Nasional Metropolis Daerah Pro Bisnis Ekonomi Olahraga Otomotif Internasional Kriminal Features Mozaik Ramadan Tekno Entertainment Event Kesehatan Kuliner Lifestyle Ragam Cahaya Iman Cek Fakta For Her Jelita Bursa Properti

Tersangka Mutilasi di Padang Pariaman Ternyata Sempat Akting Jadi Pendamping Keluarga Korban

Miftahul Khair • Jumat, 20 Juni 2025 | 13:47 WIB
Sejumlah barang yang didapatkan dari dalam sumur tempat dua korban ditimbun, Kamis (19/6).
Sejumlah barang yang didapatkan dari dalam sumur tempat dua korban ditimbun, Kamis (19/6).

PONTIANAK POST - Penangkapan Satria Jhuwanda Putra alias Wanda (25), tersangka dalam kasus mutilasi Septia Adinda di Padang Pariaman, membuka tabir baru kejahatan berantai yang mengejutkan publik.

Ditangkap oleh Tim Gagak Hitam Polres Padangpariaman pada Rabu malam (18/6), Wanda juga diduga kuat menghilangkan nyawa dua perempuan lain: Siska Oktavia Rusdi alias Cika (23) dan Adek Gustiana (24).

Namun yang membuat publik tercengang bukan hanya pengakuannya, atau fakta bahwa kedua korban dikuburkan di sumur di dalam rumahnya.

Melainkan bagaimana Wanda memainkan peran sebagai ‘pendamping keluarga korban’, menjalin relasi dengan wartawan, bahkan berkomunikasi intens dengan pihak kepolisian. Semua ini terjadi sekitar pertengahan Januari 2025, setahun setelah korban dilaporkan hilang.

Saat itu, sejumlah wartawan yang tergabung dalam Forum Wartawan Parlemen (FWP) Padangpariaman mulai meliput kasus hilangnya Cika dan Adek, dua mahasiswi yang kali terakhir terlihat oleh keluarga Cika pada 12 Januari 2024. Keesokan harinya, sang ibu, Nila Yusnita, melapor ke polisi.

Penyelidikan awal menemukan sepeda motor yang biasa digunakan Cika di dekat Kampus MTI Tabing, Padang. Namun minimnya informasi membuat pencarian buntu selama lebih dari satu tahun.

Kisah Nila Yusnita yang menanti anaknya menggerakkan hati wartawan FWP untuk menelusuri informasi lebih jauh, termasuk ke teman-teman kuliah para korban.

Sosok Wanda Mulai Menonjol

Saat penyelidikan berlangsung, Wanda kerap muncul mendampingi keluarga korban. Ia bahkan ikut saat Nila melapor ke polisi, dan beberapa kali memberikan keterangan sebagai saksi.

Lebih mengejutkan lagi, Wanda dikenal sangat aktif mendorong agar media dan polisi serius menangani kasus ini. Perannya begitu meyakinkan hingga banyak yang percaya ia benar-benar peduli.

“Saat tahu kejadian ini pagi tadi, saya benar-benar dongkol. Tidak saya sangka dia yang melakukan. Sampai-sampai kami berdebat dengan pihak Polsek Batanganai dan berniat ke Pasaman mencari rumahnya Adek,” ujar Wakil Ketua FWP Padangpariaman, Yuzal Efendi, kemarin.

Yuzal masih teringat bagaimana Wanda seolah sangat peduli terhadap perkembangan kasus.

Baca Juga: Kemendagri: Kebaruan Jadi Kunci Penilaian Inovasi Daerah

“Kawal terus ya bang. Biar kasus ini diseriusi pihak kepolisian,”ujar Yuzal menirukan ucapan Wanda dengan nada geram.

Perdayai Keluarga Adek

Tidak hanya keluarga Cika yang berhasil ia dekati, Wanda juga membangun kedekatan dengan pihak keluarga Adek. Nersi Sulastri, sepupu Adek, menceritakan bahwa ia mendapat kontak Wanda dari ibu Cika, yang menyebut Wanda tahu banyak tentang kedua korban.

“Saya awalnya dapat kontak si Wanda ini dari ibunya Cika. Sebab, saya dapat informasi dia tahu banyak tentang Cika dan Adek,”
ujar Nersi dengan suara bergetar dan berlinang air mata, kemarin.

Ia masih tak percaya bahwa pria yang selama ini mendorongnya untuk menghubungi pihak berwenang ternyata pelaku utama.

“Padahal, dia sering mendorong saya agar mengecek perkembangan kasus ini di kepolisian,”
kata Nersi, yang kini menetap di Solok.

Setelah semuanya terbongkar, Nersi mulai menyadari bahwa Wanda sangat piawai memainkan peran. Bahkan, ia sempat menerima pesan WhatsApp yang mengaku sebagai Adek menjelang Pemilu tahun lalu. Kini ia yakin, pesan itu bukan dari adiknya.

“Menjelang pemilu tahun lalu, Adek menghubungi saya menggunakan nomor baru. Dia menanyakan kabar saya. Hanya itu saja. Makanya saya tidak percaya telah terjadi apa-apa pada adik saya itu,” ungkap Nersi sembari menunjukkan pesan WhatsApp yang diyakininya dikirim oleh Wanda.

Nersi menambahkan bahwa dirinya dan Adek sangat dekat. Adek biasa menghubunginya atau bahkan mengunjungi langsung ke Solok.

Selama ini, Adek tinggal dengan ayahnya di Pasaman setelah sang ibu wafat. Kondisi keluarga disebut baik dan berkecukupan.

“Adik saya itu setahu saya memiliki banyak perhiasan di tubuhnya,” ujar Nersi untuk membantah dugaan-duduga negatif yang sempat berkembang saat korban menghilang. (mif)

Editor : Miftahul Khair
#Mutilasi #padang pariaman #akting #pelaku #pembunuhan berantai #kasus #pendamping keluarga