PONTIANAK POST - Puasa Ramadan tidak hanya memiliki nilai ibadah, tetapi juga menyimpan manfaat kesehatan yang kuat secara ilmiah.
Hal ini dijelaskan oleh Adam Prabata melalui tulisannya di platform X yang mengulas hubungan antara puasa Ramadan dan autofagi.
“Secara biologis, autofagi adalah mekanisme seluler di mana tubuh melakukan degradasi dan daur ulang komponen sel yang rusak atau tidak berfungsi,” tulis dr Adam.
Ia menegaskan bahwa proses ini sangat krusial dalam pencegahan berbagai penyakit degeneratif, termasuk kanker dan gangguan metabolik.
Lebih lanjut, dr Adam mengutip hasil penelitian terbaru tahun 2025 yang dipublikasikan dalam jurnal Clinical Nutrition ESPEN.
Dalam penelitian tersebut ditemukan bahwa puasa Ramadan meningkatkan ekspresi gen autofagi seperti LAMP2 dan ATG4D hingga empat kali lipat.
Tidak hanya berdampak pada pembersihan sel, efek puasa juga terlihat secara klinis.
“Data klinis mencatat perbaikan signifikan pada parameter kesehatan,” tulisnya,
Dta klinis tersebut meliputi penurunan berat badan dan Indeks Massa Tubuh (IMT), penurunan lingkar pinggang, dan serta penurunan persentase lemak tubuh.
Temuan ini memperkuat kesimpulan bahwa puasa memberikan manfaat nyata bagi kesehatan metabolik.
“Puasa ternyata bukan hanya bermanfaat sebagai ibadah spiritual, melainkan bermanfaat juga bagi kesehatan kita.”
Dengan dasar ilmiah yang semakin kuat, puasa Ramadan dapat dipandang sebagai praktik ibadah yang selaras dengan kebutuhan biologis tubuh, membersihkan sel, memperbaiki metabolisme, dan menjaga kesehatan jangka panjang. (*)
Editor : Miftahul Khair