Oleh : Rosadi Jamani*
Di negeri yang katanya religius ini, korupsi tumbuh seperti rumput liar setelah hujan. Dicabut satu, besok tumbuh sepuluh. Ditangkap satu pejabat, besok menyusul yang lain. Rasanya seperti menonton serial panjang yang episodenya tidak pernah tamat. Bedanya dengan drama Korea, yang membuat orang menangis bukan adegannya, melainkan jumlah uang yang hilang.
Hampir setiap hari ada kabar: pejabat ditangkap, pengusaha diborgol, aparat hukum terseret. KPK bekerja lembur, kejaksaan bekerja lembur, polisi bekerja lembur. Koruptor juga lembur, tentu saja. Mereka tidak mengenal tanggal merah dan cuti bersama. Jika ada lomba produktivitas, mungkin mereka sudah meraih piala bergilir.
Korupsi di Indonesia seolah telah menjadi budaya yang terlalu nyaman. Saking seringnya terjadi, rasanya tinggal selangkah lagi didaftarkan ke UNESCO sebagai warisan budaya tak benda. Bayangkan jika itu benar-benar terjadi. Di brosur pariwisata tertulis: “Selamat datang di negeri dengan ribuan pulau, jutaan senyuman, dan korupsi yang berakar turun-temurun.” Local wisdom, katanya.
Yang lucu—atau sebenarnya tragis—setiap kali ada pejabat ditangkap, ekspresinya hampir selalu sama: kaget. Seolah-olah baru mengetahui bahwa mengambil uang rakyat itu tidak dibenarkan. Ada yang pura-pura sakit. Ada yang mendadak rajin berdoa. Ada pula yang tiba-tiba menjadi ahli hukum, menjelaskan panjang lebar bahwa dirinya hanyalah korban keadaan.
Padahal uang yang diambil itu bukan uang yang jatuh dari langit. Itu uang rakyat. Uang petani yang memeras keringat di sawah. Uang nelayan yang berjuang di laut. Uang guru yang menunggu tambahan penghasilan yang tak kunjung datang. Uang yang seharusnya menjadi jalan, sekolah, rumah sakit, dan harapan.
Sementara itu, Ramadan datang lagi. Masjid mulai penuh. Suara tilawah terdengar di mana-mana. Orang-orang berburu satu malam yang nilainya lebih dari seribu bulan: Lailatul Qadar.
Dahulu, para sahabat Nabi pernah merasa sedih ketika mendengar kisah seorang hamba saleh dari Bani Israil yang beribadah selama seribu bulan tanpa henti—lebih dari delapan puluh tiga tahun. Ibadah yang terasa mustahil ditandingi oleh umat yang usia rata-ratanya jauh lebih pendek.
Lalu Allah menurunkan Surah Al-Qadr, sebuah kabar yang menenangkan hati: ada satu malam di bulan Ramadan yang nilainya lebih baik dari seribu bulan. Satu malam saja. Bayangkan, pahala lebih dari delapan puluh tiga tahun ibadah dapat diraih hanya dalam satu malam yang dipenuhi keimanan. Pada malam itu malaikat turun ke bumi. Kedamaian memenuhi langit dan bumi hingga terbit fajar. Doa-doa diangkat, air mata tobat diterima, dan hati yang keras bisa luluh.
Ironisnya, di negeri yang berburu Lailatul Qadar ini, sebagian orang masih sibuk menghitung proyek, fee, dan komisi. Siang hari berbicara tentang anggaran, malam hari berbicara tentang pahala. Siang hari menandatangani kontrak yang merugikan rakyat, malam hari menadahkan tangan memohon ampun. Seolah-olah Tuhan bisa ditipu dengan jadwal.
Padahal Lailatul Qadar bukan sekadar malam untuk menambah pahala. Ia adalah malam untuk memperbaiki hati. Malam ketika manusia diingatkan kembali bahwa hidup ini singkat, kekuasaan itu sementara, dan uang haram tidak pernah benar-benar membawa berkah.
Seribu bulan ibadah nilainya bisa kalah oleh satu malam keikhlasan. Namun miliaran uang haram tidak akan pernah mampu membeli satu detik ketenangan hati.
Koruptor mungkin bisa menyembunyikan uang. Bisa menyembunyikan dokumen. Bisa menyembunyikan rekening. Namun ada satu hal yang tidak pernah bisa disembunyikan: suara hati ketika malam sunyi.
Di sepuluh malam terakhir Ramadan, ketika orang-orang berdoa dengan air mata, ada satu pertanyaan sederhana: jika Lailatul Qadar benar-benar datang malam ini, apakah hati kita siap menyambutnya?
Sebab Lailatul Qadar tidak turun ke rekening bank. Ia turun ke hati manusia.
Mungkin justru di negeri yang terluka oleh korupsi ini, pesan malam itu terasa paling dalam: satu malam tobat yang jujur bisa lebih berharga daripada seribu bulan hidup dalam keserakahan.
Semoga masih ada hati yang mau kembali sebelum fajar terakhir benar-benar datang. (**)
*) Penulis adalah dosen di Universitas Nahdlatul Ulama Kalimantan Barat.
Editor : Hanif