PONTIANAK POST - Meski perang telah berlangsung sejak Oktober 2023, dukungan terhadap Palestina masih berlangsung. Kemarin (3/8) Indonesia menggelar aksi akbar Selamatkan Palestina di Monumen Nasional. Dukungan juga datang dari Amerika hingga Australia.
Di halaman Monumen Nasional orang-orang berbaju putih dengan syal bendera Palestina tersampir di bahu berkumpul. Salah satunya ada Menteri Luar Negeri Sugiono. Dalam kesempatan itu dia menekankan dukungan Indonesia terhadap Palestina. ”Kita bisa hadir di lapangan Monas yang megah ini untuk menyuarakan nurani kita, melihat kenyataan yang menimpa saudara-saudara kita di Gaza. Kita berkumpul di sini karena sebuah keterpanggilan, bukan hanya sebagai Muslim semata, tetapi sebagai bagian dari umat manusia yang tidak menerima kekejaman dan kekejian yang menimpa saudara-saudara kita di Gaza dan Palestina,” ucap Sugiono.
Dia juga memastikan pemerintahan Presiden Prabowo Subianto telah memasukkan urusan Palestina dalam agenda. Hal itu dinyatakan saat pelantikan di Gedung MRP. “Hal ini bukan sekadar ungkapan atau pidato semata, tetapi merupakan amanah dari Undang-Undang Dasar 1945, yang menyatakan bahwa bangsa Indonesia menolak segala bentuk penjajahan di atas dunia,” ujarnya.
Dalam beberapa waktu terakhir, ratusan miliar rupiah, jutaan dolar, dan 4.400 ton bantuan logistik telah dikirimkan ke Palestina. “Melalui pintu diplomasi dan meja perundingan, Presiden aktif menyuarakan apa yang kita rasakan untuk saudara-saudara kita di Palestina dan Gaza. Beliau berbicara di forum ASEAN, OKI, dan forum multilateral lainnya untuk menyuarakan kemerdekaan Palestina,” ujarnya. Sugiono juga menyatakan sebagai menteri luar negeri juga melakukan hal serupa. “Dalam waktu dekat, kita juga akan mengirimkan 10.000 ton beras untuk rakyat Palestina,” imbuhnya.
Sementara itu deklarasi kemerdekaan Palestina dalam bahasa Indonesia dibacakan oleh Ketua Majelis Ulama Indonesia (MUI) Cholil Nafis. Total ada lima poin yang mereka sampaikan dalam deklarasi itu. "Mengutuk keras genosida yang terjadi di Gaza, Palestina berupa pembantaian dan pelaparan massal yang telah merenggut puluhan ribu nyawa tak berdosa," kata Cholil. Genosida itu diperparah karena menyasar kalangan perempuan dan anak-anak.
MUI kemudian menyerukan kepada seluruh pemimpin negara-negara Islam, untuk segera mengambil langkah konkret secepat-cepatnya dalam menghentikan pembantaian serta penggunaan pelaparan sebagai senjata perang terhadap rakyat Gaza. Harapan ini juga untuk pemimpin negara-negara lain yang masih memiliki nurani dan rasa kemanusiaan.
Berikutnya aksi akbar bertajuk Selamatkan Gaza itu mendesak dan memohon kepada Pemerintah Mesir serta Yordania agar segera membuka blokade dan memfasilitasi masuknya bantuan kemanusiaan ke Jalur Gaza dalam jumlah yang cukup dan berkelanjutan. "Kami juga meminta kepada yang terhormat Presiden Republik Indonesia, Bapak Prabowo Subianto, untuk memimpin seruan dunia, khususnya negara-negara Islam, dalam menghentikan genosida dan pelaparan di Gaza," kata Cholil.
Presiden Prabowo juga perlu mendorong terwujudnya kemerdekaan penuh bangsa Palestina sebagaimana amanat konstitusi UUD 1945. Yaitu penjajahan di atas dunia harus dihapuskan, karena tidak sesuai dengan peri-kemanusiaan dan peri-keadilan.
Seruan yang terakhir adalah meminta seluruh umat Islam dan penduduk dunia untuk terus memboikot produk-produk yang terafiliasi dengan Zionis Israel. Serta terus berdoa dengan Qunut Nazilah sampai genosida terhenti dan Palestina merdeka penuh.
Di Amerika, demo untuk menghentikan perang di Palestina juga dilakukan. Asosiasi rabi konservatif di Amerika Rabbinical Assembly mengungkapkan kekhawatiran akan krisis kemanusiaan. Seperti dilansir dari The Guardian, mereka mendesak untuk meringankan warga sipil dan memastikan pengiriman bantuan. Mereka menyebut tradisi Yahudi mengharuskan yayasan tersebut memastikan penyediaan makanan, air, dan pasokan medis sebagai prioritas utama.
Lebih dari 1.200 rabi telah menandatangani surat terbuka yang menyerukan Israel untuk mengizinkan lebih banyak bantuan kemanusiaan ke Gaza. Menurut mereka sesuai dengan surat yang ditulis, Bangsa Yahudi menghadapi krisis moral yang serius dan mengancam fondasi Yudaisme untuk itu mereka tidak bisa tinggal diam.
Di Sydney, Australia, ada sekitar 90.000 menghadiri demonstrasi pro Palestina. Polisi New South Wales (NWS) sampai mengamankan aksi ini. Wakil komisaris sementara NWS Peter McKenna menyebut ada beberapa titik kerumunan. “Diperkirakan hanya ada 50.000 oleh penyelenggara,” katanya.
Kemarin pukul 11.30 waktu setempat, Jembatan Pelabuhan Sydney ditutup karena demo dukungan terhadap Palestina. Meski hujan ada pukul 13.30, massa tidak bubar. Aksi itu diikuti oleh beberapa tokoh. Misalnya pendiri WikiLeaks Julian Assange.
Prancis, Inggris, dan Kanada dalam beberapa minggu terakhir telah menyuarakan dukungan terhadap Palestina. Bahkan akan membawa ke Sidang Umum PBB pada September nanti.
Sementara itu, pada Sabtu (2/8) Utusan Amerika Steve Witkof bertemu dengan keluarga para sandera Israel. Dilansir dari AFP, dia menyatakan kekhawatiran keselamatan para sandera ini. Pertemuan ini terjadi setelah Witkof mengunjungi stasiun bantuan yang didukung oleh Amerika. (wan/lyn)
Editor : Hanif