Nasional Metropolis Daerah Pro Bisnis Ekonomi Olahraga Otomotif Internasional Kriminal Features Mozaik Ramadan Tekno Entertainment Event Kesehatan Kuliner Lifestyle Ragam Cahaya Iman

Belajar dari Budaya Melayu Pontianak

Miftahul Khair • Selasa, 3 Maret 2026 | 12:41 WIB

Ria Hayatunnur Taqwa.
Ria Hayatunnur Taqwa.

BULAN Ramadan selalu menghadirkan suasana yang berbeda. Udara terasa lebih teduh, masjid lebih ramai, dan sapaan antarsesama terasa lebih hangat. Di tanah Melayu, khususnya di Pontianak, Ramadan bukan hanya tentang ibadah pribadi, tetapi juga tentang kebersamaan yang hidup dalam tradisi. Di tengah masyarakat Melayu Pontianak, Ramadan bukan sekadar menahan lapar dan dahaga. Ia menjadi momen untuk menyambung yang renggang, mendekatkan yang jauh, dan melembutkan yang keras.

Bayangkan suasana di sekitar Masjid Jami’ Sultan Syarif Abdurrahman Pontianak saat menjelang berbuka. Anak-anak berlarian kecil, orang tua duduk bersila menunggu azan, sementara pedagang menjajakan kue tradisional seperti bingke, ketupat pedas, korket, caikwe, jorong-jorong, blodar, dan aneka kue khas Pontianak lainnya. Harganya masih terjangkau karena diproduksi oleh masyarakat setempat dan dibeli oleh masyarakat setempat pula.

Di situ kita belajar satu hal sederhana: Ramadan menyatukan. Orang-orang yang biasanya sibuk dengan urusan masing-masing, di bulan ini dapat duduk satu saf, satu dulang, dan satu rasa. Tanpa memandang latar belakang sosial, semua sama-sama menunggu waktu berbuka dengan hati penuh harap.

Silaturrahmi dan Sedekah

Dalam budaya Melayu, menjaga hubungan bukanlah teori, melainkan praktik hidup. Ada ungkapan yang sering kita dengar: “Jangan putus tali silaturrahmi, nanti rezeki pun jauh.” Ramadan membuat tradisi itu semakin terasa.

Keluarga yang lama tidak bertemu saling mengundang untuk berbuka. Tetangga saling mengantar lauk—walau hanya sepiring kecil sayur atau kue, maknanya sangat besar. Anak-anak muda yang jarang ke masjid tiba-tiba rajin tarawih berjamaah.

Di kampung, kompleks, dan gang-gang di Kota Pontianak, komunikasi sering terjadi di beranda rumah. Duduk santai selepas tarawih sambil merakit Meriam Karbit di pinggiran Sungai Kapuas, berbincang ringan, kadang diselingi gurauan khas Melayu yang halus tetapi penuh makna. Itulah komunikasi yang hidup: tidak formal, tetapi penuh rasa hormat.

Orang Melayu dikenal dengan tutur kata yang santun, dan Ramadan melatih hal ini lebih dalam lagi. Jika biasanya mudah tersinggung, di bulan ini kita belajar menahan diri. Jika biasanya cepat membalas komentar di media sosial, kini menjadi lebih berhati-hati.

Misalnya, ketika terjadi perbedaan pandangan di grup WhatsApp keluarga yang biasanya bisa memanas, di bulan Ramadan orang cenderung berkata, “Sudahlah, kite ni pause, jangan sampai rosak pahale.” Kalimat sederhana ini menunjukkan bahwa Ramadan menjadi rem sosial yang mengajarkan kontrol diri dalam berkomunikasi.

Di Pontianak dan sekitarnya, tradisi berbagi makanan sangat kuat. Ada yang memasak lebih untuk dibagikan kepada tetangga. Ada yang menyiapkan takjil di masjid. Ada pula yang diam-diam menitipkan sedekah untuk keluarga yang membutuhkan.

Ini bukan sekadar ritual, melainkan komunikasi tanpa banyak kata. Kadang tidak perlu pidato panjang tentang kepedulian. Cukup sebungkus nasi hangat yang diantar menjelang magrib, itu sudah menjadi bahasa kasih yang paling jujur.

 

Latihan untuk Sebelas Bulan

Pertanyaan yang sering muncul adalah: apakah semua ini berhenti setelah Ramadan? Sesungguhnya Ramadan adalah masa pelatihan. Selama 30 hari kita dilatih menahan emosi, menjaga lisan, rajin bersedekah, rajin ke masjid, rajin menyapa, dan mempererat hubungan.

Seharusnya, setelah Ramadan selesai, nilai-nilai itu tetap berjalan. Jika selama Ramadan kita rajin saling mengantar makanan, maka setelahnya minimal kita rajin menyapa tetangga. Jika selama Ramadan kita menjaga tutur kata, maka di luar Ramadan pun kita tetap berhati-hati dalam berbicara. Jika selama Ramadan kita ringan membantu, maka di bulan lain pun kita tidak berat ketika diminta tolong.

Dalam budaya Melayu Pontianak, orang yang konsisten menjaga sikap disebut sebagai orang yang “berbudi.” Budi pekerti itu tidak musiman, melainkan berkesinambungan. Hal ini sejalan dengan empat pilar sifat Rasulullah yang wajib diteladani umat, yaitu Siddiq, Amanah, Tabligh, dan Fathanah. Keempat pilar tersebut seharusnya menghiasi setiap perilaku umat Muslim dalam proses komunikasi.

Apalagi masyarakat Melayu memiliki semboyan Adat Bersendi Syara’, Syara’ Bersendi Kitabullah. Segala yang dilakukan berlandaskan adat yang berpedomankan Al-Qur’an dan hadis.

Membumi dan Membahagiakan

Ramadan mengajarkan bahwa komunikasi bukan hanya soal berbicara, tetapi tentang menghadirkan hati. Dalam budaya Melayu Pontianak, komunikasi yang baik tidak meninggikan suara, tidak mempermalukan orang di depan umum, menghormati yang tua, dan menyayangi yang muda.

Jika nilai-nilai ini terus dijaga setelah Ramadan, masyarakat akan lebih damai. Jika terjadi konflik, dapat diselesaikan dengan musyawarah, bukan amarah.

Ramadan bukan sekadar bulan ibadah, melainkan bulan pendidikan karakter. Ia adalah latihan sosial dan spiritual untuk satu tahun ke depan. Di bumi Melayu Pontianak, kita sudah memiliki modal budaya yang kuat: sopan santun, kebersamaan, dan tradisi berbagi. Ramadan datang setiap tahun untuk menguatkan semuanya.

Semoga selepas Ramadan, kita bukan hanya kembali makan seperti biasa, tetapi juga tetap menjaga lisan, merawat silaturrahmi, dan menghadirkan komunikasi yang lembut dalam kehidupan sehari-hari, dengan harapan menjadi mukmin yang kaffah.

Pada akhirnya, yang membuat masyarakat kokoh bukan hanya bangunan dan jalan raya, melainkan hati yang terhubung dan kata-kata yang menyejukkan. Semoga kita semua, khususnya warga Kota Pontianak dan umat Muslim pada umumnya, dapat mengamalkannya secara terus-menerus demi mengharap rida Allah. Barakallah. (**)

 

*) Penulis adalah Wakil Ketua MW KAHMI Kalbar, Wakil Ketua Majelis Perempuan Melayu Kalbar, Dosen Prodi KPI IAIN Pontianak

Editor : Miftahul Khair
#budaya Melayu Pontianak #Mutiara Ramadan #Silaturahmi #sedekah