Nasional Metropolis Daerah Pro Bisnis Ekonomi Olahraga Otomotif Internasional Kriminal Features Mozaik Ramadan Tekno Entertainment Event Kesehatan Kuliner Lifestyle Ragam Cahaya Iman

Hukum Puasa Tapi Waktu Habis untuk Tidur, Ini Peringatan Sayyid Abdullah Al-Haddad

Khoiril Arif Ya'qob • Kamis, 19 Februari 2026 | 14:00 WIB
Ilustrasi tidur sewaktu melakukan puasa ramadan.
Ilustrasi tidur sewaktu melakukan puasa ramadan.

PONTIANAK POST - Fenomena tidur berlebihan di siang hari selama bulan Ramadan kerap dianggap wajar. Alasannya beragam, mulai dari begadang hingga alasan menghemat tenaga saat berpuasa.

Namun, para ulama mengingatkan bahwa kebiasaan tersebut bisa membuat Ramadan berlalu tanpa makna spiritual yang seharusnya.

Ulama besar asal Yaman, Sayyid Abdullah Al-Haddad, secara tegas mengingatkan agar umat Islam tidak terlalu disibukkan oleh urusan dunia termasuk kesibukan semu yang membuat waktu habis tanpa ibadah selama Ramadan.

Dalam kitab Nashaihud Diniyah, ia menekankan pentingnya mengosongkan diri untuk mendekat kepada Allah SWT.

Di antara adab yang dianjurkan adalah tidak terlalu sibuk dengan urusan dunia di bulan Ramadhan, tetapi sebaiknya mengosongkan diri untuk beribadah kepada Allah dan banyak mengingat-Nya sebisa mungkin. Janganlah terlibat dalam pekerjaan duniawi kecuali jika itu benar-benar diperlukan bagi dirinya sendiri atau bagi orang-orang yang menjadi tanggungannya,” tulis Sayyid Abdullah Al-Haddad, Beirut, Darul Kutub Ilmiyah: 2015, halaman 173.

Tidur memang kebutuhan jasmani. Namun ketika sebagian besar waktu Ramadan justru dihabiskan untuk tidur, terutama tanpa kebutuhan mendesak maka seseorang berisiko kehilangan esensi puasa.

Tubuhnya berpuasa, tetapi jiwanya tidak hadir. Waktu yang semestinya diisi dengan tilawah Al-Qur’an, dzikir, doa, dan refleksi diri justru berlalu tanpa bekas.

Kondisi inilah yang oleh para ulama disebut sebagai puasa yang kosong. Secara lahiriah seseorang menahan lapar dan dahaga, tetapi secara batin tidak mendapatkan apa-apa. Peringatan keras tentang hal ini telah disampaikan oleh Baginda Nabi Muhammad dalam hadis:

Betapa banyak orang yang berpuasa namun dia tidak mendapatkan sesuatu dari puasanya kecuali rasa lapar dan dahaga,” (HR An-Nasa’i).

Hadis tersebut menegaskan bahwa nilai puasa tidak terletak pada menahan makan dan minum semata, melainkan pada bagaimana seseorang menjaga waktunya, hatinya, dan kesadarannya selama Ramadan.

Tidur berlebihan, seperti halnya kesibukan duniawi yang tidak perlu, dapat menjauhkan seseorang dari tujuan utama puasa.

Pesan Sayyid Abdullah Al-Haddad menjadi pengingat penting bahwa Ramadan bukan bulan untuk mengosongkan hari dengan tidur, melainkan mengosongkan hati dari hal-hal yang melalaikan.

Tidur secukupnya adalah kebutuhan, tetapi Ramadan adalah kesempatan langka untuk menghidupkan malam dan siang dengan ibadah, agar puasa tidak berakhir sebagai sekadar lapar dan dahaga, melainkan benar-benar menjadi jalan mendekat kepada Allah SWT. (*)

Editor : Miftahul Khair
#Hukum #tidur #nasihat ulama #Ramadan 2026 #hadis nabi