JAKARTA - Perubahan di posisi sentral terjadi di PP PBSI periode 2024-2028 pimpinan M Fadil Imran. Ricky Soebagdja dari kabidbinpres menjadi sekjen. Sedangkan posisi kabidbinpres diemban Eng Hian yang sebelumnya menjabat sebagai pelatih ganda putri.
Fadil menjelaskan, terkait penunjukkan pos baru, pihaknya sudah memiliki Key Performance Indicator (KPI). Dia memberi contoh soal penunjukkan Eng Hian.
"Kami taat pada KPI tersebut berdasar hasil asesmen, bahwa memang yang terbaik dari yang ada adalah beliau (Eng Hian)," sebutnya ketika diwawancarai di Hall Basket Senayan, Jakarta, Minggu (1/12).
Menurutnya, kepelatihan ini bukan hanya soal bagaimana melatih di lapangan. Tapi juga aspek manajerial dan strategi. "Penguasaan dan aplikasi teknologi juga diperlukan. Tidak boleh lagi kita mengajar dan melatih dengan cara otodidak, tapi betul-betul semua tersusun dengan baik. Itu saya kira," jelasnya.
Namun, sambungnya, bukan berarti pelatih yang lain tidak dimaksimalkan. Tapi, status dan posisinya yang berbeda. Oleh sebab itu, setelah menentukan Kabidbinpres, pihaknya langsung berburu talenta pelatih yang banyak. "Karena pelatih merupakan salah satu elemen untuk menciptakan atlet. Maka dalam waktu dekat kami akan umumkan untuk melakukan rekrutmen terbuka," sebutnya.
Mantan Kapolda Metro Jaya tersebut menyatakan, dengan sistem terbuka memberikan kesempatan yang sama untuk para pelatih. Nantinya, para kandidat akan mendaftar secara online maupun offline. "Setelah itu akan ada pemeriksaan data terkait dengan latar belakang. Kemudian akan ada asesmen," ujarnya.
Nah, asesmen itulah nantinya yang jadi pertimbangan bagi Taufik Hidayat selaku Wakil Ketua Umum I Bidang Binpres. Mereka akan dipilih siapa saja yang akan menduduki posisi di masing-masing sektor. PBSI bakal membuka pendaftaran mulai Senin (2/12) melalui akun media sosial PBSI.
Lewat metode ini, Fadil merasa telah memberikan hak yang sama bagi semua pelatih untuk mendaftar.
Mengenai batas waktu, Fadil menyebutkan kemungkinan sampai akhir tahun. Hal itu lantaran berkaitan dengan kontrak yang ada. "Kontrak akan berakhir di tanggal 31 Desember. Otomatis masuk Januari sudah harus ada pelatih baru," ujarnya.
Sementara itu, Marcus Fernaldi Gideon berharap pelatih ke depannya bisa lebih difokuskan. Sebab, Indonesia memiliki banyak pelatih bagus. "Jangan sampai Pelatnas dapat pelatihnya nggak terlalu kompeten. Pasti tahu lah. Kita nggak bisa sebut nama. Heran kenapa ini bisa ada di sini, CV nya mana,’’ sindirnya.
''Tidak ada CV. Kan bingung. Apalagi ini nanganin atlet untuk rangking 1 dunia. Kan nggak semua orang bisa," bebernya. Gideon mengaku pernah punya pengalaman soal pelatih yang dinilai tidak kompeten.
Dia ditanya mau latihan apa oleh pelatih. "Jadi sama-sama bingung, malah ditanya mau latihan apa. Jadi bingung atletnya siapa, pelatih siapa," ucapnya. Gideon sendiri belum berkeinginan menjadi pelatih, karena merasa belum memiliki pengalaman. (raf/bas)
Editor : A'an