PONTIANAK POST – Tepat sepekan setelah truk militer milik Yonif 509 terbakar dan meledak di Tol Gempol–Pandaan, Jawa Timur, kemarin kejadian memilukan kembali terjadi di lingkungan TNI Angkatan Darat. Insiden maut saat pemusnahan amunisi tak layak pakai di Desa Sagala, Garut, Jawa Barat, menewaskan 13 orang.
Sebanyak sembilan di antara korban tersebut merupakan warga sekitar. Sampai tadi malam pukul 21.00, mereka teridentifikasi sebagai Agus bin Kasmin, Ipan bin Obur, Anwar bin Inon, Iyus Ibing bin Inon, Iyus Rizal bin Saepuloh, Toto, Dadang, Rustiawan, dan Endang.
Sementara itu, empat anggota TNI yang turut menjadi korban adalah Kepala Gudang Pusat Munisi III Pusat Peralatan TNI AD Kolonel (Cpl) Antonius Hirmawan, Kepala Seksi Administrasi Pergudangan Gudang Pusat Amunisi III Pusat Peralatan TNI AD Mayor (Cpl) Peralatan Anda Rohanda, serta dua anggota Gudang Pusat Amunisi III, yaitu Kopda Eri Priambodo dan Pratu Apriu Seriawan.
Kepala Dinas Penerangan Angkatan Darat (Kadispenad) Brigjen TNI Wahyu Yudhayana mengungkapkan,insiden terjadi saat Tim Pemusnahan Amunisi (Gupusmi) TNI tengah melaksanakan prosedur penghancuran amunisi aktif yang sudah tidak layak pakai. Proses pemusnahan dilakukan di lokasi milik Balai Besar Konservasi Sumber Daya Alam (BBKSDA) Garut yang berada di kawasan Kecamatan Cibalong. Lokasi tersebut dinilai aman karena jauh dari permukiman warga.
“Sebelum pelaksanaan, tim sudah melakukan pengecekan personel dan lokasi. Dua lubang sumur disiapkan untuk proses peledakan dan telah dinyatakan aman oleh tim pengamanan,” kata Wahyu dalam keterangan resmi, kemarin.
Lokasi itu, tambah Wahyu, juga sudah sering digunakan untuk pemusnahan amunisi tak layak pakai. Setelah pemusnahan awal berhasil, tim kembali menyiapkan satu lubang tambahan untuk menghancurkan sisa detonator. Namun, nahas, saat proses penyusunan amunisi di lubang ketiga terjadi ledakan hebat.
“Akibatnya, 13 orang meninggal dunia di lokasi, terdiri dari sembilan warga sipil dan empat personel Gupusmi 3 Jakarta,” ujarnya.
Penyebab kejadian masih dalam tahap penyelidikan oleh TNI AD. “Termasuk terkait dengan keberadaan korban sipil,” tambahnya.
Kedatangan Warga
Dalam keterangannya, Wahyu belum menjelaskan alasan keberadaan warga sipil di lokasi pemusnahan. Namun, dalam sebuah video yang beredar luas di media sosial terdengar suara seseorang menghitung satu, dua, dan tiga, lalu terjadi dua ledakan di lahan kosong yang tampak seperti padang rumput. Setelah kedua ledakan, sejumlah warga terlihat mengendarai sepeda motor mendekat ke lokasi. Tidak diketahui apakah mereka termasuk korban ledakan atau bukan.
Koran ini berusaha mengonfirmasi video tersebut kepada Wahyu, tetapi ia menyatakan tim masih menyelidiki, termasuk mengenai video yang beredar.
“Saat ini aparat terkait masih mengamankan lokasi peledakan. Lokasi masih disterilkan karena dikhawatirkan masih ada bahan berbahaya yang perlu diamankan,” katanya.
Seluruh korban telah dilarikan ke Rumah Sakit Umum Daerah Pameungpeuk, Garut, untuk mendapatkan penanganan medis dan proses identifikasi. Beberapa jenazah masih menunggu proses autopsi sampai dengan tadi malam.
Keterangan yang dihimpun dari warga menyebutkan, setelah ledakan pertama sejumlah orang justru mendekati lokasi karena penasaran. Mereka diduga hendak mengumpulkan sisa material logam seperti selongsong peluru dan kuningan yang memiliki nilai ekonomi. Namun, ledakan susulan kembali terjadi, menewaskan dan melukai warga yang berada di lokasi.
Camat Cibalong Dianavia Faizal membenarkan kejadian tersebut meski belum merinci kronologi dan jumlah korban. Adapun Sekretaris Camat Cibalong Sahrul Akbar menambahkan bahwa lokasi ledakan berada cukup jauh dari permukiman warga, sekitar lima kilometer, dan terletak di kawasan pesisir pantai.
“Lokasi itu memang sudah lama digunakan untuk pemusnahan bahan peledak, namun tidak dilakukan setiap hari. Kegiatan seperti ini sepenuhnya berada dalam wewenang TNI,” jelas Sahrul. (rzi/pra/idr/ttg)
Editor : Hanif