Nasional Metropolis Daerah Pro Bisnis Ekonomi Olahraga Otomotif Internasional Kriminal Features Mozaik Ramadan Tekno Entertainment Event Kesehatan Kuliner Lifestyle Ragam Cahaya Iman

Rupiah Melemah: BI Pastikan Kondisi Saat Ini Berbeda dari Krisis 1998

A'an • Jumat, 28 Maret 2025 | 12:44 WIB
Ilustrasi mata uang rupiah terhadap dolar AS. (Dok. JawaPos.com)
Ilustrasi mata uang rupiah terhadap dolar AS. (Dok. JawaPos.com)

PONTIANAK POST - Nilai tukar rupiah masih belum bisa lepas dari tekanan. Data, Jakarta Interbank Spot Dollar Rate (Jisdor) kemarin (27/3) tercatat di level Rp 16.566 per dolar AS (USD). Angka itu menguat 0,13 persen dari posisi Rabu (26/3) yang mencapai Rp 16.588 per dolar AS.

Meski dua hari belakangan rupiah tercatat mengalami kenaikan, pada Selasa (25/2), mata uang Garuda sempat berada di level Rp 16.662 per USD. Angka itu mendekati level depresiasi pada 1998 silam yang ada di level Rp 16.800-an.

Pengamat Ekonomi Universitas Andalas Syafrudin Karimi menyebutkan, pelemahan rupiah merupakan kombinasi berbagai sentimen. Salah satunya terjadi setelah Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump mengisyaratkan rencana tarif otomotif terhadap Uni Eropa.

 “Kombinasi ketegangan perdagangan, lonjakan pesanan barang tahan lama AS, dan pernyataan hawkish dari pejabat The Fed memperkuat posisi USD sebagai aset lindung nilai. Sementara itu, rupiah melemah tipis di tengah ketidakpastian arah kebijakan fiskal domestik,’’ ujarnya di Jakarta, kemarin (27/3).

Di tengah kondisi pelemahan rupiah, pemerintah masih berkeyakinan fundamental ekonomi dalam negeri tetap terjaga baik. Menko Perekonomian Airlangga Hartarto menyebutkan, fluktuasi nilai rupiah merupakah hal yang lumrah terjadi.

’’Rupiah seperti biasa berfluktuasi. Tapi, tentu kita lihat secara fundamental kuat. Kemudian, kita lihat nanti secara jangka menengah dan panjang kita punya ekspor juga bagus, kita punya cadangan devisa juga kuat, neraca perdagangan bagus,’’ ujarnya.

Selain itu, pemerintah juga telah menerapkan aturan terbaru mengenai devisa hasil ekspor (DHE) yang mampu meningkatkan valas ke depan sehingga fundamental DHE tersebut nantinya juga akan memperkuat posisi rupiah.

Kepala Departemen Kebijakan Makroprudensial Bank Indonesia Solikin M. Juhro menjelaskan, pelemahan nilai tukar rupiah saat ini berbeda dengan krisis 1998. Kala itu ditandai dengan depresi mata uang Garuda yang tajam dalam waktu singkat. "Kondisi yang terjadi itu totally different,” ucapnya.

Saat ini, lanjut dia, depresiasi rupiah berjalan bertahap. Sejak di level Rp 15 ribu per USD hingga merangkak ke level Rp 16 ribuansesuai pergerakan pasar uang.

Selain itu, cadangan devisa (cadev) pada 1998 hanya sekitar USD 20 miliar. Kini, posisi cadev per Februari 2025 cukup tinggi sebesar USD 154,5 miliar. “Apakah kondisi saat ini masih jauh dari 1998? Saya berani afirmasi ini masih jauh. Dulu kerentanan di sektor keuangan dan utang tidak teridentifikasi dengan baik. Sekarang, BI dan pemerintah sudah memiliki mekanisme yang kuat untuk mendeteksi potensi pelemahan ekonomi,” bebernya.

Sementara itu, Menteri Koordinator (Menko) Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto mengatakan bahwa pemerintah berupaya agar nilai rupiah tak melemah dengan menjaga harga ekspor dan deregulasi.

“Tentu ekspor harus terus jalan, kemudian deregulasi (sesuai) arahan Bapak Presiden, dan perizinan dipermudah sehingga impor ekspor lebih lancar,” kata Airlangga.

Terkait nilai rupiah yang dinilai fluktuatif dalam beberapa hari terakhir, Airlangga menegaskan fundamental ekonomi Indonesia tetap kuat meskipun pergerakan rupiah fluktuatif. Fundamental kuat itu dilihat dari cadangan devisa yang kuat, neraca perdagangan yang juga bagus, dan devisa hasil ekspor (DHE) yang saat ini seluruhnya disimpan di dalam negeri.

"Ya rupiah seperti biasa berfluktuasi, tetapi tentu kami lihat secara fundamental kuat, kemudian juga kami lihat nanti secara jangka menengah dan panjang," kata Menko Airlangga.(dee/han/ant)

Editor : A'an
#kenaikan #nilai tukar #pelemahan #depresiasi #rupiah