Nasional Metropolis Daerah Pro Bisnis Ekonomi Olahraga Otomotif Internasional Kriminal Features Mozaik Ramadan Tekno Entertainment Event Kesehatan Kuliner Lifestyle Ragam Cahaya Iman

Aku Memulai Madrasah Puasaku

Miftahul Khair • Senin, 2 Maret 2026 | 11:43 WIB

Eka Hendry Ar.
Eka Hendry Ar.

ALHAMDULILLAH, dari lubuk hati terdalam dipanjatkan syukur kepada Allah SWT karena masih dipertemukan kembali dengan bulan suci Ramadan tahun ini. Beberapa saudara, kerabat, dan sahabat tidak lagi mendapatkan kesempatan tersebut karena telah ditakdirkan menghadap Sang Pencipta.

Sebagai manifestasi dari karunia ini, dari lubuk hati yang terdalam pula aku menanamkan komitmen untuk menjadikan puasa kali ini sebagai ikhtiar terbaikku untuk-Nya. Sekiranya ini menjadi puasa terakhirku, maka inilah barangkali persembahanku yang terakhir. Meskipun aku yakin, sebaik apa pun ikhtiarku, puasaku tetap akan terasa “compang-camping”.

Namun husnuzanku, Allah tidak melihat “compang-camping” puasa kita. Ia lebih memandang komitmen tulus dalam hati dan seberapa besar proses mujahadah terbaik yang kita lakukan. Puasa adalah ibadah yang paling personal sekaligus paling rahasia. Ia juga termasuk ibadah yang sulit. Sebagai ibadah yang sangat personal, kemurnian puasa hanya diketahui oleh diri kita sendiri dan Tuhan. Mata manusia bisa kita kelabui, tetapi tidak dengan penglihatan-Nya. Puasa menyimpan rahasia antara hamba dan Tuhannya.

Seperti ibadah lainnya, puasa mempertemukan dua fakultas dalam satu napas: jasmani dan ruhani. Ia merupakan peribadatan lahiriah sekaligus batiniah. Menahan makan dan minum, hubungan biologis, serta mengendalikan hawa nafsu, emosi, dan ambisi.

Menahan makan dan minum saja sudah tidak mudah, apalagi menahan dorongan hasrat biologis, terlebih dalam fasilitas yang halal (suami istri). Tidak sedikit saudara Muslim yang tidak mampu menjalankan puasa karena tidak kuat meninggalkan kebiasaan sehari-hari tersebut. Katakanlah kita mampu menahan makan dan minum, maka tugas berikutnya yang lebih berat adalah mengendalikan hawa nafsu, emosi, dan ambisi.

Mempuasakan lisan agar tidak berkata buruk, mata agar tidak melihat yang dilarang agama, telinga agar tidak mendengar hal yang sia-sia dan berdosa, tangan agar tidak berbuat tercela, serta kaki agar tidak melangkah ke arah maksiat.

Jika indera-indera tersebut berhasil dijaga, maka tugas berikutnya yang lebih sulit adalah mengendalikan hati dan pikiran. Pikiran dan hati merupakan fakultas dalam diri manusia yang paling sukar dikendalikan karena memiliki kebebasan yang sangat besar. Jasmani boleh terbatas dan terkurung dalam “penjara” lahiriah, tetapi tidak dengan pikiran dan hati. Mata terbatas pada objek yang terlihat, sementara pikiran dapat menembus batas ruang dan waktu. Imajinasi manusia bisa melesat ke semesta.

Apakah puasa juga harus mengendalikan pikiran? Jelas, puasa berarti pula mengendalikan pikiran. Pikiran adalah tempat lahirnya gagasan besar untuk kemajuan, tetapi di tempat yang sama pula tumbuh keinginan untuk merusak. Hitler dengan ide gilanya tentang Nazisme lahir dari pikiran yang buruk, jahat, dan cenderung merusak (fasad).

Keinginan mengambil sesuatu yang bukan hak kita—seperti mencuri, menipu, korupsi, mendominasi, dan menghegemoni—berawal dari kehendak dan ide yang dibangun dalam pikiran. Pikiran mampu menjustifikasi keburukan dengan argumen pembenar sehingga mendorong manusia melakukan kejahatan. Banalitas kejahatan bermula dari pikiran yang dikendalikan dan dibuat monolitik untuk melegitimasi kepentingan pribadi.

Oleh karena itu, puasa Ramadan menjadi madrasah atau kampus untuk mengendalikan alam pikiran agar tidak menjadi berhala dalam diri manusia.

Demikian pula dorongan dalam dada (hati). Hati adalah tempat tumbuhnya kasih sayang dan cinta, tetapi juga tempat lahirnya amarah, kebencian, dendam, iri, dengki, dan ambisi. Nabi memberi perumpamaan: jika segumpal daging (qalb) ini rusak, maka rusaklah seluruh tubuh manusia; sebaliknya, jika ia baik, maka baiklah seluruh tubuh manusia.

Melalui puasa Ramadan, kita diwajibkan berupaya membersihkan, mengendalikan, dan memadamkan penyakit-penyakit hati: amarah, kebencian, iri, dengki, dan dendam. Puasa juga melatih kita mengendalikan ambisi yang sering berperilaku seperti kuda euforia yang lepas dari kandang.

Dalam pikiran dan hati manusia tumbuh berbagai ambisi: ambisi kekuasaan, harta benda, dan ketenaran. Ambisi bukan sekadar cita-cita atau keinginan, tetapi dorongan syahwat yang besar dan dahsyat, sekaligus memiliki daya hancur bagi diri sendiri maupun orang lain. Karena itu, ia harus dikendalikan dengan sungguh-sungguh.

Demikianlah madrasah puasa kita lalui, bertahap dari level yang “sulit”, menuju yang “lebih sulit”, hingga “tersulit”. Meskipun sulit, hal itu bukan mustahil dicapai, tentu dengan kerendahan hati serta pertolongan dan rida Allah SWT.

Mengapa manusia beriman mampu memikul tugas berat ini? Karena ada energi keimanan, pengharapan, dan keyakinan bahwa rida Allah harus diperjuangkan melalui kerja keras (mujahadah). Kaum beriman meyakini Allah memfasilitasi makhluk-Nya untuk mencapai kemuliaan di sisi-Nya. Puasa itu istimewa, “ia untuk-Ku,” kata Allah. Karena tugasnya berat, ganjarannya pun sepadan, yaitu keridaan Allah. Keridaan merupakan maqam tertinggi pengharapan makhluk kepada Khaliknya.

Semoga kita tidak pernah berputus asa untuk terus berproses dari Ramadan ke Ramadan, guna menggapai janji-Nya sebagai hamba yang bertakwa. Wallahu a‘lam bi al-shawab. (**)

*) Penulis adalah Dosen IAIN Pontianak

Editor : Miftahul Khair
#puasa #Mutiara Ramadan #madrasah #Ramadan 2026