PONTIANAK POST - Menjelang peringatan Hari Ulang Tahun ke-80 Republik Indonesia pada 17 Agustus 2025, media sosial diramaikan oleh sebuah fenomena unik dan tak biasa: pengibaran bendera bajak laut Topi Jerami dari serial anime One Piece di bawah Bendera Merah Putih.
Jagat maya pun heboh melihat bendera Jolly Roger, ikon bajak laut dari kelompok Monkey D. Luffy, berkibar di berbagai lokasi di Indonesia. Fenomena ini menjadi sorotan karena bertepatan dengan momentum perayaan kemerdekaan.
Bendera dengan lambang tengkorak bertopi jerami khas One Piece disebut dikibarkan oleh sejumlah warga di berbagai daerah menjelang 17 Agustus. Aksi ini menjadi bahan perbincangan ramai di dunia maya.
Mengutip unggahan akun Instagram @pembasmi.kehaluan.reall, terlihat beberapa sopir truk dan kendaraan pribadi turut memasang bendera tersebut. Reaksi warganet pun terbelah, menciptakan diskusi publik yang cukup panas.
Banyak yang mempertanyakan makna di balik pengibaran bendera anime Jepang tersebut. Tak sedikit pula yang mengaitkannya sebagai bentuk kritik terhadap kondisi bangsa. Perdebatan ini ramai terlihat dalam kolom komentar berbagai platform media sosial.
Fenomena ini terekam luas di TikTok, Instagram, hingga X (sebelumnya Twitter). Foto dan video yang tersebar memperlihatkan bendera hitam bergambar tengkorak dan topi jerami itu berkibar di depan rumah, bak truk, mobil, hingga tempat umum lainnya.
One Piece, karya mangaka Jepang Eiichiro Oda, pertama kali terbit pada 1997 di majalah Weekly Shōnen Jump dan telah menjadi salah satu manga terpopuler sepanjang masa. Serial ini punya penggemar fanatik di Indonesia, khususnya dari kalangan pecinta budaya pop Jepang atau wibu.
Meskipun bukan kali pertama bendera ini dikibarkan, kemunculannya menjelang perayaan kemerdekaan membuatnya terasa lebih politis. Tak sedikit netizen menilai pengibaran ini sebagai simbol perlawanan terhadap ketidakadilan yang dirasakan rakyat.
“Dalam One Piece, bendera bajak laut bukan hanya sebagai simbol kebebasan, tetapi juga bentuk perlawanan terhadap kekuasaan yang tidak adil. Sama seperti halnya rakyat yang menolak ketidakadilan meski lawannya adalah tokoh atau pejabat besar dan berkuasa,” ujar pengguna TikTok, Fhandinie.
Pernyataan serupa disampaikan oleh akun lain, Andrean Kliwir, yang menulis, “Pihak berwenang tidak akan bertindak apapun mengenai fenomena ini, karena ini memang kebenarannya…..”
Sebagian masyarakat menganggap aksi ini sebagai bentuk kritik diam terhadap sistem sosial dan politik yang dinilai menindas, terutama bagi mereka yang berasal dari kalangan bawah.
Ada pula yang merasa bahwa Merah Putih terlalu sakral untuk dikibarkan oleh negara yang dianggap belum benar-benar berpihak pada keadilan dan kemanusiaan.
Fenomena bendera bajak laut dari One Piece ini memperlihatkan bahwa budaya pop bisa menjadi sarana kritik sosial yang efektif, bahkan membentuk narasi perlawanan yang damai, namun penuh makna, di tengah situasi yang serba kompleks. (*)
Editor : Miftahul Khair