PONTIANAK POST – Februari lalu, di Ruang Oval Gedung Putih, Presiden Amerika Serikat Donald Trump menuding Presiden Ukraina Volodymyr Zelensky sebagai penyebab perang dengan Rusia yang tak kunjung berakhir. Bahkan hingga Jumat (25/4) pekan lalu, tudingan serupa masih dilontarkan Trump kepada Zelensky.
Namun, tiba-tiba Trump bak pengemudi mobil yang berbelok tanpa menyalakan lampu sein. Setelah bertemu Zelensky di sela pemakaman Paus Fransiskus di Basilika Santo Petrus, Vatikan, pada Sabtu (26/4), Trump justru menuding Presiden Rusia Vladimir Putin sebagai pihak penyebab perang yang sudah berlangsung sejak 24 Februari 2022 itu tak kunjung selesai.
“Tak ada alasan bagi Putin untuk menembakkan misil ke area sipil, kota besar dan kecil, dalam beberapa hari terakhir,” tulis Trump di akun Truth Social, seperti dikutip dari The Guardian.
“Ini membuat saya berpikir mungkin dia tidak ingin perang berakhir, dia menyeret saya, dan harus menyelesaikan ini dengan cara berbeda, melalui ‘Perbankan’ atau ‘Sanksi Kedua?’ Terlalu banyak orang yang jadi korban,” lanjut Trump dalam unggahannya.
Pertemuan Trump dan Zelensky itu merupakan yang pertama sejak keduanya bertemu di Gedung Putih pada Februari lalu. Keduanya berbicara secara empat mata selama 15 menit, tanpa pendamping, dalam jarak sekitar setengah meter saja.
“Pertemuan yang bagus. Secara pribadi, kami berhasil membahas banyak hal. Kami berharap ada hasil dari semua hal yang dibicarakan,” tulis Zelensky dalam unggahan di Telegram seusai pertemuan, seperti dikutip dari AFP.
Ia menambahkan, topik pembahasan meliputi perlindungan terhadap rakyat Ukraina, gencatan senjata menyeluruh dan tanpa syarat, serta perdamaian abadi yang dapat mencegah pecahnya perang kembali. Zelensky menyebut pertemuan itu sebagai momen simbolis yang bisa menjadi sejarah jika menghasilkan sesuatu yang konkret.
Gedung Putih, yang diwakili Direktur Komunikasi Steven Cheung, juga menyebut pertemuan tersebut berlangsung sangat produktif. “Rincian lebih lanjut akan diumumkan,” ujarnya.
Sayangnya, rencana untuk menggelar pertemuan lanjutan di Roma pada malam harinya batal terlaksana. Pesawat Trump meninggalkan Roma tanpa kabar pertemuan kedua.
Baca Juga: Di Balik Proyek Energi Hijau di Kalbar: Asap dan Debu Cemari Udara
Korban Berjatuhan
Perang antara Rusia dan Ukraina sebenarnya telah berlangsung sejak 2014, ketika Rusia menganeksasi Krimea. Perang meletus kembali setelah Rusia kembali menginvasi tetangganya itu pada 24 Februari 2022.
Sampai dengan kemarin (27/4), Rusia telah merebut sekitar 20 persen wilayah Ukraina. Korban jiwa, baik militer maupun sipil, telah mencapai ratusan ribu di kedua pihak. Sekitar 8,2 juta warga Ukraina juga harus mengungsi.
Namun, lamanya durasi perang itu mengagetkan banyak pihak. Sebab, dengan keunggulan kekuatan militer yang jauh, Rusia semula diperkirakan bakal dengan mudah menaklukkan Ukraina.
Dalam foto yang dirilis kantor Zelensky, terlihat momen saat Trump, Zelensky, Perdana Menteri Inggris Keir Starmer, dan Presiden Prancis Emmanuel Macron berdiri berdiskusi dalam formasi rapat di Vatikan. Tangan Macron tampak bersandar di bahu Zelensky, menggambarkan dukungan moral dari sesama pemimpin dunia.
Trump, juga dalam unggahan di Truth Social, mengklaim bahwa pembicaraan perdamaian Ukraina–Rusia sudah mendekati kesepakatan. “Sebagian besar poin utama telah disetujui. Sekarang kedua pihak harus bertemu di tingkat tinggi untuk menyelesaikannya,” tulisnya.
Namun, sampai dengan kemarin (27/4), belum ada kejelasan tentang rincian kesepakatan tersebut. Trump, yang selama kampanye presiden AS berjanji dapat mengakhiri perang dalam satu hari setelah dilantik, menyatakan ketidakpuasannya jika tidak ada kemajuan nyata. “Segalanya akan terjadi,” katanya.
Pembicaraan Rusia dan AS
Dari pihak Rusia, mantan Duta Besar Rusia untuk AS yang kini menjadi tangan kanan Kremlin, Yuri Ushakov, mengonfirmasi adanya pembicaraan konstruktif antara utusan AS Steve Witkoff dengan Presiden Putin. Ushakov menyebutkan, pembahasan termasuk kemungkinan menghidupkan kembali negosiasi langsung antara Kyiv dan Moskow.
Namun, Ukraina tetap tegas menolak mengakui Krimea sebagai bagian dari Rusia. Zelensky mengakui, diplomasi mungkin menjadi jalan yang harus ditempuh untuk mengembalikan wilayah yang direbut Rusia, apalagi setelah serangan besar-besaran ke Kyiv yang menewaskan sedikitnya 12 orang belum lama ini.
“Saya setuju dengan Presiden Trump bahwa kami tidak memiliki cukup senjata untuk merebut kembali Krimea dengan kekuatan militer,” ujarnya.
Sebenarnya, Zelensky tidak hanya bertemu dengan Trump. Ia juga sempat melakukan pertemuan dengan Starmer di waktu yang hampir bersamaan. Pemerintah Inggris menyatakan bahwa kedua pemimpin membahas kemajuan yang telah dicapai untuk meraih perdamaian. Pekan lalu, pertemuan untuk membahas perang Rusia–Ukraina digelar di London. Namun, ketika itu AS tidak mengirimkan perwakilan. (lyn/ttg)
Editor : Hanif