PONTIANAK POST - Pertemuan di Kuala Lumpur, Malaysia, dimanfaatkan Menteri Luar Negeri (Menlu) Indonesia Sugiono untuk menekankan pentingnya kemitraan yang setara, adil, dan inklusif antara ASEAN dan Uni Eropa (UE). Dia juga berharap dukungan lebih besar dari UE untuk menyelesaikan konflik di Gaza.
Pesan itu disampaikan Sugiono dalam pertemuan ASEAN-EU Post Ministerial Conference (11/7). Dia menyatakan, keberhasilan ekonomi akan sulit terwujud apabila kondisi geopolitik dunia terus diwarnai ketidakpastian. Hal itu merujuk pada situasi di Palestina dan Timur Tengah.
“Indonesia menyambut baik beberapa negara Uni Eropa yang memberikan dukungan kepada Palestina. Namun demikian, krisis yang belum membaik di Gaza membutuhkan tindakan kolektif yang lebih kuat,” tegasnya.
Sugiono menilai, situasi yang belum tertangani di Gaza dan minimnya penegakkan dan akuntabilitas hukum menyebabkan terkikisnya kredibilitas tatanan hukum internasional. Hal itu berpotensi memantik konflik-konflik di belahan dunia lain. “Jangan sampai pengabaian hukum internasional dan kebijakan yang tidak konsisten menimbulkan dampak global yang serius,” lanjutnya.
Kanada Lirik ASEAN
Pertemuan di Malaysia juga mengungkap ketertarikan berbagai negara untuk menjalin hubungan dagang yang lebih baik dengan ASEAN. Dilansir dari Bangkok Post, Menteri Luar Negeri Kanada Anita Anand ingin segera menyelesaikan perjanjian free trade dengan negara-negara di Asia Tenggara. “Saat ini kami sedang bernegosiasi dengan ASEAN untuk perjanjian perdagangan bebas dan kami menantikan penyelesaian negosiasi tersebut,” katanya.
Pernyataan Kanada ini dapat mengurangi ketergantungan terhadap ekspor ke Amerika Serikat. Kanada sendiri juga mendapatkan dampak dari kebijakan tarif AS. Trump mengenakan pajak impor sebesar 50 persen untuk baja dan alumunium serta pungutan mobil dan truk yang semua itu merupakan ekspor utama Kanada.
Untuk memperluas perdagangan di Asia, Kanada telah berinvestasi besar-besaran dalam infrastruktur ekspor. Pemerintah membeli dan memperluas jaringan pipa Trans Mountain. Ini adalah satu-satunya jalur pipa di pantai barat yang mampu mengisi tangki minyak untuk pengiriman ke Pasifik.
Sementara itu, saat membuka acara, pemimpin Malaysia Anwar Ibrahim sempat menyinggung soal tarif Trump yang juga menyasar negaranya. "Di seluruh dunia, alat yang dulu digunakan untuk mendorong pertumbuhan kini digunakan untuk menekan, mengisolasi, dan membatasi. Tarif, pembatasan ekspor, dan hambatan investasi kini telah menjadi instrumen tajam persaingan geopolitik," ujar Anwar seperti dilansir dari Al Jazeera.
Dia juga menekankan bahwa ASEAN harus saling berkoordinasi. Terutama terkait dengan kebijakan luar negeri dan ekonomi. "Dan seiring kita menghadapi tekanan eksternal, kita perlu memperkuat fondasi internal kita. Berdagang lebih banyak di antara kita, berinvestasi lebih banyak satu sama lain,” tuturnya. (lyn/oni)
Editor : Hanif