PONTIANAK POST – Menteri Pariwisata Widiyanti Putri Wardhana mengimbau seluruh pihak yang terlibat dalam industri pariwisata agar memperketat pengawasan terhadap keselamatan wisatawan, khususnya di destinasi yang memiliki tingkat risiko tinggi seperti jalur gunung atau jembatan ekstrem.
“Kami telah meminta seluruh instansi terkait untuk memperkuat standar operasional khusus serta meningkatkan pengawasan kepada kegiatan wisata berisiko tinggi,” ujar Widiyanti saat melakukan kunjungan kerja di Taman Mini Indonesia Indah (TMII), Jakarta, Selasa.
Pernyataan tersebut disampaikan sebagai respons atas kecelakaan yang menimpa wisatawan asal Brasil di kawasan Gunung Rinjani, Nusa Tenggara Barat (NTB).
Widiyanti menegaskan bahwa aspek keamanan dan keselamatan pengunjung menjadi fokus utama dalam pengembangan sektor pariwisata nasional.
Ia berharap pengawasan ketat dapat menekan angka kecelakaan di destinasi wisata ekstrem hingga mencapai “zero accident”.
“Satu insiden bisa berdampak besar pada citra sebuah destinasi ke depan,” katanya, menekankan pentingnya kolaborasi lintas pihak dalam memperkuat sistem keamanan.
Dalam kesempatan tersebut, Widiyanti turut menyampaikan simpati kepada keluarga korban yang mengalami musibah di kawasan Rinjani.
Ia juga memberikan apresiasi terhadap Basarnas dan pengelola Taman Nasional Gunung Rinjani (BTNGR) atas kecepatan mereka dalam merespons insiden serta mengoordinasikan proses evakuasi.
Pendakian Gunung Rinjani Ditutup Sementara
Sebagai tindak lanjut insiden, Balai TNGR NTB menyatakan bahwa jalur pendakian dari Pelawangan 4 menuju puncak Gunung Rinjani ditutup sementara.
Kebijakan ini diambil untuk mendukung proses evakuasi dan menjaga keselamatan tim SAR serta para pengunjung lainnya.
Penutupan jalur juga bertujuan menjaga situasi kawasan agar tetap kondusif selama proses penyelamatan berlangsung.
Kronologi Insiden Juliana Marins
Sebelumnya dilaporkan bahwa wisatawan asal Brasil bernama JDSP (27) terjatuh di kawasan Danau Segara Anak, dekat titik Cemara Nunggal, Gunung Rinjani, pada Sabtu (21/6) pagi saat tengah mendaki menuju puncak.
Kepala Kantor SAR Mataram, Muhamad Hariyadi, menyatakan bahwa korban ditemukan dalam kondisi tidak bergerak pada Senin (23/6) pukul 07.05 WITA, berjarak sekitar 500 meter dari titik awal lokasi jatuh.
Proses pencarian dilakukan dengan bantuan drone thermal karena medan yang curam dan tertutup vegetasi. (mif/ant)
Editor : Miftahul Khair