PONTIANAK POST - Presiden Prabowo Subianto berkunjung ke Brasil dalam rangka menghadiri konferensi tingkat tinggi BRICS 2025. Dalam pertemuan itu, Prabowo berencana bertemu dengan Presiden Brasil untuk membahas kematian Juliana Marins, pendaki yang jatuh saat mendaki Gunung Rinjani.
Selama di Rio de Janeiro, Brasil, Prabowo dijadwalkan mengikuti sejumlah agenda. Selain menghadiri KTT BRICS, Prabowo juga akan menggelar pertemuan bilateral untuk meningkatkan kerja sama di berbagai bidang.
Para Pemimpin BRICS akan membahas sejumlah isu politik dan keamanan global. Di antaranya konflik berkepanjangan di berbagai kawasan, reformasi tata kelola global, dan penguatan multilateralisme.
Selain itu, para pemimpin BRICS juga akan mengangkat berbagai permasalahan dan peluang kerja sama ekonomi dan keuangan. ”Selain itu membahas isu-isu lainnya seperti tata kelola akal imitasi (AI), lingkungan, dan aksi iklim, serta kesehatan global,” dikutip dari keterangan pers Kementerian Luar Negeri (Kemenlu).
Prabowo, yang hadir untuk pertama kalinya dalam KTT BRICS, akan menggunakan kesempatan itu untuk menyuarakan sikap dan posisi Indonesia sebagai bridge-builder dalam berbagai isu global dan upaya kolektif di tengah situasi dunia yang semakin tidak menentu. Sebagai negara yang tergabung dalam Global South sekaligus anggota G20, Indonesia akan memanfaatkan forum BRICS sebagai platform untuk memperjuangkan kerja sama global yang lebih adil dan inklusif, serta memajukan kepentingan nasional dalam berbagai bidang ekonomi, keuangan, pendidikan dan teknologi.
Dilansir dari Al Jazeera, para pemimpin, terutama dari negara berkembang, akan membahas cara meningkatkan kerja sama di tengah kekhawatiran atas dominasi Barat. Untuk pertama kalinya, Presiden Tiongkok Xi Jinping tidak menghadiri pertemuan secara langsung. Dia mengutus Perdana Menteri Li Qiang. Presiden Rusia Vladimir Putin juga tidak hadir karena berupaya menghindari Mahkamah Pidana Internasional (ICC) atas perannya dalam invasi Ukraina 2022. Brasil, sebagai penandatangan Statuta Roma, akan diminta untuk menegakkan surat perintah penangkapan tersebut.
Ketidakhadiran Putin dan Xi Jinping itu menimbulkan pertanyaan mengenai kekompakan dan pengaruh global kelompok tersebut. Para pemimpin di KTT BRICS diharapkan mengecam tarif perdagangan yang diberlakukan pemerintahan Presiden Amerika Serikat Donald Trump. Kebijakan itu disebut ilegal dan berisiko merugikan ekonomi global.
Bertemu Presiden Brasil
Menko Bidang Hukum, HAM, Imigrasi, dan Permasyarakatan Yusril Ihza Mahendra menyebut bahwa ada kemungkinan Prabowo akan membahas isu kematian pendaki asal Brasil, Juliana Marins, yang meninggal di Gunung Rinjani. Prabowo diagendakan menggelar pertemuan bilateral dengan Presiden Brasil. ”Saya yakin Kemenlu juga memberikan banyak masukan kepada kedutaan kita di Brasil untuk mengikuti perkembangan tahap-tahap atas kasus ini,” katanya.
Sejauh ini, kata Yusril, pemerintah belum mendapat nota diplomatik dari pemerintah Brasil yang mempertanyakan kematian Juliana. ”Kami tidak menerima adanya surat atau nota diplomatik dari pemerintah Brasil yang mempertanyakan kasus kematian ini dan saya kira kami sudah memberikan cukup penjelasan,” tutur Yusril. (lyn/aph)
Editor : Hanif