Harisson dan Windy hadir kompak mengenakan pakaian berbahan tenun ikat Sintang, yang dibuat menggunakan pewarna alami dari daun engkerebang.
Salah satu wastra khas yang dirancang oleh desainer Kalbar itu menonjolkan motif berupa tiang kebok alit peririt.
Yang memiliki arti atau filosofi, sebuah kebersamaan yang tidak akan terputuskan oleh sekelompok orang.
Baca Juga: Mobil Hias Replika Tanjak Bermotif Corak Insang di Peringatan HUT ke-44 Dekranas Pikat Warga Solo
Keduanya antusis menyaksikan dari tribun VIP, para peserta parade yang melintasi rute di Jalan Slamet Riyadi.
Parade tersebut berlangsung meriah, dengan disaksikan ribuan masyarakat yang menyemut di sepanjang jalan.
Dari seluruh provinsi di Indonesia, Kalbar tampil di urutan keempat dalam parade mobil hias kriya, dan budaya tersebut.
Momentum berharga itu dimanfaatkan Dekranasda Kalbar untuk menampilan keharmonisan antar suku, dan etnis yang ada di bumi khatulistiwa.
Dimana beragam suku, dan etnis yang hidup harmonis di Kalbar, tercermin dari lima mobil hias yang dihadirkan dalam kirab budaya tersebut.
Mulai dari Dekranasda Kalbar yang menampilkan mobil hias berupa rumah baluk dayak bidayuh.
Lalu ada mobil hias Dekranasda Kabupaten Kapuas Hulu yang menampilkan suku dayak.
Selanjutnya mobil hias Dekranasda Kota Pontianak, dan Kabupaten Kubu Raya yang menampilkan suku melayu.
Serta Kota Singkawang yang menghadirkan suku tionghoa, dengan mobil hias berupa replika naga.
Dan yang tak kalah spesial, di mobil hias Dekranasda Kalbar turut menyuguhkan permainan musik tradisional suku dayak berupa sape, beserta tarian.
Lantunan sape yang merdu, dimainkan langsung oleh seniman sape andalan Kalbar yaitu Fery Sape.
Pj Gubernur Harisson mengungkapkan, dirinya sengaja hadir langsung di Kota Solo untuk menyaksikan peserta Kalbar di parade mobil hias kriya, dan budaya tersebut.
Ia berharap dengan kehadirannya bersama Pj Ketua TP-PKK yang juga Pj Ketua Dekranasda Kalbar itu, bisa memberikan semangat, dan motivasi kepada perwakilan Kalbar di ajang tersebut.
Baca Juga: Mekanisme KRIS Tunggu Permenkes, Tak Ada Penghapusan Kelas, Tarif Iuran Masih Sama
"Mobil hias kita (Kalbar) menampilakan keharmonisan dari keragaman etnis dan suku yang ada. Kami tentu berharap bisa mendapat hasil terbaik pada lomba parade mobil hias kriya, dan budaya ini," harapnya.
Di tempat yang sama, Pj Ketua Dekranasda Kalbar Windy Prihastari mengungkapkan, pihaknya memang sengaja mengusung keragaman etnis, dan suku di Kalbar pada parade tersebut.
Itu agar masyarakat secara luas bisa lebih mengenal kehidupan yang harmonis di Kalbar. Apalagi event nasional itu diikuti oleh seluruh perwakilan Dekranasda se-Indonesia.
"Kami tampilkan seluruh budaya, dan etnis di Kalbar lewat mobil hias ini, kami sampaikan ke masyarakat luas, kita di Kalbar selalu hidup harmonis,” ungkap Windy.
Baca Juga: Windy Hadiri Royal Dinner Bersama Ibu Negara, Rangkaian HUT ke-44 Dekranas di Solo
Selain itu, sesuai dengan tema HUT ke-44 Dekranas, yakni Tumbuh Bersama Majukan Warisan Bangsa, kesempatan berharga itu juga dimanfaatkan Dekranasda Kalbar untuk mempromosikan berbagai event-event unggulan.
Misalnya festival Cap Go Meh yang bahkan telah masuk dalam Karisma Event Nusantara (KEN) oleh Kementrian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif (Kemenparekraf).
Kemudian rumah baluk yang merupakan rumah adat suku dayak bidayuh, dimana pada 2023, Nyobeng Internasional Dayak Bidayuh Festival juga telah masuk dalam salah satu event di KEN. Festival tersebut digelar di Rumah Baluk Desa Hli Buei, Kecamatan Siding, Kabupaten Bengkayang. Di sana, rumah baluk asli masih berdiri, dan digunakan sebagai lokasi festival setiap tahunnya oleh masyarakat dayak bidayuh.
“Dengan bentuk promosi di event nasional ini diharapkan masyarakat Indonesia menjadi tertarik untuk melihat langsung rumah baluk yang asli di Kalbar, sehingga terjadi peningkatan wisatawan yang masuk ke Kalbar,” harapnya.
Windy mengatakan pada parade tersebut Dekranasda Kalbar juga menampilkan permainan musik tradisional khas suku dayak yakni sape. Ditambah anak-anak muda Kalbar yang menampilkan seni tari dayak bidayuh lengkap dengan mengenakan baju adat khasnya. Hal tersebut menurutnya menjadi lambang keharmonisan antar etnis-etnis yang ada di Kalbar. "Ini ajang promosi pariwisata sesuai dengan brand Kalbar yakni rimba dan budaya, kami juga ingin menunjukkan Kalbar yang harmonis,” pungkasnya.
Salah satu seniman Kalbar yang ikut dalam parade tersebut, Fery Sape menambahkan, event Dekranas kali ini masih berkelanjutan dari event Inacraf yang digelar Dekranas di Jakarta Covention Center (JCC) pada Maret 2024 lalu. Dimana dirinya juga terlibat di sana, sebagai seniman yang mewakili Kalbar, dengan mempersiapkan materi sesuai tema nasional.
"Kita mewakili Kalbar ada beberapa tema yang ditampilkan seperti khusus Kalbar dan nasional. Konsep keseluruhan dari mobil hias ini, temanya mobil Kalbar mengambil fisik suku dayak bidayuh ada rumah baluknya. Lalu penampilan masing-masing daerah punya ciri khas khusus, namun Kalbar, selain live musik sape, kami juga ada tarian," ujarnya.
Sebagai seniman, Fery pun merasa sangat bersyukur karena selalu dilibatkan oleh Pemerintah Provinsi (Pemprov) Kalbar, baik di event nasional, hingga internasional.
"Sesuai dengan fungsi kami sebagai praktisi (seni), secara profesi kami menjadi pekerja seni, kebetulan pada event ini dibutuhkan, saya untuk ikonik (pemain sape), saya bersyukur dilibatkan, (artinya) ada apresiasi dari pemerintah daerah," katanya. (bar)
Editor : Syahriani Siregar