Nasional Metropolis Daerah Pro Bisnis Ekonomi Olahraga Otomotif Internasional Kriminal Features Mozaik Ramadan Tekno Entertainment Event Kesehatan Kuliner Lifestyle Ragam Cahaya Iman

1.378 Rumah Terdampak Gempa Banten 

Misbahul Munir S • Minggu, 16 Januari 2022 | 11:32 WIB
AMBRUK: Warga melihat kondisi rumah yang rusak akibat gempa di Kadu Agung Timur, Lebak, Banten, Jumat (14/1). (ANTARA FOTO)
AMBRUK: Warga melihat kondisi rumah yang rusak akibat gempa di Kadu Agung Timur, Lebak, Banten, Jumat (14/1). (ANTARA FOTO)
JAKARTA - Sebanyak 1.378 unit rumah terdampak pascabencana gempabumi M 6,6 yang terjadi di Kabupaten Pandeglang, Banten, Jumat (14/1). Data tersebut merujuk pada data sementara yang dikeluarkan Pusat Pengendalian Operasi (Pusdalops) Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) pada Sabtu (15/1) pukul 17.30.

Tercatat 278 unit rumah mengalami rusak berat, 323 unit rumah rusak sedang dan 777 unit rumah rusak ringan. Pada kesempatan ini, Kepala BNPB meninjau langsung beberapa lokasi yang terdapat kerusakan bangunan akibat gempa.

Adapun daerah yang paling terdampak ialah Kabupaten Pandeglang dengan 262 unit rumah rusak berat, 289 unit rumah rusak sedang dan 663 unit rumah rusak ringan.

Kemudian Kabupaten Lebak dengan 16 unit rumah rusak berat, 13 unit rumah rusak sedang dan 108 unit rumah rusak ringan. Sedangkan di Kabupaten Serang terdapat 10 unit rumah rusak sedang.

Selain provinsi Banten, guncangan juga menyebabkan beberapa rumah di Provinsi Jawa Barat mengalami kerusakan, seperti di Sukabumi tercatat tiga unit rumah rusak sedang dan enam unit rumah rusak ringan. Sementara itu, terdapat delapan unit rumah rusak ringan di Kabupaten Bogor.

Kepala Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) Letjen TNI Suharyanto melakukan peninjauan lokasi terdampak di wilayah Kabupaten Pandeglang, Banten, Sabtu (15/1). Peninjauan itu sekaligus menjadi wujud bahwa negara hadir untuk memberikan dukungan penuh kepada warga terdampak.

Suharyanto juga berdialog bersama warga pemilik rumah yang terdampak gempa. Mantan Pangdam V Brawijaya itu menyarankan agar bangunan rumah sebaiknya dibuat lebih kokoh dengan fondasi yang lebih baik agar tahan terhadap guncangan. Sebab, yang menjadi ancaman bukan gempanya melainkan struktur bangunan yang tak kuat menahan guncangan.

“Bangunan harus dibuat kokoh agar tahan gempa,” kata Suharyanto.

Lebih lanjut, Suharyanto meminta kepada Pemkab Pandeglang untuk segera mendata dan melakukan verifikasi rumah-rumah warga yang terdampak sesuai kriteria dan kondisi kerusakan. Dengan data tersebut maka bantuan dan dukungan lainnya dapat segera disalurkan kepada warga terdampak.

“Mohon nanti segera didata dan diverifikasi ulang, ya agar mereka (warga terdampak) dapat segera kita bantu dan dukung untuk pemulihan,” pungkas Suharyanto.

33 Kali Gempa Susulan

Badan Meteorologi, Klimatologi dan Geofisika (BMKG) mencatat hingga Sabtu (15/1) pukul 12.00 WIB, telah terjadi 33 kali aktivitas gempa susulan pascagempa Banten magnitudo 6,6 pada Jumat (14/1).

"Gempa susulan yang terjadi dengan magnitudo terbesar 5,7 dan magitudo terkecil adalah 2,5," kata Koordinator Bidang Mitigasi Gempabumi dan Tsunami BMKG, Daryono, Sabtu.
Gempa yang sebelumnya tercatat bermagnitudo 6,7 yang berpusat di laut pada jarak 132 km arah barat daya Kota Pandeglang, Banten, dengan kedalaman hiposenter 40 km memiliki mekanisme sumber pergerakan naik (thrust fault) akibat adanya proses tekanan yang kuat.

Gempa ini bersifat destruktif atau merusak. Berdasarkan data BPBD Kabupaten Pandeglang wilayah terdampak gempa mencakup 113 kelurahan dari 17 kecamatan.

Gempa tersebut tidak berpotensi tsunami karena magnitudonya yang masih di bawah ambang batas rata-rata gempa pembangkit tsunami yaitu 7,0 ditambah dengan kedalaman hiposenternya di 40 km. Data monitoring muka laut tidak menunjukkan adanya catatan perubahan muka laut pasca gempa, ini yang menjadi bukti bahwa gempa yang terjadi tidak memicu tsunami.

Jenis gempa berupa gempa dangkal akibat adanya deformasi atau patahan batuan di dalam Lempeng Indo-Australia yang tersubduksi/menunjam ke bawah Selat Sunda-Banten.

Para ahli menyebut jenis gempa ini sebagai intraslab earthquake, ciri gempa intraslab mampu meradiasikan guncangan (ground motion) yang lebih besar dan lebih kuat dari gempa sekelasnya dari sumber lain. Sehingga wajar jika gempa ini memiliki spektrum guncangan yang sangat luas dirasakan hingga Sumatera Selatan hingga Jawa Barat.

Aktivitas Ekonomi Normal

Sementara itu, kegiatan ekonomi masyarakat pesisir pantai Pandeglang, Provinsi Banten usai gempa berkekuatan 6,6 yang terjadi Jumat (14/1) pukul 16.05 WIB relatif normal.

"Kami seperti biasa saja membuka toko kelontongan dan tidak terpengaruh adanya gempa tektonik itu, " kata Inah, seorang warga Sumur Kabupaten Pandeglang, Sabtu (15/1).

Masyarakat yang berjualan di Pasar Sumur Kabupaten Pandeglang sudah terbiasa getaran gempa yang dirasakan hingga berkekuatan 6,6 itu.  Lokasi Perairan Sumur, termasuk Perairan Taman Nasional Ujung Kulon ( TNUK) merupakan daerah rawan gempa tektonik sehingga masyarakat sudah tidak panik dan kaget lagi adanya bencana gempa tersebut.

"Kami dan pedagang lainnya tetap buka dan tidak terdampak, " katanya.

Begitu juga warga lainnya, Sudrajat, seorang pemangkas rambut mengaku sejak pagi hingga siang tetap melakukan kegiatannya, karena gempa yang terjadi Jumat kemarin tidak sampai merusak tempat tinggalnya.  Bahkan, dia tidak merasakan getaran gempa karena saat itu tengah berada di masjid.

"Kami tetap membuka kegiatan ekonomi untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari, " katanya.

Sekretaris Camat Sumur, Pandeglang, Amsor mengatakan di wilayahnya hingga kini kegiatan ekonomi normal dan mereka pedagang membuka usahanya di pasar kecamatan.

Terpisah, Kementerian Sosial RI langsung menyalurkan bantuan untuk korban, terutama kebutuhan logistik. "Kami memenuhi kebutuhan pangan untuk warga korban bencana gempa atas arahan Menteri Sosial Tri Rismaharini," kata Direktur Jenderal Perlindungan dan Jaminan Sosial Kemensos Pepen Nazaruddin di Pandeglang, Sabtu.

Saat ini, kata dia, tim Kemensos menyiapkan bantuan logistik untuk para penyintas bencana. Rincian barang logistik untuk Pandeglang berupa makanan siap saji 1.200 paket, air minum kemasan 100 dus, selimut 200 lembar dan tenda gulung 300 lembar.

Selain itu, kata Pepen, juga ada bantuan kasur 200 unit, tenda enam unit, matras 200 lembar, popok bayi 200 paket, pembalut wanita 300 pak, tenda keluarga 50 unit dan genset.

Bantuan dari Kemensos, katanya, dikirim dari Gudang Bekasi dan telah bergerak ke lokasi terdampak di Pandeglang pada Sabtu malam.

Selain itu, Kemensos juga bersama Taruna Siaga Bencana (Tagana) telah bekerja sama dengan unsur penanganan bencana lainnya menangani dampak bencana.

Tagana, katanya, melakukan pendataan, mengevakuasi warga dari tempat kurang aman ke lokasi aman, menyiapkan lokasi penampungan sementara untuk kelompok rentan, seperti lanjut usia, anak-anak, penyandang disabilitas dan mendistribusikan bantuan logisitik.(ant) Editor : Misbahul Munir S
#gempa bumi #gempa banten