Nasional Metropolis Daerah Pro Bisnis Ekonomi Olahraga Otomotif Internasional Kriminal Features Mozaik Ramadan Tekno Entertainment Event Kesehatan Kuliner Lifestyle Ragam Cahaya Iman Cek Fakta For Her Jelita Bursa Properti

Ekspor Kalbar Terancam! Tarif Impor AS di Era Trump Bisa Jadi Masalah Besar!

Idil Aqsa Akbary • Senin, 7 April 2025 | 09:54 WIB
PERANG TARIF: Kebijakan tarif resiprokal yang diumumkan presiden AS Donald Trump berlaku mulai 9 April 2025. Kebijakan ini diprediksi akan mempengarungi nilai ekspor Indonesia ke negeri Paman Sam.
PERANG TARIF: Kebijakan tarif resiprokal yang diumumkan presiden AS Donald Trump berlaku mulai 9 April 2025. Kebijakan ini diprediksi akan mempengarungi nilai ekspor Indonesia ke negeri Paman Sam.

PONTIANAK POST - Presiden Amerika Serikat, Donald Trump kembali menggebrak kebijakan dagang global dengan mengumumkan tarif impor baru bagi negara mitra, termasuk Indonesia. Tarif balasan itu cukup tinggi, mencapai 32 persen. Kebijakan ini langsung memunculkan kekhawatiran dari berbagai kalangan, termasuk pengamat ekonomi dari Universitas Tanjungpura (Untan) Pontianak, Eddy Suratman.

“Kalau diberlakukan, itu kan akan menyebabkan harga barang-barang dari Indonesia ke Amerika jadi lebih mahal. Konsumen mereka pasti akan mengurangi pembelian. Akibatnya, produksi kita terganggu, keseimbangan ekonomi dalam negeri pun bisa goyah,” ujar Eddy saat dimintai tanggapan, Minggu (6/4).

Menurutnya, efek domino dari tarif ini tidak main-main. Jika produksi menurun karena pasar menipis, maka permintaan bahan baku, tenaga kerja, hingga konsumsi listrik juga bakal turun. “Kalau itu terjadi secara masif, maka ekonomi kita pasti terganggu,” jelasnya.

Secara nasional, Amerika memang masih menjadi salah satu tujuan ekspor penting bagi Indonesia. Jika ekspor ke sana menyusut drastis, tentu efeknya bisa signifikan. “Kalau alokasi ekspor kita berkurang cukup besar, tentu akan berdampak,” katanya.

Eddy menjelaskan, meski ekspor langsung dari Kalbar ke Amerika relatif kecil, tapi dampaknya bisa tetap terasa. “Tiga besar tujuan ekspor Kalbar itu India, China, dan Australia. Mereka menyerap sekitar 88 persen. Jadi barang dari Kalbar bisa saja tak langsung ke AS, tapi dikumpulkan di Jakarta, dan baru diekspor,” paparnya.

Ia mencontohkan komoditas seperti kratom, dan produk-produk kayu. “Kalau permintaan kratom di Amerika turun karena harga jadi mahal, ya kita juga akan kena imbas. Walau tidak ekspor langsung, tetap akan berpengaruh,” ujarnya.

Menurut Eddy, pemerintah Indonesia harus segera ambil langkah. Ada dua opsi yang menurutnya bisa dilakukan. “Pertama, tentu lewat diplomasi bilateral dengan Amerika. Kita bisa gunakan hubungan dagang mereka ke kita sebagai alat negosiasi. Amerika kan juga banyak mengekspor barang ke kita, tarif kita itu bisa jadi alat negosiasi,” usulnya.

Lalu opsi yang kedua adalah melakukan perlawanan. Namun untuk yang satu ini menurutnya tak bisa dilakukan sendiri. Melainkan harus bersama dengan negara-negara lain. “Kita (Indonesia) kalau sendirian tidak bisa, melawan Amerika itu saya kira bukan tandingan kita. Tapi kalau bersama negara ASEAN, Eropa, dan China, mungkin bisa jadi tekanan balik ke Amerika,” katanya.

Meski begitu, ia mengakui langkah itu sulit dilakukan. “Amerika juga tentu sudah hitung-hitungan. Tapi kalau salah strategi, mereka juga bisa kena sendiri. Masalahnya, sulit buat kompak, jangankan antar negara, dalam satu negara saja susah kompak,” imbuhnya.

Eddy menambahkan, jika kebijakan tarif itu terus berlanjut diperkirakan dampaknya bisa ke mana-mana. “Industri, dan pertanian bisa terganggu, pengangguran meningkat, pendapatan turun, lalu inflasi naik. Nilai tukar juga bisa makin lemah karena devisa kita terus tergerus. Jadi memang harus cepat, seperti Vietnam saya dengar langsung negosiasi dengan Amerika, jadi mereka cepat merespon ini,” urainya.

Seperti diketahui, dari data terbaru BPS menunjukkan, nilai ekspor Kalbar pada Januari 2025 anjlok 15,40 persen dibanding Desember 2024, yakni dari USD230 juta menjadi USD194,59 juta. Komoditas unggulan ekspor masih didominasi Bahan Kimia Anorganik, Minyak Nabati, dan Karet.

Sementara dari catatan Bank Indonesia Kalbar, ekspor Kalbar sepanjang 2024 mencapai USD2,086 miliar, dengan tujuan utama negara India sebesar USD673,13 juta (32,26%), komoditas alumina, dan karet, CPO. Kemudian Tiongkok sebesar USD376,87 juta (18,06%), komoditas CPO, alumina, dan karet.

Lalu Jepang sebesar USD166,73 juta (7,99%), dengan komoditas karet, dan alumina. Disusul Malaysia sebesar USD156,39 juta (7,50%), Korea Selatan sebesar USD72,73 juta (3,49%), dan lainnya sebesar USD640,71 juta (30,71%).

Sebagian besar tujuan ekspor Kalbar memang masih dominan ke negara Asia. Tapi dengan sifat perdagangan yang global, gejolak di satu titik, seperti tarif tinggi dari Amerika tetap bisa menciptakan riak panjang yang berimbas ke daerah ini. Seperti misalnya komoditas kratom, diperkirakan ekspor ke Amerika cukup besar, namun karena tidak langsung melalui pintu ekspor Kalbar, maka nilai ekspornya tercatat dari Pulau Jawa. Jika permintaan kratom menurun akibat kebijakan tersebut, otomatis berdampak pada usaha karatom di provinsi ini. (bar)

Editor : Hanif
#kebijakan #donald trump #Efek Domino #dagang #Tarif impor AS