Nasional Metropolis Daerah Pro Bisnis Ekonomi Olahraga Otomotif Internasional Kriminal Features Mozaik Ramadan Tekno Entertainment Event Kesehatan Kuliner Lifestyle Ragam Cahaya Iman

Tradisi Kopi Subuh di Kalangan Warga Banda Aceh

A'an • Minggu, 10 September 2023 | 12:54 WIB
RITUAL HARIAN: Sejumlah warga Banda Aceh ngopi selepas subuh di Budi Warkop (27/7). Sudah jadi tradisi warga setempat ngopi sebelum beraktivitas pagi.
RITUAL HARIAN: Sejumlah warga Banda Aceh ngopi selepas subuh di Budi Warkop (27/7). Sudah jadi tradisi warga setempat ngopi sebelum beraktivitas pagi.

Ngopi di kedai harus ada camilan khas Aceh karena itu yang membedakan dengan ngopi di rumah. Konten koran-televisi juga perlu ada untuk bahan obrolan sambil menyesap kopi saring.

 

RIZKY AHMAD FAUZI, Banda Aceh

 

JAM sudah menunjukkan pukul 05.50 WIB. Matahari masih malu-malu muncul di bagian paling barat Indonesia. Namun, Kedai Kopi Budi Warkop di kawasan Jalan Sukadamai, Banda Aceh, telah lama berdenyut. Pekerja sibuk memasak dan menyaring kopi hingga menata kue.

Satu per satu para penikmat kopi pun mulai berdatangan.  Di ibu kota Aceh itu, ngopi selepas subuh sudah bagian dari keseharian. Warkop bertebaran di berbagai sudut, sejalan dengan tersohornya Aceh sebagai daerah penghasil kopi.

Mayoritas yang datang ke Budi Warkop pada pagi akhir Juli lalu (27/7) itu pun datang menggunakan baju koko-gamis serta berkopiah. Bangku merah yang disediakan bersamaan dengan meja panjang perlahan terisi para penikmat kopi subuh.

Sreeeetttt. Koran yang disediakan di atas meja kayu ditarik dan kemudian dibuka. 

Mereka antara lain dari kelompok jemaah Masjid Jamik Lueng Bata, Banda Aceh, seperti Suhairi. Ia datang bersama sejumlah kawan. ’’Sudah beberapa tahun ini kami selalu ngopi bersama setelah subuh,’’ ujarnya.

Kecuali hari Minggu saja mereka tak melakukan ’’ritual’’ tersebut. Sebab, ada acara ramah-tamah dan makan-makan di masjid.

Suhairi menuturkan, komunitas kopi subuh yang ada di Banda Aceh ini berbeda-beda dalam besar kecilnya. Ada kelompok kecil yang misalnya berisi kerabat dan jemaah masjid. Ada juga kelompok dengan jumlah person lebih banyak.

’’Kalau kami ini bertetangga. Biasanya ada enam orang. Hampir di tiap tempat di Aceh ini memang ada (kelompok seperti kami),’’ tuturnya.

Tempat ngopi di Banda Aceh sangat banyak. Namun, tak semua buka mulai subuh. Biasanya, terang Suhairi, untuk menentukan tempat pilihan ngopi, ada beberapa kriteria.

Pertama, di kedai harus ada camilan-camilan khas Aceh seperti kue meureudu, kue timphan, kue bhoi, hingga gorengan sebagai teman menikmati kopi saring. ’’Karena kalau di rumah kan belum tentu ada kue-kue,’’ ujarnya.

Kedua, kedai harus menyediakan koran dan televisi. Tujuannya agar bisa meng-update informasi terbaru. ’’Jadi, ketika kami ngopi, semua dibahas. Mulai dari isu politik nasional seperti polemik Jakarta International Stadium, cawe-cawe presiden dalam pilpres, hingga persoalan kedaerahan,’’ paparnya.

Marjuki, rekan se-’’komunitas’’ Suhairi, menambahkan, tiap kali ngopi Subuh tidak ada pembahasan khusus. Obrolannya beragam. ’’Tergantung (apa isi) di koran dan televisi,’’ ucapnya.

Kopi subuh sudah menjadi tradisi yang sulit dilepas bagi pria berusia 63 tahun itu. Terlebih ketika sudah pensiun.

’’Seperti yang ada di tulisan sana kan, sejuta inspirasi dalam secangkir kopi,’’ katanya seiring tangannya menunjuk gambar bertulisan filosofi kopi yang ada di sudut kedai.

Editor : A'an
#ngopi #Kopi Subuh #banda aceh #tradisi