Sejak era Orde Baru maupun sesudahnya, Kwik Kian Gie tak pernah takut berseberangan dengan penguasa. Meski pernah menduduki berbagai posisi penting, Kwik dikenal tak pernah bersembunyi di balik kepentingan politik.
AGFI SAGITTIAN-AGAS PUTRA HARTANTO, Jakarta
KWIK Kian Gie adalah perpaduan rasionalitas dan pengalaman empiris. Di pendidikan, dia ditempa sampai ke Belanda. Di kehidupan, dia merasakan sendiri bagaimana kerasnya hidup di era penjajahan ketika sang ayah dipenjara dan sang ibu harus banting tulang menghidupi 10 anak.
Itulah yang kemudian membentuk menteri koordinator bidang ekonomi, keuangan, dan industri di era kepresidenan Abdurrahman ”Gus Dur” Wahid tersebut menjadi sosok ekonom yang konsisten berpihak kepada wong cilik.
”Pak Kwik punya pandangan bahwa pembangunan ekonomi yang sehat adalah pembangunan yang bisa menyentuh kehidupan masyarakat paling bawah. Kita kehilangan tokoh dan ekonom hebat, yang perannya besar untuk koreksi dan checks and balances bagi kebijakan ekonomi,” ujar ekonom senior sekaligus Rektor Universitas Paramadina, Didik J. Rachbini.
Kwik yang lahir pada 11 Januari 1935 di Juwana, Pati, Jawa Tengah, meninggal pada Senin (28/7) malam di Jakarta dalam usia 90 tahun.
”Mentor yang tak pernah lelah memperjuangkan kebenaran. Yang berdiri tegak di tengah badai demi kepentingan rakyat dan negeri. Indonesia berduka,” tulis mantan Menteri Pariwisata, Sandiaga Uno di akun media sosialnya.
Selain menjadi Menko di era Presiden Gus Dur, mantan Kepala Badan Litbang PDI (sebelum kemudian menjadi PDIP) itu pernah bertugas sebagai menteri perencanaan pembangunan nasional/kepala Bappenas di masa kepresidenan Megawati Soekarnoputri. Tapi, di luar berbagai jabatan yang pernah dia duduki, Kwik pertama-tama adalah ekonom yang konsisten mengkritik kebijakan ekonomi yang hanya menguntungkan elite atau korporasi besar.
”Apa warisan pemikiran Kwik Kian Gie? Pemikirannya yang relevan sampai saat ini adalah tentang pentingnya kedaulatan ekonomi,” kata Didik.
Risiko dan Keberanian
Ketika ayahnya dipenjara Jepang pada 1942, sang ibu memboyong 10 anaknya ke Semarang. Di Semarang, Kwik dan saudara-saudaranya harus mencari sekolah sendiri. Sebab, sang ibu sudah tak sempat mengurusi karena harus mati-matian mencari nafkah.
”Kami berjalan kaki dari satu sekolah ke sekolah lainnya, menghadap guru kepala, dan meminta menjadi murid,” tulis Kwik dalam Menelusuri Zaman, Memoar dan Catatan Kritis yang dieditori Andi Tarigan.
Setelah Jepang hengkang dan sang ayah keluar dari penjara, Kwik sekeluarga diboyong ke sebuah rumah kosong yang sebelumnya ditinggali seorang komandan Jepang. Kwik pernah mempertanyakan keputusan itu: apakah boleh menempati rumah orang begitu saja.
Sang ayah menjawab kalau dia tidak tahu siapa yang punya rumah itu. Instansi pemerintah yang didatangi juga demikian. Sampai akhirnya beberapa tahun kemudian, perwakilan pemilik rumah itu datang dan menawarkan rumah tersebut. Ayah Kwik lalu membelinya.
”Setelah dewasa saya baru menyadari kalau dalam hidup ini kita harus berani mengambil risiko, sejauh niatnya baik dan risikonya terkalkulasi, atau apa yang dinamakan calculated risk,” tulis Kwik dalam buku yang sama.
Pelajaran tentang keberanian itu menetap sepanjang hidup mantan wakil ketua MPR tersebut. Didik mengenang, Kwik sangat vokal sebagai ekonom dalam era 1980-an di masa Orde Baru masih kuat-kuatnya.
Pada era itu, lanjut Didik, banyak golongan terpelajar dalam bidang ekonomi dan politik, tapi mereka semua berkumpul di pemerintahan Orde Baru. Tidak bagi Kwik Kian Gie, dia tetap berada di luar menjalankan peran checks and balances secara tidak formal untuk mengkritisi kebijakan-kebijakan ekonomi.
”Pemikirannya tajam, independen, serta kritis, baik pada masa Orde Baru maupun di era sesudahnya. Dia berani menyuarakan kebenaran, bahkan jika itu berarti harus berseberangan dengan kekuasaan,” ujarnya.
Berprinsip dan Blak-blakan
Organisasi dan kewarganegaraan sudah disadari Kwik sedari belia. Dia tegas memilih menjadikan organisasi pelajar dengan latar Tionghoa yang dia pimpin, Chung Lien Hui, menjadi organisasi untuk pelajar berwarga negara Indonesia dengan nama Perhimpunan Pelajar Sekolah Menengah Indonesia (PPSMI).
”Program penting dari PPSMI adalah civics (kewarganegaraan),” tulisnya dalam buku yang dirilis 10 tahun lalu itu.
Keteguhan memeluk prinsip itu pula yang dikenang pengusaha senior Peter F. Gontha. ”Sosok yang berprinsip dan blak-blakan. Seorang ekonom, negarawan, dan pemikir nasional yang integritas dan keberanian intelektualnya tak tergoyahkan,” ujar Peter.
Dia mengenal Kwik sebagai pribadi yang tidak pernah bersembunyi di balik kepentingan politik. Baik saat menjabat di kabinet maupun ketika berkontribusi sebagai intelektual publik, dia tetap teguh dalam independensi. ”Baginya, kebenaran dan keadilan tak bisa ditawar dan integritas tak pernah opsional,” tegasnya.
Dalam lanskap politik yang sering dibayangi partisanisme dan keuntungan pribadi, lanjut Peter, Kwik menonjol sebagai kompas moral yang tak kenal takut, jujur, dan konsisten. ”Kepergiannya merupakan kehilangan yang mendalam bagi republik ini,” tambah Peter.
Mantan Menteri Koordinator Bidang Politik, Hukum, dan Keamanan (Menko Polhukam), Mahfud MD juga mengenang Kwik Kian Gie sebagai contoh pejabat yang konsisten, mencerahkan, dan terbuka. ”Bangsa Indonesia kehilangan sosok yang patut dicontoh dalam integritas dan ketegasan dalam mengurus negara,” ujarnya. (*/ttg)
Editor : Hanif