”Kilang TPPI ini adalah salah satu kilang terbesar di Indonesia yang dapat menghasilkan banyak produk seperti aromatik dan olefin, dan juga penghasil BBM premium, LPG, pertamax, solar, dan masih banyak lagi,” terang presiden.
Presiden memberikan target tiga tahun kepada Menteri Badan Usaha Milik Negara (BUMN) Erick Thohir, Komisaris Utama Basuki Tjahaja Purnama (Ahok), dan Direktur Utama Pertamina Nicke Widyawati untuk mengembangkan TPPI. ”Mintanya tadi (target, Red) empat tahun. Tapi, saya minta tiga tahun harus sudah rampung semua. Entah itu kerja sama, entah itu dengan kekuatan sendiri, saya kira ada pilihan-pilihan yang bisa diputuskan segera,” tutur Jokowi.
Jika nanti TPPI bisa melakukan produksi secara maksimal, devisa negara bisa dihemat hingga USD 4,9 miliar atau kurang lebih Rp 56 triliun. ”Besar sekali. Ini merupakan substitusi. Karena setiap tahun kita impor dan impor. Padahal, kita bisa membuat sendiri, tapi tidak kita lakukan. Ini yang sering saya sampaikan bolak-balik dalam rapat-rapat terbatas, rapat paripurna, maupun rapat dengan kepala daerah,” tambah dia.
Menurut Jokowi, banyak persoalan yang sudah puluhan tahun tidak pernah tuntas di urusan minyak. Dia berharap keberadaan Erick Thohir sebagai menteri BUMN beserta sejumlah perombakan yang dilakukan di Pertamina mampu menyelesaikan persoalan yang mengakar tersebut.
TPPI merupakan anak perusahaan PT Tuban Petrochemical Industries (Tuban Petro) yang seluruh sahamnya akan diakuisisi pemerintah melalui PT Pertamina. Saat ini saham yang telah dikuasai Pertamina mencapai 98 persen. Tinggal menyisakan 2 persen saham yang masih diproses untuk akuisisi. ”Saya minta Januari harus sudah rampung semua (proses akuisisi saham, Red),” tandasnya.
Kunjungan Jokowi itu juga menjadi momen reuni bersama Ahok. Untuk kali pertama Jokowi bertemu dengan wakilnya saat menjadi gubernur DKI Jakarta itu dalam posisi barunya sebagai komisaris utama Pertamina. (tok/ds/c11/ayi) Editor : Ari Aprianz