Mengaku mendapat sejumlah tawaran lain, Takeyuki Oya memilih jadi general manager kompetisi dan operasional PT LIB karena melihat besarnya potensi dan komitmen Indonesia. Ketua Umum PSSI Erick Thohir meminta semua pihak tak buru-buru menagih hasil.
RIZKY AHMAD FAUZI, Jakarta
PONTIANAK POST - Jangankan dengan Thailand atau Malaysia, dengan Kamboja yang dulu tim nasionalnya kerap jadi bulan-bulanan di ajang level Asia Tenggara pun Indonesia kalah. Kompetisi sepak bola negeri yang beribu kota di Phnom Penh itu dua peringkat di atas Liga Indonesia.
Persisnya di daftar AFC Mens Club Competition Ranking. Kamboja di posisi ke-23 dengan 20.112 poin. Sementara Liga Indonesia cuma di ranking ke-25 dengan 18.653 poin. Jauh di bawah Liga Thailand yang menduduki tempat ke-7 dan Liga Malaysia di posisi ke-11.
Padahal, era Liga Indonesia yang menggabungkan Perserikatan dan Galatama sudah berusia lebih dari kepala tiga sejak dimulai pada 1994. Karena itu, PT Liga Indonesia Baru (LIB) harus bekerja sangat keras untuk melakukan pembenahan.
Mendatangkan Takeyuki Oya sebagai general manager kompetisi dan operasional adalah salah satu cara. Oya punya pengalaman 16 tahun di manajemen J-League atau Liga Jepang.
”Sebelumnya, kami sudah bicara sedikit tentang kerangka waktunya. (Ketua Umum PSSI) Pak Erick (Thohir) bilang sekitar 2027,” ungkap Oya saat pengumuman di Hotel Langham Jakarta pada Senin (7/7).
Oya belum membeberkan garis besar pembenahan yang akan dilakukan. Tapi, yang terdekat, dia berharap Persib Bandung, jawara Liga 1 musim lalu yang tampil di AFC Champions League 2, dan Dewa United, sang runner-up, yang bermain di AFC Challenge League bisa menunjukkan performa prima. Musim lalu Persib tersisih sebagai juru kunci di fase grup ajang serupa. Sedangkan Madura United tersingkir di semifinal AFC Challenge League setelah takluk oleh wakil Kamboja Svay Rieng dengan agregat 3-6.
”Setidaknya (musim depan) harus ada satu tim yang lolos ke babak playoff AFC Champions League (ACL) Elite. Dan, kemudian selalu menjadi finalis ACL 2,” harap Oya yang terakhir menangani global business di manajemen J-League.
Dia menyebut Persib sebagai klub yang paling diharapkan untuk bisa bersaing di Asia. Selain juara back-to-back Liga 1, basis pendukung mereka juga besar.
Selain itu, dia juga melihat Persija Jakarta dan Bali United memiliki kans untuk bisa kompetitif di Asia Tenggara. Seperti Persib, basis fans Persija juga gigantik. Meski terseok-seok musim lalu, Macan Kemayoran mencatatkan jumlah penonton terbanyak di Liga 1 dengan rata-rata 15.414. Di Asia Tenggara, catatan itu hanya kalah oleh jawara Thai League 1 Buriram United dengan 18.363.
Alasan ke Indonesia
Alasan utama Oya bersedia menerima tantangan membenahi Liga Indonesia karena menilai Indonesia memiliki potensi besar dalam sepak bola. Baik dari sisi fanatisme suporter maupun besarnya populasi.
”Dengan antusiasme tinggi, peluang pengembangan liga profesional lebih terbuka,” katanya.
Oya juga melihat komitmen yang ditunjukkan para pemimpin sepak bola di tanah air. Ketimbang dengan negara Asia Tenggara lainnya, dia menilai Indonesia lebih konsisten dan visioner dalam memperbaiki ekosistem sepak bolanya. Mulai reformasi organisasi hingga pembenahan kualitas wasit.
Erick menuturkan, mendatangkan sosok sekompeten Oya bagian dari proses untuk menaikkan level. ”Dia 16 tahun sudah berjibaku di J-League. Tadi menjawab pertanyaan berapa cepat, ya semua perlu proses,” sebutnya.
Proses ini, lanjut Erick, yang kadang-kadang dilupakan di Indonesia. Karena itu, dia ingin memberikan kesempatan agar Oya bisa bekerja lebih dulu. ”Jangan selalu, oh ini udah sebulan kerja, mana hasilnya? Semua perlu waktu,” katanya.
Oya mengaku, tawaran sebenarnya tak cuma dari Indonesia. Kalau kemudian dia memilih ke sini, selain karena potensi, juga karena komitmen. ”Pemerintah Indonesia serius memperbaiki sepak bola. Karena itu, Pak Presiden (Prabowo Subianto) juga menjadi Dewan (Kehormatan PSSI),” ujarnya. (*/ttg)
Editor : Hanif