JAKARTA - Kabinet di era Presiden Joko Widodo hanya ada 34 kementerian. Kini, di era Presiden Prabowo, jumlahnya menjadi 48 kementerian. Itu berarti ada kementerian baru yang membutuhkan gedung dan staf.
Kementerian Kehutanan adalah salah satu kementerian baru. Sebelumnya, mereka bergabung dengan Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan. Kementerian Kehutanan dipimpin oleh Raja Juli Antoni. Raja belum bisa menjelaskan banyak meski sudah membaca peraturan presidennya. Dia sempat membaca draf terakhir yang belum ditandatangani Presiden Prabowo Subianto. ’’Besok pagi,” katanya ketika ditanya kapan serah terima jabatan.
Kementerian lain yang dipisah adalah Kementerian UMKM dan Kementerian Koperasi. Kementerian UMKM dipimpin oleh Maman Abdurahman. Sedangkan Kementerian Koperasi dikepalai Budi Arie Setiadi. Keduanya sudah berbagi kantor. ’’Kami di Smesco Indonesia dan (kantor) yang di Jalan Rasuna Said akan jadi kantor Kementerian Koperasi,” ungkap Maman.
Penambahan jumlah kementerian juga memicu persoalan infrastruktur. Pasalnya, jumlah gedung yang tersedia terbatas. Salah satu yang terdampak adalah Kementerian Koordinator Pemberdayaan Masyarakat yang dipimpin Muhaimin Iskandar. Muhaimin mengaku belum diberi lokasi khusus. Berdasar arahan dari menteri sekretaris negara, dirinya diminta berkantor di gedung Kemenko PMK. ’’Saya dapat kabar dari Mensesneg Pak Pras, saya akan berkantor di sini, di kantor PMK,’’ ujarnya usai sertijab.
Kemarin Cak Imin langsung berkeliling melihat sekitar kantornya. Dia akan mendapat ruang tidak jauh dari bangunan depan Kemenko PMK. Dengan demikian, Cak Imin akan berbagi gedung dengan Kemenko PMK yang dipimpin Pratikno.
Bukan hanya ruangan, Ketum PKB itu juga belum memiliki staf. Dia menyerahkan sepenuhnya kepada sekretaris menteri PMK untuk menyediakan staf, termasuk pengisian deputi. ’’Mungkin kita cari satu atau dua deputi yang bisa sinkronisasi dunia usaha kecil dengan pemberdayaan sosial,’’ ujarnya.
Belum adanya kejelasan kantor disampaikan juga oleh Menteri Kebudayaan Fadli Zon. Maklum, Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi (Kemendikbudristek) kini dipecah menjadi tiga kementerian. Yakni, Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah, Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi, serta Kementerian Kebudayaan.
’’Nah, kita ini kan orang baru di sini ya. Jadi kita lihat dulu ini, habis ini dilihatkan seperti apa,” ungkapnya ditemui usai sertijab.
Namun, dia yakin sudah ada pembagian-pembagian secara garis besar. Sementara detailnya masih menunggu nomenklatur lebih lanjut. ’’Yang pasti di sinilah (kantor Kemendikbudristek Senayan, Red). Mau di mana lagi,” ujarnya, lantas tertawa.
Baca Juga: Pemkab Kubu Raya Alokasikan 665 Formasi PPPK
Sertijab: Tawa, Tangis, dan Tertutup
ADA banyak cerita dari sertijab di berbagai kementerian. Yang haru, yang tertutup, sampai yang penuh gelak tawa.
Di kantor Kementerian Pendayagunaan Aparatur Negara dan Reformasi Birokrasi (Kemen PAN-RB), isak tangis mewarnai sertijab dari Abdullah Azwar Anas kepada Rini Widyanti. Beberapa pegawai terlihat menangis saat Anas pamitan.
’’Saya berterima kasih kepada seluruh tim di kantor ini. Karena sejak awal saya berkantor, kantor ini menjadi rumah kedua bagi semua penghuninya,” ujar Anas.
Di kantor Kementerian Perhubungan (Kemenhub) lain lagi. Seremoni estafet kepemimpinan dari Budi Karya Sumadi ke Dudy Purwagandhi malah berlangsung tertutup. Padahal, sehari sebelumnya, Kemenhub telah memberikan undangan sertijab secara terbuka. ’’Saya juga tidak tahu kenapa. Sekarang saya sudah resmi tidak menjadi juru bicara ya,’’ papar Aditia Irawati, mantan juru bicara Kemenhub.
Mengocok Perut
Yang paling ger-geran terjadi saat serah terima jabatan (sertijab) dari Menteri Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi (Mendikbudristek) Nadiem Makarim ke Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah Abdul Mu’ti. Kementerian yang dipimpin Sekum PP Muhammadiyah tersebut pecahan dari Kemendikbudristek.
Dua kementerian pecahan lainnya adalah Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi yang dijabat Satryo Soemantri Brodjonegoro dan Kementerian Kebudayaan yang dipimpin Fadli Zon. Sertijab ketiganya berlangsung bersamaan di tempat yang sama.
Setelah mengapresiasi kerja keras sang pendahulu, Mu’ti menceritakan Nadiem datang dalam pengukuhan guru besarnya di UIN Syarif Hidayatullah.
’’Mas Nadiem tetap keep in touch dan jangan khawatir, saya akan tetap menjadi pelanggan setia Gojek,” guyonnya yang disambut gelak tawa undangan.
Kelakar Mu’ti terus berlanjut. Tentang mengapa Presiden Prabowo Subianto memilih dirinya sebagai menteri pendidikan dasar dan menengah. Menurutnya, kemungkinan alasannya karena pertimbangan usia.
’’Dibandingkan Prof Satrio dan Bang Fadli, saya lebih muda. Sehingga lebih tepat saya mengurusi anak-anak sekolah,” kelakar pria kelahiran 2 September 1968 itu.
Tak lupa, Mu’ti juga menyampaikan terima kasih kepada sang ibunda. Tapi, di tengah keharuan, sempat-sempatnya dia melemparkan ’’punchline’’: ’’Itu (emak) pakai tongkat komando seperti jenderal, padahal sebenarnya tongkat komando supaya jalannya tidak jatuh,” katanya. (far/mia/lyn/c17)
Editor : Miftahul Khair