Momen Menjaga Kerukunan dan Perdamaian
JAKARTA – Kedatangan pemimpin gereja Katolik dunia sekaligus Kepala Negara Vatikan Sri Paus Fransiskus ke Indonesia disambut antusias. Presiden Joko Widodo yang biasa menerima tamu kenegaraan di Istana Bogor mempersiapkan tempat di kompleks Istana Negara, Jakarta, kemarin (4/9). Dua pemimpin tersebut membicarakan soal perdamaian.
Upacara penyambutan kenegaraan diawali lagu kebangsaan Vatikan dan Indonesia. Meriam salvo berdentum 21 kali. Keduanya lalu menyaksikan parade militer. Setelah itu, mereka mengenalkan delegasi negara masing-masing.
Presiden Jokowi lantas mempersilakan Paus Fransiskus memasuki Ruang Kredensial Istana Merdeka untuk mengisi buku tamu kenegaraan dan berfoto bersama. Kedua pemimpin kemudian melakukan pembicaraan empat mata di beranda belakang Istana Merdeka. Setelah itu, Jokowi dan Paus Fransiskus berjalan bersama menuju Istana Negara. Di sana, keduanya melakukan pertemuan dengan pemerintah, korps diplomatik, dan para tokoh masyarakat.
Dalam sambutannya, Jokowi menyoroti betapa pentingnya menjaga harmoni di negara sebesar Indonesia. Nusantara memiliki lebih dari 714 suku dan 17 ribu pulau. Dia menggarisbawahi peran vital Pancasila dan semboyan Bhinneka Tunggal Ika dalam menjaga koneksi sosial di Indonesia yang majemuk. ”Perbedaan adalah anugerah dan toleransi adalah pupuk bagi persatuan dan perdamaian,” kata Jokowi.
Paus Fransiskus, dalam sambutannya, menyebut kerukunan sebagai kebutuhan bersama. ”Kemajemukan budaya yang besar, ideologi yang berbeda, dan cita-cita yang mempererat persatuan haruslah dibela terus-menerus,” katanya.
Paus Fransiskus menyinggung upaya gereja Katolik untuk turut menjaga kerukunan dan perdamaian di seluruh dunia. ”Gereja Katolik berkeinginan untuk meningkatkan dialog antaragama,” ujarnya. Dengan cara itu, diharapkan ada suasana saling menghargai. Selain Indonesia, Paus berencana mengunjungi Papua Nugini, Timor Leste, hingga Singapura.
Pada kesempatan lain, Imam Besar Masjid Istiqlal Nasaruddin Umar menyatakan bahwa hari ini (5/9) direncanakan ada pertemuan dengan Paus Fransiskus. Istiqlal pun siap menyambut dan telah melakukan gladi bersih. ”Paus akan berkunjung ke tunnel (terowongan yang menghubungkan Istiqlal dengan gereja katedral. Karena ini kan terowongan toleransi pertama di dunia ya,” katanya.
Buka Sesi Misa secara Daring
Sementara itu, pendataan dari Keuskupan Surabaya, tercatat 2.265 orang berangkat menuju Gelora Bung Karno (GBK), Jakarta. Mereka akan mengikuti Misa Agung yang dipimpin Paus Fransiskus hari ini (5/9). Perinciannya, 46 imam dan 2.219 umat berangkat dengan berbagai tipe kendaraan.
Humas Komisi Komsos Keuskupan Surabaya Karolus Dani mengatakan, sebagian umat dan imam berangkat sejak Selasa (3/9). ”Paling lambat berangkat hari H menggunakan pesawat pagi hari,” tuturnya.
Dani mengatakan, tiap paroki gereja dibebaskan mengatur keberangkatan umatnya. Apakah secara mandiri atau rombongan. ”Jadi, ada yang memang disediakan bus biar bareng-bareng, ada juga yang dibiarkan mandiri,” sambung pria asli Surabaya itu.
Dani menjelaskan, antusiasme umat amat tinggi. Halangannya kalau mereka tidak bisa izin kerja atau izin sekolah. Karena itu, gereja Katolik setempat membuka sesi misa secara daring. Humas Gereja Katolik Hati Kudus Yesus Surabaya itu mengatakan, pihaknya juga membuka sesi misa di aula gereja. ”Jadi, sesi misa biasa yang jam 6 sore ditiadakan dulu,” ucapnya.
Pastor Kepala Paroki Gereja Katolik Kristus Raja Surabaya Romo Markus Marselinus Hardo Iswanto CM menyatakan, hingga kemarin jemaat Surabaya berangsur-angsur bertolak ke Jakarta. Termasuk dari jemaat Gereja Katolik Kristus Raja (GKR). ”Ada 50-an jemaat dari GKR yang ke Jakarta, termasuk saya,” ujar Romo Hardo kemarin (4/9).
Pihaknya berangkat lebih awal, termasuk dengan romo-romo lainnya. Sebab, hari ini dijadwalkan ada pertemuan dengan Paus Fransiskus di Katedral Jakarta. Menurut dia, perjalanan itu dijadikan sebagai peristiwa iman. Tak hanya menghadiri misa akbar, tapi juga layaknya ziarah rohani. ”Sejatinya, kedatangan Paus juga sebagai rasa syukur dan mendoakan masyarakat dan pemerintah di Indonesia,” ujarnya. (lyn/dya/zam/c19/dio)
Editor : A'an