Nasional Metropolis Daerah Pro Bisnis Ekonomi Olahraga Otomotif Internasional Kriminal Features Mozaik Ramadan Tekno Entertainment Event Kesehatan Kuliner Lifestyle Ragam Cahaya Iman

Rafa, Bocah 11 Tahun dari Pekalongan, Kritis Usai Digigit Ular dan Belum Siuman

Hanif PP • Jumat, 18 Juli 2025 | 08:44 WIB
PERHATIAN: Kadinkes Jateng, Yunita Dyah Suminar menjenguk Rafa di RSUP dr Kariadi, Semarang, kemarin.
PERHATIAN: Kadinkes Jateng, Yunita Dyah Suminar menjenguk Rafa di RSUP dr Kariadi, Semarang, kemarin.

Rafa Ramadhani Suwondho tiba di RSUP dr Kariadi, Semarang, dalam kondisi tidak sadar dan sampai sekarang belum siuman. Perawatan intensifnya melibatkan dokter anak dan saraf.

IDA FADILAH, Semarang-FERLYNDA PUTRI, Jakarta


PONTIANAK POST -Sudah 30 antivenom (antibisa) disuntikkan kepada Rafa Ramadhani Suwondho. Dan, kondisinya, menurut Kepala Dinas Kesehatan Jawa Tengah (Jateng) Yunita Dyah Suminar, membaik dibandingkan saat kali pertama dirujuk ke RSUP dr Kariadi, Semarang.

”Ada harapan, kita semua harus optimistis, semua bisa sembuh. Sekali lagi upaya (RSUP) dr Kariadi sudah baik, memberikan pelayanan untuk anak ini,” ujar Yunita setelah menjenguk bocah 11 tahun itu di RSUP dr Kariadi kemarin (17/7).

Bocah asal Desa Bukur, Kecamatan Bojong, Kabupaten Pekalongan, Jateng, itu diduga digigit ular di rumahnya pada 16 Juni lalu. Keluarga kemudian membawanya ke RSUD Kajen, Kabupaten Pekalongan.

Di sana Rafa mendapatkan penanganan awal, tapi kemudian dipulangkan untuk rawat jalan. Belum sampai rumah, dia mengalami kejang-kejang. Keluarga lantas melarikannya ke RSI Muhammadiyah Pekajangan, Kabupaten Pekalongan. Sebelum akhirnya dirujuk ke RSUP dr Kariadi.

Ada yang menyebut, Rafa digigit ular weling, salah satu jenis ular dengan bisa mematikan. Tapi, dr Tri Maharani, satu-satunya dokter spesialis toksinologi ular berbisa di Indonesia, belum berani menyimpulkan bahwa benar ular weling yang menggigit Rafa. Saat ditemui di RSUD Kajen pada akhir Juni (28/6), Maha, sapaan akrabnya, mengatakan, sejak kasus itu mencuat, belum ada bukti foto atau spesimen ular yang menggigit Rafa.

Bahkan dia juga tak bisa menyimpulkan sepenuhnya itu gigitan ular atas dasar demi kehati-hatian menyimpulkan diagnosis. ”Kalau ciri-cirinya, iya (digigit ular). Sebab, hewan yang beracun dengan neurotoksin seperti yang ada di tubuh Rafa, ya, kemungkinan besar ular,” katanya.

Karena itu, lanjut dia, diagnosisnya adalah suspect unidentified snake dengan neurotoksin sistemik. ”Suspect itu kan bisa iya, bisa tidak. Jenis ularnya apa, kami saat ini tetap tidak bisa katakan,” ungkap Maha yang sempat mengecek langsung kondisi Rafa. 

 

Dokter Anak dan Dokter Saraf

Humas RSUP dr Kariadi Aditya Kandu Warenda menyebut, Rafa tiba di rumah sakit tersebut pukul 19.00 WIB dengan penurunan kesadaran. Artinya, kondisi tidak sadar.

Baca Juga: Bapanas dan Bulog Kawal Penyaluran Bantuan Pangan di Pontianak

Rafa langsung dirawat intensif di ruang pediatric intensive care unit (PICU). ”Saat ini (kemarin) belum siuman,” kata Aditya sebagaimana dilansir Radar Semarang (jaringan Pontianak Post). kemarin.

Kondisi Rafa dipantau setiap waktu. Bukan hanya melibatkan dokter spesialis anak, tapi juga dokter spesialis saraf. Update perkembangannya juga terus disampaikan ke keluarga.

 

Jadi Sorotan

Kasus Rafa membuat RSUD Kajen menjadi sorotan. Sebab, saat dilarikan ke RSUD Kajen, Rafa mendapat serangkaian perawatan medis, namun tak sampai rawat inap. Saat dipulangkan, di perjalanan dia kejang-kejang, lalu tak sadarkan diri. Keluarga akhirnya langsung melarikannya ke RSI PKU Muhammadiyah Pekajangan.

Direktur RSUD Kajen dr Imam Prasetyo mengatakan, pihaknya tak ada niat jahat. Pihaknya juga tak menutup mata dengan berupaya mendatangkan dr Tri Maharani, ahli dari Kementerian Kesehatan.

”Kami datangkan agar beliau ikut memecahkan kasus medis ini. Kami juga sampai sekarang masih terus berkoordinasi dengan pihak RSI Pekajangan dan telah menyerahkan antivenom sebanyak 15 vial sesuai rekomendasi ahli,” ucapnya.

Maha sudah mengecek langsung kondisi Rafa. ”Kencingnya yang sebelumnya hitam-merah sekarang sudah berubah kekuningan. Artinya racun yang merusak organ-organ sudah mulai terikat oleh antivenom yang kami berikan,” kata Maha.

Kendati begitu, lanjutnya, Rafa tetap masih butuh perawatan ekstraintensif. Sebab, neurotoksin yang berada di tubuhnya sudah menyebar. (*/nra/ida/ttg)

Editor : Hanif
#Antibisa #Digigit Ular #dirawat #semarang #pekalongan #bocah #rsup kariadi #ular