Gelas pertama ia biarkan terbuka, sementara gelas kedua ia tutup rapat. "Lihat," katanya, "gelas yang terbuka itu seperti hati yang memaafkan—uap panasnya menguap, dan kopinya tetap nikmat diminum. Sedangkan gelas tertutup? Tekanan panasnya bisa membuatnya pecah."

Idulfitri adalah momen membuka "tutup" hati. Bukan sekadar melepas aroma kebahagiaan, tetapi agar jiwa tidak retak oleh dendam yang terpendam. Memaafkan bukan hanya tradisi tahunan, tetapi juga revolusi hati yang mengubah jiwa menjadi lebih lapang.

 

Pardon ala Prancis vs. Halal bihalal di Nusantara

Di Paris, kata “pardon” terdengar di setiap sudut metro, menjadi refleks budaya yang menjaga harmoni sosial. Di Nusantara, kita memiliki tradisi “halal bihalal”, di mana silaturahmi diperbarui dengan maaf dan ketupat. Namun, perbedaannya jelas:

Bayangkan kekuatan sebuah bangsa yang menjadikan memaafkan sebagai ritual harian, bukan hanya seremonial tahunan.

 Baca Juga: Tol Ibu Kota Nusantara untuk Mudik Kaltim-Kalsel Hanya Beroperasi 13 Jam Karena Minim Penerangan

Memaafkan: Senjata Rahasia Umat Islam

Allah SWT tidak pernah setengah-setengah dalam perintah memaafkan:

Rasulullah SAW telah mencontohkannya dalam peristiwa Fathu Makkah. Beliau bertanya kepada para pembesar Quraisy yang dulu memusuhinya, "Apa yang kalian kira akan aku lakukan kepada kalian hari ini?" Mereka menjawab, "Engkau pasti memaafkan, karena kami mengenal akhlakmu."

Rasulullah SAW pun berkata, "Pergilah, kalian bebas." Ini bukan kelemahan, tetapi kekuatan terbesar seorang pemimpin. Memaafkan adalah manifestasi dari jiwa yang kuat dan berkelas.

 

Baca Juga: Rupiah Melemah: BI Pastikan Kondisi Saat Ini Berbeda dari Krisis 1998

Mengapa Kita Sulit Memaafkan?

Sains modern mengungkapkan bahwa otak kita dirancang untuk mengingat luka tiga kali lebih kuat daripada kebahagiaan, sebagai bentuk mekanisme pertahanan diri. Selain itu, menyimpan dendam memicu pelepasan hormon stres yang merusak kesehatan.

Islam telah mengetahui ini sejak 14 abad lalu: "Orang yang paling kuat bukanlah yang menang dalam perkelahian, tetapi yang mampu mengendalikan amarahnya." (HR. Bukhari)

 

Tantangan Syawal: Memaafkan dengan Kreatif

Memaafkan bukan hanya sekadar formalitas ucapan, tetapi bisa dilakukan dengan cara kreatif:

Memaafkan itu seperti melepas balon ke udara—kita tak tahu ke mana ia pergi, tetapi pasti membuat langit tampak lebih cerah.

 Baca Juga: Waspadai Perluasan Peran TNI Melalui MK

Idulfitri sebagai Tahun Baru Hati

Orang Jepang memiliki tradisi Osoji, yaitu bersih-bersih total sebelum tahun baru. Dalam Islam, kita memiliki tazkiyatun nafs, membersihkan qalbu dari iri dan dengki, mereset hubungan dengan maaf, serta meningkatkan kualitas iman dengan awal yang baru.

Selamat Idulfitri 1446 hijriah. Mohon maaf lahir batin, bukan hanya untuk kesalahan yang disengaja, tetapi juga untuk kebaikan yang tak sempat terkirim. “Taqabbalallahu minna wa minkum.”

*Penulis adalah Guru Besar Kimia Agroindustri Universitas Tanjungpura,

Ketua Dewan Penasehat ICMI Orwil Kalbar,

Ketua DPW Hebitren Kalbar

Editor : A'an
#Idulfitri #syawal #hari raya #halal bihalal #memaafkan