PONTIANAK POST - Puasa dalam Islam memiliki ketentuan waktu yang jelas sebagaimana disebutkan dalam Al-Qur’an. Ketetapan tersebut termaktub dalam Surat Al-Baqarah ayat 187, yang menjelaskan bahwa puasa dimulai sejak terbit fajar hingga terbenamnya matahari.
Melansir NU Online, dalam ayat yang sama, Allah SWT juga menegaskan bahwa pada malam hari, umat Islam diperbolehkan makan, minum, serta berhubungan suami-istri.
“Kamu dibolehkan bergaul dengan istrimu pada malam puasa. Mereka adalah pakaianmu sebagaimana kamu adalah pakaian mereka…” (QS. Al-Baqarah: 187).
Penetapan puasa di siang hari bukan tanpa alasan. Syariat ini berkaitan erat dengan kondisi manusia yang umumnya berada dalam keadaan terjaga dan aktif pada siang hari. Di tengah aktivitas, kesibukan, serta berbagai godaan itulah ibadah puasa dijalankan.
Puasa yang dilaksanakan dalam kondisi sadar dan aktif dinilai lebih bermakna serta mengandung tantangan yang lebih besar dibandingkan puasa yang dihabiskan dengan tidur sepanjang hari. Tantangan tersebut justru menjadi bagian dari nilai ibadah itu sendiri.
Hal ini dijelaskan dalam sebuah hadis yang menyebutkan bahwa amal ibadah yang paling utama adalah yang paling berat atau paling besar tingkat kesulitannya (masyaqqah).
Dalam kitab Fatawa Syar’iyyah Mu’ashirah, Muhammad Ibrahim Al-Hafnawi menjelaskan bahwa puasa disyariatkan di siang hari karena pada waktu itulah manusia menjalani aktivitas dan menghadapi berbagai ujian diri.
“Allah tidak memerintahkan ibadah puasa di malam hari karena malam adalah waktu tenang, bercengkerama bersama keluarga, dan waktu istirahat bagi anggota tubuh. Karena tidak adanya tingkat kesulitan yang dimaksud, maka puasa tidak disyariatkan di malam hari,” tulis Al-Hafnawi (Darul Hadits, Kairo, cetakan ketiga, 2012 M/1433 H, halaman 268).
Penjelasan ini memberikan gambaran bahwa tingkat kesulitan dalam menjalankan puasa di siang hari justru menjadi sarana bagi seorang hamba untuk meraih ganjaran yang lebih besar di sisi Allah SWT.
Oleh karena itu, umat Islam diingatkan untuk waspada terhadap berbagai godaan dan rintangan yang dapat mengurangi nilai puasa.
Salah satu hal yang perlu diperhatikan adalah kebiasaan tidur berlebihan di siang hari, terutama bagi mereka yang memiliki aktivitas harian.
Menjaga kualitas puasa dengan tetap produktif, menahan diri, serta meningkatkan ibadah menjadi bagian penting agar puasa tidak sekadar menahan lapar dan dahaga, tetapi juga bernilai spiritual secara utuh. (*)
Editor : Miftahul Khair