Nasional Metropolis Daerah Pro Bisnis Ekonomi Olahraga Otomotif Internasional Kriminal Features Mozaik Ramadan Tekno Entertainment Event Kesehatan Kuliner Lifestyle Ragam Cahaya Iman

Puasa Medsos di Bulan Ramadan, Gus Nadirsyah Hosen Ajak Kendalikan Diri dari Algoritma

Khoiril Arif Ya'qob • Sabtu, 21 Februari 2026 | 13:08 WIB

Ilustrasi puasa dari medsos.
Ilustrasi puasa dari medsos.

PONTIANAK POST - Ramadan kerap dimaknai sebagai momentum menahan lapar dan haus. Namun, menurut Nadirsyah Hosen, esensi puasa jauh melampaui urusan perut.

Dalam sebuah unggahan di Instagram (20/2), pria yang akrab disapa Gus Nadir itu mengajak publik merenungkan kemungkinan menjalani puasa dari media sosial di tengah dunia digital yang kian bising.

Ia menggambarkan ruang digital sebagai sesuatu yang terasa intim sekaligus melelahkan. Algoritma media sosial, kata dia, bekerja seolah mengenali selera, luka, hingga ego penggunanya.

Validasi kecil yang terus diberikan membuat orang kecanduan, hingga aktivitas menggulir layar menjadi refleks harian.

“Jempol kadang lebih disiplin daripada zikir,” tulisnya.

Ramadan sebagai Hard Reset dan Puasa Dopamin

Menurut Gus Nadir, kelelahan terbesar manusia modern sering kali bukan berasal dari pekerjaan, melainkan dari dorongan untuk selalu terlihat produktif, stabil, dan bahagia. Padahal, realitas hidup tidak selalu rapi dan estetik seperti yang ditampilkan di linimasa.

Dalam konteks itu, Ramadan hadir layaknya hard reset. Puasa tidak hanya dimaknai sebagai berhenti makan dan minum, tetapi juga berhenti bersikap reaktif.

Berhenti mudah tersinggung oleh komentar, berhenti membandingkan diri dengan pencapaian orang lain, dan berhenti terjebak dalam overthinking. Ia menyebutnya sebagai puasa dopamin.

Gus Nadir kemudian mengaitkan refleksinya dengan pemikiran klasik ulama. Ia mengutip Iḥya’ ‘Ulum al-Din, khususnya bagian Kitab Asrar al-Ṣawm.

Dalam kitab tersebut Imam al-Ghazali menjelaskan bahwa tingkatan puasa tertinggi adalah ketika mata, telinga, dan hati ikut berpuasa dari hal-hal yang tidak perlu. Puasa, dengan demikian, adalah latihan mengendalikan distraksi yang perlahan menggerogoti jiwa.

Ramadan Saatnya Menyaring Konten dan Niat

Ia juga menyinggung pemikiran Ibn al-Qayyim dalam Madarij al-Salikin, yang mengibaratkan hati sebagai bejana. Jika bejana itu penuh dengan selain Allah, maka tak ada ruang tersisa bagi cahaya.

“Kita sering merasa kosong, padahal bukan karena kurang konten, tapi karena terlalu penuh,” tulisnya.

Dari refleksi itu, Gus Nadir menawarkan latihan sederhana namun relevan di bulan Ramadan. Sebelum memposting sesuatu, tanyakan niat.

Sebelum membagikan, cek manfaat. Sebelum bereaksi, tarik napas. Jika sebuah respons tidak menambah makna, lebih baik dilepaskan begitu saja.

Saatnya Lepas dari Branding Diri dan Kendalikan Algoritma

Ia menegaskan bahwa latihan ini bukan soal menjadi pasif, melainkan belajar merasa cukup dan kembali menjadi manusia, bukan sekadar konten.

Puasa, menurutnya, adalah detoks eksistensial yang mengingatkan bahwa manusia bukanlah branding pribadi, angka keterlibatan, atau rangkaian sorotan hidup semu.

Menutup refleksinya, Gus Nadir menyarankan langkah kecil namun bermakna: mematikan notifikasi, kecuali dari orang-orang terkasih.

Bukan untuk memutus hubungan dengan dunia digital, melainkan sebagai cara mengatakan pada diri sendiri bahwa kendali atas jiwa dan diri tetap berada di tangan manusia, bukan di tangan algoritma. (*)

Editor : Miftahul Khair
#Hard reset #Algoritma #dopamin digital #Gus Nadir #puasa media sosial #Ramadan 2026