PONTIANAK POST – Gunung Semeru yang berada di perbatasan Kabupaten Lumajang dan Malang, Jawa Timur, tercatat mengalami tujuh kali erupsi sepanjang Selasa (16/4), dengan tinggi kolom letusan mencapai 1.000 meter di atas puncak.
Letusan pertama terjadi pada pukul 00.21 WIB, disusul letusan kedua empat menit kemudian. Saat itu, visual letusan tidak teramati akibat tertutup kabut, dan erupsi dilaporkan masih berlangsung saat laporan disusun.
“Kolom abu teramati berwarna putih hingga kelabu dengan intensitas sedang ke arah timur laut,” ujar Petugas Pos Pengamatan Gunung Semeru, Liswanto, dalam laporan tertulis yang diterima di Lumajang.
Rangkaian Erupsi Sejak Dini Hari hingga Malam
Berikut kronologi singkat erupsi Gunung Semeru:
Pukul 05.54 WIB: Kolom letusan mencapai 700 meter dari puncak atau 4.376 meter di atas permukaan laut (mdpl), arah abu ke timur laut.
Pukul 07.32 WIB: Letusan setinggi 500 meter, kolom abu tebal mengarah ke barat daya. Amplitudo 22 mm, durasi 118 detik.
Pukul 09.18 WIB: Letusan tertinggi tercatat 1.000 meter. Abu tebal mengarah ke barat daya, amplitudo 22 mm, durasi 190 detik.
Pukul 19.14 WIB dan 22.04 WIB: Letusan malam hari tidak teramati secara visual karena cuaca berkabut, namun terekam di seismograf. Durasi 120–133 detik, amplitudo maksimum tetap 22 mm.
Status Waspada, Warga Diminta Jauhi Sektor Tenggara dan Sungai
Gunung Semeru saat ini berada pada Status Level II (Waspada). Berdasarkan rekomendasi dari Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG), masyarakat diminta:
- Tidak melakukan aktivitas apapun di sektor tenggara sepanjang Besuk Kobokan sejauh 8 km dari puncak.
- Di luar jarak tersebut, tidak beraktivitas 500 meter dari tepi sungai karena potensi perluasan awan panas dan aliran lahar hingga jarak 13 km.
- Menjauhi radius 3 km dari kawah/puncak, karena rawan lontaran batu pijar.
- Mewaspadai potensi guguran lava, awan panas, dan lahar hujan di sepanjang Besuk Kobokan, Besuk Bang, Besuk Kembar, Besuk Sat, serta anak sungai dari Besuk Kobokan. (mif)