Nasional Metropolis Daerah Pro Bisnis Ekonomi Olahraga Otomotif Internasional Kriminal Features Mozaik Ramadan Tekno Entertainment Event Kesehatan Kuliner Lifestyle Ragam Cahaya Iman Cek Fakta For Her Jelita Zodiak

Tujuh Kloter Jemaah Haji Indonesia Kembali ke Tanah Air, Gelombang Kedua Siap Menuju Madinah

Hanif PP • Kamis, 12 Juni 2025 | 00:34 WIB
Jamaah haji Indonesia menimbang koper di hotel Meezab, Makkah, Arab Saudi, Rabu (11/6/2025). Jamaah haji Indonesia gelombang pertama akan dipulangkan ke tanah air pada Kamis (12/6) sebanyak 7.528 orang yang tergabung dalam 19 kloter. ANTARA FOTO/Andika Wa
Jamaah haji Indonesia menimbang koper di hotel Meezab, Makkah, Arab Saudi, Rabu (11/6/2025). Jamaah haji Indonesia gelombang pertama akan dipulangkan ke tanah air pada Kamis (12/6) sebanyak 7.528 orang yang tergabung dalam 19 kloter. ANTARA FOTO/Andika Wa

PONTIANAK POST  – Fase pemulangan jemaah haji Indonesia dimulai. Kemarin (11/6), sebanyak tujuh kelompok terbang (kloter) dari berbagai embarkasi di Indonesia diterbangkan ke Tanah Air, melalui Bandara Amir Muhammad bin Abdul Aziz (AMAA) di Madinah dan Bandara Internasional King Abdul Aziz di Jeddah.

     Jemaah dari UPG 01 (Makassar) menjadi rombongan pertama yang dipulangkan. Mereka diterbangkan dari Bandara Madinah pada pukul 03.30 Waktu Arab Saudi (WAS). Total, ada 2.764 jemaah dan petugas yang dijadwalkan pulang ke Indonesia pada hari pertama. ”Alhamdulillah, seluruh jemaah dan petugas telah sampai di bandara dalam keadaan sehat walafiat,” ujar Wakil Kepala Daerah Kerja (Daker) Bandara Abdillah.

     Kloter-kloter lain yang juga diberangkatkan antara lain UPG 02 (Makassar), LOP 01 (Lombok), dan JKG 01 (Jakarta Pondok Gede) juga dari Bandara Madinah. Sementara dari Bandara Jeddah diberangkatkan kloter SUB 01 dan SUB 02 (Surabaya), serta JKS 01 (Jakarta Bekasi). Seluruh rangkaian penerbangan berlangsung hingga malam hari WAS.

     Kepala BP Haji Mochamad Irfan Yusuf mengapresiasi ketertiban dan kekhusyukan jemaah dalam menjalani rangkaian ibadah haji. Menurutnya, seluruh proses dari wukuf di Arafah, mabit di Muzdalifah, hingga lontar jumrah di Mina, berlangsung lancar meski sempat diwarnai sejumlah dinamika. ”Itu menjadi catatan kita untuk perbaikan musim haji tahun depan,” kata Irfan.

     Pihaknya telah menyampaikan evaluasi teknis kepada Deputi Menteri Haji Arab Saudi sebagai bagian dari perbaikan berkelanjutan. Irfan berharap, jemaah yang kembali ke Indonesia tidak hanya menyandang predikat sebagai haji mabrur, tetapi juga membawa perubahan positif secara sosial dan spiritual. ”Haji mabrur bukan hanya catatan, tapi terlihat dari perilaku setelah kembali. Biasanya jadi lebih religius, lebih saleh, dan lebih peduli sosial,” ujarnya.

 

Dilarang Bawa Zam-Zam di Kabin Pesawat

Kepala Daker Bandara Abdul Basir mengingatkan jemaah dan petugas agar memperhatikan aturan ketat selama proses kepulangan. Salah satunya larangan membawa air zam-zam ke dalam kabin pesawat. Air zam-zam akan dibagikan kepada jemaah setibanya di Embarkasi Indonesia, bentuknya satu galon berisi lima liter per orang. ”Jemaah tidak perlu membawa air zam-zam dari Saudi. Itu melanggar aturan penerbangan dan dapat menghambat proses pemeriksaan,” tegasnya.

     Selain itu, jemaah hanya diperbolehkan membawa dua jenis tas ke kabin pesawat. Yakni tas kabin maksimal 7 kilogram dan tas paspor. Koper besar telah dikirimkan satu hari sebelum keberangkatan. Tidak ada penimbangan ulang untuk tas kabin, namun petugas tetap memeriksa kerapian dan kesesuaian.

     Menurut Basir, proses kepulangan dilakukan tanpa memakai skema fast track seperti saat kedatangan. Semua jemaah akan melewati paviliun bandara, menerima dokumen perjalanan, menjalani pemeriksaan barang, dan menuju gate keberangkatan untuk melewati proses imigrasi serta keamanan. ”Jemaah hanya bisa masuk paviliun enam jam sebelum waktu terbang. Kalau datang lebih awal, harus menunggu di dalam bus,” jelasnya.

Pemulangan jemaah dibagi dalam dua gelombang. Gelombang pertama berlangsung dari 11 hingga 25 Juni. Itu terdiri dari 258 kloter yang berangkat melalui Bandara Jeddah dan delapan kloter dari Bandara Madinah. Sedangkan gelombang kedua dimulai 26 Juni–12 Juli 2025, dengan total 259 kloter yang diberangkatkan dari Madinah.

 

Madinah Siap Menyambut Jemaah Gelombang Dua

Persiapan menyambut gelombang kedua jemaah haji Indonesia yang akan masuk ke Madinah, pasca dari Armuzna, juga terus dimatangkan. Lebih dari 100 ribu jemaah akan dipindahkan dari Makkah ke Madinah, untuk menjalani masa tinggal 8-9 hari, sebelum pulang ke Indonesia.

Anggota Amirul Hajj, Prof Arif Satria, telah meninjau dua dapur katering utama di Madinah, yaitu Smartpots dan Sedra Kitchen. Keduanya akan menyediakan konsumsi harian kepada jemaah. ”Kapasitas dapurnya memadai, Smartpots mampu memasak hingga 15 ribu porsi makanan per hari,” ujarnya.

 

221 Jemaah Meninggal

Jumlah jemaah haji Indonesia yang meninggal di Tanah Suci mencapai 221 orang. Jemaah yang berpulang itu paling banyak berasal dari Embarkasi Surabaya.

    Sistem Komputerisasi Haji Terpadu (Siskohat) memerinci jemaah yang meninggal. Sebanyak 217 orang jemaah haji reguler dan 4 orang jemaah haji khusus. Mayoritas wafat di Makkah. Sementara, jumlah jemaah Embarkasi Surabaya yang meninggal jumlahnya 45 orang.

     Banyaknya jemaah haji yang meninggal itu menuai perhatian DPR RI. Anggota Komisi VIII DPR Maman Immanulhaq mengungkapkan, sebelum berangkat dan melunasi biaya haji, jemaah menjalani pemeriksaan kesehatan. Sampai akhirnya dinyatakan istithaah atau mampu serta layak berhaji dari sisi kesehatan.

    Namun, setiba di Arab Saudi, banyak jemaah yang sakit hingga meninggal. Kemudian, ada pula yang wafat. Bahkan ada yang berpulang saat berada di dalam pesawat. ”Sebenarnya bisa dipertanyakan apakah memenuhi syarat istithaah kesehatan atau tidak,” ucapnya dalam diskusi soal haji di gedung DPR kemarin (11/6).

    Menurut Maman, petugas seharusnya jujur dan transparan dalam memeriksa kesehatan calon jemaah haji (CJH). Dia menyinggung adanya dugaan permainan supaya CJH bisa lolos pemeriksaan kesehatan meskipun tidak memenuhi kriteria.

     Dia memahami, ada sebagian masyarakat yang memaksa -apa berhaji dalam kondisi tidak sehat. ”Saya katakan, Ibu-Bapak, kalau anda tidak sehat lalu berangkat dan meninggal, itu niatnya saja sudah salah,” kata Maman. (dim/wan/aph)

Editor : Hanif
#kloter haji #madinah #kloter jemaah haji #tanah air #Jemaah haji indomesia #ibadah haji