Nasional Metropolis Daerah Pro Bisnis Ekonomi Olahraga Otomotif Internasional Kriminal Features Mozaik Ramadan Tekno Entertainment Event Kesehatan Kuliner Lifestyle Ragam Cahaya Iman Cek Fakta For Her Jelita Bursa Properti

Suara Hati Konsumen di Tengah Isu Beras Oplosan: Saya Takut Beli Beras Sekarang, Kualitas Tidak Sesuai

Deny Hamdani • Minggu, 13 Juli 2025 | 15:27 WIB
Ilustrasi beras.
Ilustrasi beras.

PONTIANAK POST - Usai terungkapnya hasil investigasi Kementerian Pertanian yang menyebutkan bahwa 85% beras premium dan 88% beras medium tidak memenuhi standar mutu, masyarakat mulai angkat suara. Banyak konsumen mengaku kaget, khawatir, bahkan marah atas temuan ini. “Dulu saya pikir beli beras mahal berarti pasti bagus. Ternyata malah isinya pecah-pecah, nasinya keras, dan baunya juga aneh,” kata Siti Rahayu (43), seorang ibu rumah tangga di Kubu Raya, saat ditemui di pasar tradisional.

Tidak hanya soal kualitas, beberapa pembeli juga mengeluhkan tidak konsistennya isi kemasan. Ahmad Rizal (39), seorang karyawan swasta di Pontianak, mengaku pernah menimbang beras kemasan 5 kg yang baru saja dibelinya. Hasilnya? Isinya cuma 4,8 kilo. Padahal harganya sudah di atas HET. Ini kayaknya ada main-mainnya,” keluhnya.

Dia merasa kecewa karena meskipun membayar harga tinggi, kualitas beras yang didapat justru buruk. “Nasinya lengket. Jadi saya jadi mikir-mikir kalau mau beli lagi," ujarnya.

Setelah mendengar pemberitaan tersebut, banyak warga mulai lebih teliti saat membeli beras. Mereka mulai memperhatikan label kemasan, mencari tahu kadar air dan kepatahan beras, serta membandingkan harga di pasaran. “Sekarang saya selalu cek labelnya. Kalau bisa lihat langsung isi berasnya, saya pegang-pegang dulu. Kalau terlalu putih atau terlalu wangi, saya curiga itu pakai pemutih atau pengawet,” tambah Yanti(43) dari Kubu Raya.

Beberapa warga juga menyerukan perlunya pengawasan yang lebih ketat dari pemerintah. “Kalau produsen nakal tidak ditindak tegas, ya begini terus. Kami sebagai rakyat kecil yang selalu dirugikan,” ujar Fadli (47), pedagang warung nasi di Kubu Raya.

Dia menambahkan, “Sebagai penjual nasi, saya juga kena imbasnya. Kalau berasnya jelek, pelanggan protes. Harusnya pemerintah bisa jamin beras yang beredar itu benar-benar layak dan sesuai harga," katanya.

Di tengah kenaikan harga beras dan kini adanya kasus mutu yang dipertanyakan, rakyat biasa seperti mereka hanya ingin bisa membeli beras dengan tenang, tanpa harus takut tertipu atau membayar lebih untuk kualitas yang rendah. “Yang kami minta sederhana saja. Beras yang aman, layak, dan harganya jujur,” tutup Yanti.

Sebelumnya, dikutip dari jawapost grup Pontianak Post diceritakan hasil investigasi besar-besaran yang dilakukan oleh Kementerian Pertanian (Kementan) bekerja sama dengan Satgas Pangan, Badan Pangan Nasional, Kepolisian, dan Kejaksaan mengungkap fakta mencengangkan tentang kualitas beras yang beredar di pasaran. Dari ratusan sampel beras premium dan medium yang diperiksa, mayoritas ternyata tidak memenuhi standar mutu, bahkan ada yang sengaja “dikurangi” isi kemasannya.nl

Investigasi yang berlangsung dari 6 hingga 23 Juni 2025 ini melibatkan 13 laboratorium di seluruh Indonesia. Mereka menguji 268 sampel dari 212 merek beras di 10 provinsi besar. Hasilnya? 85,56 persen beras premium dan 88,24 persen beras medium tidak sesuai dengan Standar Nasional Indonesia (SNI).

Selain soal mutu, banyak produsen dan distributor juga terbukti menjual beras jauh di atas Harga Eceran Tertinggi (HET) yang ditetapkan pemerintah. Sebanyak 59,78 persen beras premium dan 95,12 persen beras medium dijual melebihi harga wajar. Bahkan, beberapa produk memiliki berat nyata lebih rendah dari klaim di kemasan. Ada yang hanya berisi 90 persen dari yang tertera.

“Ini sangat merugikan konsumen,” tegas Menteri Pertanian Andi Amran Sulaiman dalam konferensi pers, kemarin.

Dia menambahkan bahwa kerugian nasional akibat praktik ini bisa mencapai Rp 99,35 triliun per tahun, dengan Rp 34,21 triliun dari beras premium dan Rp 65,14 triliun dari beras medium.

Kementan memberikan ultimatum dua minggu kepada produsen dan distributor untuk segera memperbaiki masalah mutu, harga, dan ketepatan berat kemasan beras mereka. Jika tidak, Satgas Pangan Mabes Polri dan Kejaksaan Agung akan turun tangan. “Produsen dan pedagang yang bandel akan kami tindak tegas,” ujar Brigjen Pol. Helfi Assegaf, Kepala Satgas Pangan.

Arief Prasetyo, Kepala Badan Pangan Nasional, juga menekankan pentingnya transparansi dan tanggung jawab produsen. “Kami tidak akan mentoleransi pelanggaran yang merugikan konsumen,” tandasnya.

Kementan mengimbau masyarakat agar lebih teliti saat membeli beras. Konsumen diminta memperhatikan label pada kemasan, termasuk informasi berat bersih, kadar air, tingkat kepatahan, dan asal beras.“Jangan ragu untuk mempertanyakan atau bahkan melaporkan jika menemukan beras yang mencurigakan,” kata Amran.

Temuan ini menjadi alarm keras bagi pemerintah dan masyarakat tentang pentingnya pengawasan distribusi pangan. Manipulasi mutu dan harga beras, yang merupakan komoditas pokok, harus dihentikan demi menjaga keadilan dan keamanan konsumen. “Kami akan pastikan pasar beras berjalan adil dan transparan,” tutup Amran.(den)

Editor : Hanif
#beras premium #kualitas beras #tak sesuai standar #beras #beras medium