PONTIANAK POST - Baru-baru ini, Dr. Ir. H. Andi Amran Sulaiman, MP (Menteri Pertanian RI) mengungkap praktik mafia pangan terkait penjualan beras oplosan sehingga menyebabkan kualitas beras yang diedarkan tidak sesuai dengan kelas mutu beras. Dari total 268 merek yang diuji, terdapat 212 merk yang tidak sesuai dengan mutu, takaran, dan Harga Eceran Tertinggi (HET) yang ditetapkan pemerintah.
Hasil investigasi tersebut memberi dampak secara langsung terhadap masyarakat. Djan Kiong (60), salah satu pedagang grosir di Siantan menyebutkan, beliau terus memantau kasus mengenai tersebut, salah satu antisipasi yang dilakukan untuk menjaga kualitas dan kestabilan penjualan adalah lebih selektif dalam memasok beras berdasarkan merek dengan memeriksa kualitas. “Kami mendukung Kementerian Pertanian terutama Pak Menteri dalam mengungkap maraknya kasus beras oplosan. Peran pemerintah dalam mengawal kasus ini sangat membantu kami selaku pedagang dalam menjaga kualitas beras yang dipasarkan. Bagi kami, kepercayaan konsumen adalah salah satu alasan sampai saat ini usaha kami dapat berjalan dengan lancar.”
Untuk mengetahui kondisi pemasaran beras terkini di Pontianak, Tim BRMP Kalimantan Barat melakukan survey ke salah satu pasar tradisional, yakni Pasar Flamboyan. Meskipun terdapat beras premium, namun mayoritas beras yang dipasarkan adalah beras medium SPHP. Beras SPHP adalah beras yang disalurkan oleh Perum Bulog sebagai bagian dari upaya pemerintah untuk mengendalikan inflasi dan menjaga daya beli masyarakat.
William (40) - pedagang pengecer mengatakan, di tengah berita hangat yang mencuat, pasokan beras yang aman kepada pedagang pengecer dan kestabilan harga beras yang terus dikawal oleh pemerintah dapat meredam berita tersebut. “Saat berita mencuat sempat terjadi kenaikan harga namun tidak lama karena pemerintah terus mengawal kestabilan harga di pasaran. Sejauh ini, minim keluhan dari masyarakat” ujarnya. Indikator kestabilan distribusi dan harga akan berdampak nyata apabila pasokan dan harga beras di pasar stabil (baik premium maupun medium).
Mery dan Effendi (pedagang pengecer lainnya) menyebutkan hal senada, penjualan beras medium di lapak mereka tetap hidup dan tidak berdampak negatif karena berita yang beredar. “Pasokan beras aman, harga seragam, dipantau, dan stabil, kualitas baik. Sejauh ini beras medium menjadi beras yang banyak dicari oleh masyarakat.” Ujar mereka.
Langkah tegas Mentan tidak hanya melindungi konsumen dari praktik curang, tetapi juga memulihkan kepercayaan publik terhadap pasar tradisional. Pengawalan pemerintah terhadap distribusi dan harga beras di pasar tradisional diharapkan dapat tetap menjaga geliat jual beli, namun tetap memastikan masyarakat mendapatkan produk yang aman dan layak konsumsi.(*)
Editor : Hanif