PONTIANAK - Saat ini Indonesia masih mengalami permasalahan dengan pengelolaan sampah. Data dari Sistem Informasi Pengelolaan Sampah Nasional (SIPSN) Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK), pada tahun 2022 volume timbulan sampah di Indonesia mencapai 35,92 juta ton.
Sampah sisa makanan merupakan yang paling banyak dengan proporsi 40,64 persen dari total sampah nasional.
Bahkan Indonesia menempati peringkat kedua dunia sebagai penghasil limbah makanan terbanyak, yaitu sekitar 300 kg limbah makanan per orang per tahun.
Besarnya jumlah sampah makanan yang dibuang memberi dampak serius terhadap lingkungan dan ekonomi.
Merujuk data Bappenas, sampah makanan selama 20 tahun terakhir membuat kerugian sebesar Rp 213 triliun - Rp 551 triliun per tahun atau setara dengan 4-5 persen Produk Domestik Bruto (PDB) Indonesia.
Tak hanya kerugian ekonomi dan sosial, dampak dari sisa makanan juga menyumbang emisi Gas Rumah Kaca (GRK).
Dalam 20 tahun terakhir, Indonesia menyumbang emisi GRK sebesar 1,7 giga ton CO2e (karbon dioksida ekuivalen) sampah makanan.
Melihat dampak yang begitu besar terkait sampah rumah tangga, perlu ada upaya nyata untuk merubah pola pengelolaan sampah rumah tangga.
Salah satu cara yang dapat menjadi solusi adalah pemanfaatan sampah rumah tangga untuk dibuat menjadi Pupuk Organik Cair (POC). Menurut (Gultom dan Reynad D.P, 2017) sampah rumah tangga yang dapat dibuat sebagai POC antara lain adalah sisa makanan, sayuran, dan sisa dapur lainnya.
Secara umum manfaat pupuk organik dapat meningkatkan produktivitas pertanian, baik dari sisi kualitas maupun kuantitas, mengkonservasi hara, mengurangi pencemaran lingkungan, serta meningkatkan kualitas lahan.
Sedangkan untuk tanaman, manfaat POC antara lain dapat mendorong dan meningkatkan pembentukan klorofil daun dan pembentukan bintil akar, dapat meningkatkan vigor tanaman, sehingga tanaman menjadi kokoh dan kuat, meningkatkan daya tahan tanaman terhadap kekeringan, cekaman cuaca, dan serangan patogen penyebab penyakit, merangsang pertumbuhan cabang produksi, serta meningkatkan pembentukan bunga dan bakal buah, serta mengurangi gugurnya daun, bunga dan bakal buah. Manfaat lainnya, penggunaan POC lebih ramah lingkungan, produk tanaman aman untuk dikonsumsi tanpa perlu khawatir adanya residu kimia.
Potensi Ekonomi Pembuatan POC
Pembuatan pupuk organik cair dari limbah organik rumah tangga dapat dijadikan salah satu model pemberdayaan ekonomi skala rumah tangga.
Berdasarkan hasil penelitian (Diniati D dan Ariska I, 2018), memproduksi pupuk organik cair dengan menggunakan sampah organik rumah tangga sangat menguntungkan bagi masyarakat, selain mengurangi penumpukan sampah juga dapat menambah pendapatan masyarakat.
Hal ini karena proses pembuatan POC relatif lebih mudah dan dapat dikerjakan dalam skala rumah tangga, serta membutuhkan waktu yang tidak terlalu lama sekitar 14 hari. Bahan dasarnya ada disetiap rumah tangga.
Peralatan yang digunakan dapat memanfaatkan limbah plastik, botol, dan bahan bekas lainnya, serta tidak memerlukan peralatan khusus.
Beberapa riset dan kajian terkait pembuatan POC dari limbah rumah tangga membutuhkan biaya lebih murah.
Menurut penelitian, harga pokok produksi (HPP) pada pupuk organik cair yang berasal dari limbah rumah tangga sebesar Rp 5.222 per liter.
Kemudian dapat ditawarkan ke konsumen dengan margin keuntungan sebesar 16%, sehingga didapatkan harga jual sebesar Rp 6.000 per liter.
Jika dibandingkan pupuk organik cair dipasaran harganya berkisar Rp 75.000 per liter. POC dari buatan sendiri tentu jauh lebih murah.
Berdasarkan hal tersebut maka peluang untuk memanfaatkan limbah rumah tangga sebagai POC sangat terbuka.
Pontensi ekonominya juga sangat besar. Jika diasumsikan satu rumah tangga dengan anggota keluarga 4 orang menghasilkan sampah organik sebanyak 1.200 kg per KK per tahun, maka potensi bahan baku limbah yang dapat diubah menjadi pupuk organik cair sebanyak 2.400 liter atau setara dengan Rp 14.400.000 per KK per tahun.
Tentu angka ini akan memberikan potensi tambahan pendapatan rumah tangga.
Strategi Pemasaran Pupuk Organik Cair
Untuk dapat memaksimalkan potensi ekonomi dari POC dalam pemberdayaan ekonomi rumah tangga maka produksi POC perlu diusahakan pada skala ekonomi dan menggunakan pendekatan pemasaran yang efektif.
Strategi pemasaran menurut (Kotler, P dan Keller, Kevin L, 2016) sebuah produk perlu memperhatikan 4 P, yaitu product (produk), price (harga), place (tempat), dan promotion (promosi).
Produk POC harus memenuhi standar mutu dan kualitas pupuk organik cair sesuai dengan Permentan Nomor 261/kpts/SR.310/M/4/2019 tentang persyaratan teknis minimal pupuk organik, pupuk hayati, dan pembenah tanah.
Standar mutu ini sangat penting untuk menyakinkan konsumen akan kualitas produk POC.
Selain mutu, kemasan juga harus menarik dengan menampilkan keunggulan produk.
Penetapan harga produk harus dapat bersaing dengan produk sejenis dipasaran, caranya dengan membandingkan harga sejenis dipasaran dan harga pokok penjualan (HPP).
Tempat atau place harus mudah diakses oleh kendaraan untuk distribusi.
Promosi dapat menggunakan media yang murah dengan jangkauan luas dan menggandeng penyuluh pertanian sebagai pembina di lapangan.
Sebelum menggunakan media promosi kita harus mengetahui target atau segmen pasar dari POC, yaitu petani, penggiat pertanian organik, penghobi tanaman, konsumen yang peduli lingkungan dan kesehatan.
Dengan mengetahui segmen pasar maka akan mudah untuk menentukan penggunaan media untuk promosi.
Saat ini, penggunaan media digital (sosial) seperti facebook, instagram, tiktok, whatsapp, marketplace, dan lainnya sangat disarankan bagi pemula.
Hal ini disebabkan penggunaan media digital (sosial) dianggap lebih efektif karena memiliki jangkauan yang lebih luas (Nainggolan, N. P., dan Sari, I. U. 2020).
Hal yang perlu diperhatikan pada saat penggunaan media sosial adalah pembuatan konten yang menarik dan kreatif, sesuai segmen pasarnya, mudah dimengerti, waktu penayangan yang tepat dan target pasar yang jelas.
Penggunaan media online harus rutin untuk dapat membangun merk yang kuat, sehingga dapat bersaing dengan produk lain.
Selain media online perlu juga dilakukan promosi secara konvesional dengan melakukan pendekatan kepada kelompok masyarakat yang mempunyai minat dan konsen dengan produk pupuk organik, petugas penyuluh lapangan dan ibu-ibu rumah tangga disekitar lingkungan kita.
Konsep pemasaran POC harus menekankan pada upaya kesadaran bersama untuk penyelamatan lingkungan melalui pemanfaatan limbah rumah tangga menuju pertanian yang berkesinambungan dan ramah lingkungan serta menyehatkan. (mde/ser)
Editor : A'an