Nasional Metropolis Daerah Pro Bisnis Ekonomi Olahraga Otomotif Internasional Kriminal Features Mozaik Ramadan Tekno Entertainment Event Kesehatan Kuliner Lifestyle Ragam Cahaya Iman

Ramadhan di Ujung Senja: Saat Iman Diuji, Jangan Biarkan Cahaya Padam

Aristono Edi Kiswantoro • Rabu, 18 Maret 2026 | 20:29 WIB

Eva Afifah Muyassarah
Eva Afifah Muyassarah

PAGI ini suasana Ramadhan masih terasa. Udara segar, lantunan tilawah terdengar dari masjid, dan aroma sahur masih terbayang. Namun hati tiba-tiba tersentak: kita sudah berada di penghujung Ramadhan. Ada rasa sedih, seakan waktu berjalan terlalu cepat. Bulan penuh rahmat ini hampir meninggalkan kita, padahal begitu banyak kesempatan yang masih bisa diraih.

Ramadhan selalu datang dengan kelembutan, tetapi sering pergi tanpa banyak disadari. Hari demi hari berlalu begitu cepat. Banyak di antara kita baru tersentak ketika malam-malam terakhir mulai datang. Ada rasa haru yang sulit dijelaskan—antara syukur karena masih diberi kesempatan menjalani Ramadhan, dan sedih karena mungkin kita belum memaksimalkannya.

Allah berfirman dalam Al-Qur’an:
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا كُتِبَ عَلَيْكُمُ الصِّيَامُ كَمَا كُتِبَ عَلَى الَّذِينَ مِنْ قَبْلِكُمْ لَعَلَّكُمْ تَتَّقُونَ
(QS. Al-Baqarah: 183)
Artinya: “Wahai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu agar kamu bertakwa.”

Ayat ini menegaskan bahwa puasa bukan sekadar ritual tahunan, tetapi sarana pembinaan jiwa. Tujuan utama puasa adalah menumbuhkan takwa, yaitu kesadaran bahwa Allah selalu melihat dan mengawasi setiap perbuatan manusia.

Rasulullah SAW. bersabda:
مَنْ صَامَ رَمَضَانَ إِيمَانًا وَاحْتِسَابًا غُفِرَ لَهُ مَا تَقَدَّمَ مِنْ ذَنْبِهِ، وَمَنْ قَامَ رَمَضَانَ إِيمَانًا وَاحْتِسَابًا غُفِرَ لَهُ مَا تَقَدَّمَ مِنْ ذَنْبِهِ
(HR. Bukhari no. 38; Muslim no. 760)

Artinya: “Barangsiapa berpuasa Ramadhan dengan iman dan penuh harap pahala, maka diampuni dosa-dosanya yang telah lalu. Dan barangsiapa melakukan qiyam Ramadhan dengan iman dan penuh harap pahala, maka diampuni dosa-dosanya yang telah lalu.”

Hadits ini merupakan kabar gembira bagi umat Islam. Imam An-Nawawi menjelaskan bahwa ampunan dalam hadits ini menunjukkan luasnya rahmat Allah bagi hamba-Nya yang berpuasa dengan iman dan ihtisab.

Pada sepuluh malam terakhir Ramadhan, Rasulullah SAW. menunjukkan kesungguhan ibadah yang luar biasa. Aisyah r.a. meriwayatkan:
“Apabila telah masuk sepuluh malam terakhir Ramadhan, Rasulullah SAW. menghidupkan malamnya, membangunkan keluarganya, bersungguh-sungguh dalam ibadah, dan mengencangkan ikat pinggangnya.”
(HR. Bukhari no. 2024; Muslim no. 1174)

Hadits ini menunjukkan bahwa akhir Ramadhan adalah puncak perjuangan spiritual. Imam Al-Ghazali mengibaratkan Ramadhan seperti perlombaan: seorang pelari tidak memperlambat langkah ketika mendekati garis akhir, justru ia berlari lebih cepat untuk mencapai kemenangan.

Namun kita juga perlu melihat realitas kehidupan hari ini. Tidak semua orang memiliki kesempatan untuk memaksimalkan ibadah sebagaimana yang diharapkan. Ada yang harus bekerja keras sejak pagi hingga malam demi menafkahi keluarga. Ada yang berdiri berjam-jam di pasar, mengemudi di jalanan, menjaga toko, melayani pelanggan, atau mengurus rumah tangga tanpa henti.

Islam tidak memisahkan kehidupan dunia dengan ibadah. Rasulullah SAW. bersabda:
إِنَّمَا الْأَعْمَالُ بِالنِّيَّاتِ وَإِنَّمَا لِكُلِّ امْرِئٍ مَا نَوَى
(HR. Bukhari no. 1; Muslim no. 1907)

Artinya: “Sesungguhnya setiap amal tergantung pada niatnya, dan setiap orang akan mendapatkan sesuai dengan apa yang ia niatkan.”

Hadits ini mengajarkan bahwa aktivitas sehari-hari dapat bernilai ibadah jika diniatkan karena Allah. Seorang ayah yang bekerja mencari nafkah halal, seorang ibu yang menyiapkan sahur dan berbuka, seorang pedagang yang jujur, atau seorang pekerja yang amanah—semuanya bisa menjadi amal besar di sisi Allah.

Allah juga menegaskan prinsip kemudahan dalam agama:
يُرِيدُ اللَّهُ بِكُمُ الْيُسْرَ وَلَا يُرِيدُ بِكُمُ الْعُسْرَ
(QS. Al-Baqarah: 185)

Artinya: “Allah menghendaki kemudahan bagimu, dan tidak menghendaki kesulitan bagimu.”

Menjelang Idul Fitri, suasana pasar mulai padat, jalanan macet, pusat perbelanjaan dipenuhi orang berburu pakaian baru dan kue lebaran. Aktivitas ekonomi meningkat, tetapi masjid perlahan mulai sepi. Padahal boleh jadi di antara malam-malam itu terdapat ليلة القدر (Lailatul Qadar), malam yang lebih baik daripada seribu bulan.

Di tengah kesibukan menyiapkan hidangan lebaran, ada sosok yang sering luput dari perhatian: seorang ibu. Ia bangun paling awal, menyiapkan sahur, membangunkan anak-anak, mengingatkan shalat, dan memastikan keluarganya menjalani Ramadhan dengan baik. Meski lelah, ia tetap menyempatkan diri berzikir dan berdoa. Tangannya sibuk di dapur, tetapi hatinya tetap terhubung kepada Allah.

Selain itu, di penghujung Ramadhan ada kewajiban yang tidak boleh dilupakan, yaitu zakat fitrah. Rasulullah SAW.bersabda:
فَرَضَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ زَكَاةَ الْفِطْرِ طُهْرَةً لِلصَّائِمِ مِنَ اللَّغْوِ وَالرَّفَثِ وَطُعْمَةً لِلْمَسَاكِينِ
(HR. Abu Dawud no. 1609; Ibnu Majah no. 1827)

Zakat fitrah menjadi penyempurna ibadah puasa sekaligus bentuk kepedulian sosial, agar kaum fakir miskin juga dapat merasakan kebahagiaan pada hari raya.

Di saat hati mulai haru karena Ramadhan akan berlalu, para ulama dahulu sering memanjatkan doa:
اللَّهُمَّ بَلِّغْنَا رَمَضَانَ الْقَادِمَ وَاجْعَلْنَا فِيهِ مِنَ الْمَقْبُولِينَ
“Ya Allah, sampaikanlah kami pada Ramadhan yang akan datang, dan jadikanlah kami termasuk orang-orang yang diterima amalnya.”

Pesan Ramadhan sesungguhnya sederhana namun sangat dalam: jangan pernah putus asa dalam berbuat baik. Bagi para ibu, setiap usaha menjaga keluarga adalah pahala. Bagi para ayah, kerja keras mencari nafkah adalah ibadah ketika diniatkan karena Allah. Bagi para pemuda, menjaga diri dari godaan adalah kemenangan iman. Bagi anak-anak, belajar berpuasa dan membaca Al-Qur’an adalah langkah awal menuju takwa. Dan bagi para lansia, doa-doa mereka adalah cahaya bagi keluarga.

Ramadhan mungkin akan pergi, tetapi semangatnya tidak boleh ikut hilang. Bahkan satu doa di tengah kesibukan, satu sedekah kecil di jalan, satu senyum tulus kepada sesama—semua itu bisa menjadi cahaya yang menyelamatkan kita di hadapan Allah.

Semoga kita semua meraih takwa sejati, menyambut Idul Fitri dengan hati yang bersih, dan semoga Allah mempertemukan kita kembali dengan Ramadhan yang akan datang.

 

✍️ Ditulis oleh:
Eva Afifah Muyassarah, S.Ag.
Penyuluh Agama Islam Kemenag Kota Pontianak
al-faqirah ilallah

Editor : Aristono Edi Kiswantoro
#Afifah #ramadhan #eva