PONTIANAK POST – Al Hajju Arafah (Haji itu adalah Arafah). Hari ini rangkaian ibadah haji memasuki masa puncak. Yakni wukuf di padang Arafah. Jutaan jemaah dari berbagai negara akan berkumpul di Arafah untuk melaksanakan rukun wajib haji itu. Begitu pula jemaah haji asal Indonesia.
Kemarin proses mobilisasi jemaah dari hotel-hotel di sekitar Masjidilharam menuju Arafah berlangsung. Mobilisasi itu merupakan yang terbesar karena diikuti oleh lebih dari 221 ribu jemaah.
Pantauan Jawa Pos di Makkah, sejak subuh waktu Arab Saudi, bus-bus pengangkut jemaah tampak hilir mudik. Jemaah laki-laki telah mengenakan ihram, sementara jemaah perempuan berbusana haji. Mereka menunggu bus di lobi atau di depan hotel. Petugas berjaga untuk memastikan kloter diberangkatkan sesuai jadwal dan masuk bus sesuai daftar manifes.
Menteri Agama Nasaruddin Umar memantau langsung proses pemberangkatan jemaah haji. Sekitar pukul 10.00 WAS, ia menyambangi kawasan Syisyah, tepatnya di Hotel 217 Sektor 2. Di sana, Menag menyapa jemaah yang tengah menunggu giliran naik bus. Kedatangan Menag disambut antusias oleh jemaah haji Indonesia. Mereka berebut bersalaman dan berswafoto dengan Menag.
Nasaruddin juga masuk ke dalam bus. Dia menyalami jemaah dan mendoakan kelancaran ibadah selama masa puncak haji. Setelah itu, Nasaruddin bergerak ke hotel lain di sektor yang sama. Di setiap kunjungan, ia memastikan tidak ada jemaah yang tertinggal dan seluruh proses berjalan tertib. Ia menegaskan bahwa seluruh jemaah akan diberangkatkan ke Arafah tanpa terkecuali.
Pemerintah Indonesia telah berkoordinasi dengan otoritas Arab Saudi dan delapan syarikah penyedia transportasi agar semua jemaah, apa pun asal syarikahnya, bisa diangkut tepat waktu. "Bayangkan, hari ini lebih dari 200 ribu jemaah dari berbagai hotel di Makkah dipindahkan ke Arafah dalam hitungan jam. Ini butuh strategi logistik yang tidak main-main,” kata Nasaruddin.
Ia menyebut kerja besar itu melibatkan Kemenag, Kemenkes, TNI, Polri, otoritas Arab Saudi, serta delapan syarikah transportasi. Bahkan, kolonel dari TNI ikut ditugaskan untuk pengaturan massa. “Mereka sangat ahli dalam evakuasi dan mobilisasi skala besar. Kami sangat berterima kasih,” imbuhnya.
Safari Wukuf untuk 500 Orang
Salah satu dinamika penting menjelang puncak haji adalah perubahan keputusan pemerintah Arab Saudi soal tanazul atau kembalinya sebagian jemaah ke hotel sebelum waktu yang ditentukan.
Awalnya, Indonesia mengusulkan sekitar 36 ribu jemaah untuk ikut skema tanazul. Namun, keputusan tiba-tiba dari otoritas Saudi membatalkan seluruh rencana tersebut. Untung, lewat diplomasi intensif dan pendekatan berbasis data kondisi kesehatan jemaah, Indonesia mendapat izin tanazul terbatas.
“Tadinya semua dibatalkan. Tapi setelah kami laporkan ada 3.500 jemaah yang sangat riskan, akhirnya Saudi memberikan dispensasi khusus,” jelas Nasaruddin.
Dari 3.500 jemaah itu, ada sekitar 500 orang yang kondisi kesehatannya tidak memungkinkan untuk wukuf di Arafah. Karena itu, mereka mengikuti skema safari wukuf. Yakni, wukuf tanpa turun dari bus. Sekitar 250 jemaah yang dirawat di rumah sakit akan menjalani badal haji, yakni diwakilkan sepenuhnya. Menag lantas menjelaskan perbedaan antara badal dan taukil (mewakilkan atau diwakilkan).
’Kalau badal itu pengganti penuh, sedangkan taukil masih di bawah pengawasan petugas resmi,” terangnya. Menariknya, seluruh biaya badal ditanggung pemerintah Arab Saudi. “Satu badal bisa setara Rp 20 juta. Kalau 1.000 orang, itu bisa Rp 20 miliar. Tapi Saudi yang menanggungnya,” katanya.
KKHI Diizinkan Beroperasi Penuh
Di tengah pembatasan ketat selama fase Arafah-Muzdalifah-Mina (Armuzna), hanya Indonesia yang diberi izin menempatkan ambulans sendiri di wilayah perkemahan. Otoritas Saudi menetapkan bahwa ambulans di area ini hanya boleh dari Saudi. Namun, dispensasi diberikan kepada Indonesia setelah lobi intensif dan bukti kesiapan.
“Tidak boleh ada ambulans masuk kecuali dari Saudi. Tapi karena pendekatan data dan kesiapan kita, hanya Indonesia yang diizinkan,” ungkap Nasaruddin.
Ambulans Indonesia ditempatkan tersebar, tidak bergerombol. Hal ini menjadi penopang sistem mitigasi darurat, terutama untuk jemaah lansia dan disabilitas. Selain itu, Klinik Kesehatan Haji Indonesia (KKHI) juga kembali diizinkan beroperasi penuh, termasuk untuk tindakan medis ringan langsung di perkemahan.
Dengan segala kesiapan dan dispensasi yang diperoleh, Indonesia berharap seluruh jemaah bisa menunaikan wukuf dengan aman dan khusyuk. “Puncak haji adalah Arafah. Semoga semua jemaah kita meraih haji yang mabrur,” tutup Nasaruddin. (jp)
Editor : Hanif