PONTIANAK POST – Menteri Luar Negeri (Menlu) Sugiono memberangkatkan bantuan kemanusiaan dari Baznas ke Myanmar kemarin (3/4). Bantuan sebanyak 16 ribu paket senilai Rp 2,5 miliar itu dilepas di Pangkalan TNI-AU Halim Perdanakusuma, Jakarta.
”Pada pagi hari ini (kemarin pagi, Red), kita akan melepas bantuan kemanusiaan ke Myanmar sesuai dengan arahan Presiden Indonesia Prabowo Subianto,” ujar Sugiono.
Dia mengatakan, selain dari Baznas, pemerintah Indonesia juga bersinergi dengan Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB), Palang Merah Indonesia (PMI), Kementerian Kesehatan, Kementerian Pertanian, serta lembaga resmi lainnya untuk turut mengirimkan bantuan. ”Total bantuan yang dikirimkan mencapai 124 ton atau setara dengan USD 1,2 juta, yang jika dikonversikan ke dalam rupiah berdasarkan nilai tukar saat ini setara dengan sekitar Rp 19,8 miliar,” jelas Sugiono.
Dari jumlah tersebut, Baznas berkontribusi dengan mengirimkan 16 ribu paket bantuan kemanusiaan senilai Rp 2,5 miliar. Bantuan tersebut terdiri atas 100 genset, 50 tenda, 10.000 sarung, 1.000 paket hygiene kit khusus wanita dan anak-anak, 5.000 lembar selimut, 50 terpal, serta obat-obatan yang sangat dibutuhkan masyarakat terdampak gempa di Myanmar. Sugiono menyampaikan, berdasarkan hasil rapat Kemenlu se-ASEAN, bantuan yang sangat dibutuhkan adalah selter, alat-alat kesehatan, dan obat-obatan.
Lebih lanjut, dia mengungkapkan, situasi keamanan dan politik di Myanmar masih belum kondusif. Hingga saat ini, jumlah korban dan tingkat kerusakan akibat gempa masih terus bertambah. ”Berdasarkan data yang kami miliki, hingga hari ini (kemarin, Red) terdapat 2.886 korban jiwa dan 4.636 orang mengalami luka-luka. Sementara itu, sekitar 300 orang masih dinyatakan hilang,” ujarnya. Dia juga memastikan, berdasarkan pemantauan dan laporan dari KBRI di Myanmar, tidak ada warga negara Indonesia yang menjadi korban gempa.
Sementara itu, Ketua Baznas Prof Noor Achmad menegaskan, bantuan tersebut merupakan bagian dari komitmen pihaknya dalam mendukung upaya kemanusiaan global. Mereka memastikan, bantuan yang dikirim sesuai dengan kebutuhan penyintas di Myanmar. ”Selain bantuan logistik, kami juga mengirimkan tim medis dari Rumah Sehat Baznas yang terdiri atas lima orang serta Tim Baznas Tanggap Bencana sebanyak lima orang. Mereka akan membantu korban gempa,” ujar Noor.
Dia menegaskan komitmen Baznas untuk terus aktif dalam berbagai aksi kemanusiaan, baik di dalam negeri maupun internasional. Noor juga berharap bantuan tersebut dapat meringankan beban masyarakat terdampak gempa di Myanmar serta memperkuat solidaritas antara Indonesia dan Myanmar dalam menghadapi situasi darurat. ”Pemerintah dan Baznas akan terus mengawal proses distribusi agar bantuan tepat sasaran dan bermanfaat bagi para penyintas,” ujarnya.
Korban Gempa Kesulitan Perbaiki Rumah
Sementara itu, para korban gempa di Sagaing, Myanmar kesulitan untuk membangun kembali rumah mereka yang telah rata dengan tanah. Mereka sudah tidak punya biaya lagi.
“Saya tidak tahu bagaimana cara bisa memperbaiki rumah,” kata Cho Cho Mar, salah seorang perempuan yang sedang mengantre bantuan. Selain tidak punya tempat tinggal lagi, ibu dari tiga anak tersebut juga harus bersaing dengan para korban lain untuk mendapatkan bantuan.
Banyak bangunan, terutama rumah para warga di Sagaing yang roboh karena gempa. Warga yang tidak punya tempat tinggal membuat tempat berteduh dengan peralatan seadanya. Salah satunya tenda darurat yang hanya berukuran dua kali dua meter saja. Dua sepeda motor dijadikan tiang tenda yang berdiri di tengah kota tersebut. Di dalamnya terlihat dua orang pria dan peralatan seadanya.
Dilansir dari AFP, Sagaing merupakan kota yang mengalami kerusakan terparah. Tim penyelamatan dan sukarelawan hingga kini terus bekerja. Setelah mengevakuasi korban yang terjebak reruntuhan, mereka kini membantu pengungsi untuk mendapatkan kebutuhan dasar. (wan/oni/lyn/gas)
Editor : Hanif