Donasi dan peserta aksi tak cuma dari Pati, tapi juga, di antaranya, dari Jogjakarta, Jakarta, Kalimantan Timur, bahkan luar negeri. “Ini bukan soal sekadar mengirim donasi, tapi mengirim pesan kepada kepala daerah,” kata seorang donatur.
ANDRE FAIDHIL FALAH – ACHMAD ULIL ALBAB, Pati
Bajaj Paijan berhenti di depan posko donasi Aliansi Masyarakat Pati Bersatu di depan kantor bupati. Dengan sigap, pria 65 tahun itu menurunkan satu per satu puluhan dus air mineral dari kendaraan yang sehari-hari dia jadikan gantungan mencari nafkah di Jakarta tersebut.
Bagi Paijan yang telah merantau meninggalkan Pati sejak 1978, ribuan kilometer yang telah dia tempuh dari Jakarta bukan sekadar soal mengirim donasi, tapi tentang mengirim pesan kepada pemimpin daerah di mana dia dilahirkan.
“Bupati itu kan jabatan untuk melayani masyarakat, bukan untuk dirinya sendiri. Belum setahun menjabat saja sudah seenaknya sendiri,” ucapnya lantang, sebagaimana dikutip dari Radar Kudus Grup Jawa Pos.
Kebijakan dan pernyataan Bupati Pati Sudewo memicu reaksi keras dari warga yang dia pimpin, dan bakal bermuara pada demonstrasi di Alun-Alun Simpang Lima Pati kemarin (13/8), yang dipadati ribuan pengunjukrasa.
Berawal dari keputusan Bupati Sudewo menaikkan pajak bumi dan bangunan sebesar 250 persen. Ketika kemudian diprotes, dia menantang, jangankan 5 ribu orang, 50 ribu orang demonstrasi pun dia tak akan gentar (15/7).
Sudewo kemudian meminta maaf atas pernyataannya tersebut, sekaligus membatalkan kenaikan PBB-P2 sebesar 250 persen. “Saya minta maaf yang sebesar-besarnya, sama sekali tidak ada maksud menantang rakyat,” katanya, Kamis (7/8) pekan lalu.
Tapi, aksi warga tak surut. Tuntutan kini bahkan mengarah agar Sudewo mundur karena telah menelurkan berbagai kebijakan yang dianggap kontroversial. Di antaranya lima hari sekolah, regrouping sekolah yang berdampak pada hilangnya pekerjaan guru honorer, hingga pemutusan hubungan kerja ratusan karyawan honorer RSUD RAA Soewondo Pati.
Donasi Menggunung
Donasi dari berbagai kalangan dalam berbagai bentuk sudah menggunung di posko sampai dengan Selasa (12/8). Air mineral saja diperkirakan sudah menembus 15 ribu kardus, dan tak cuma datang dari Pati. “Ada dari Jakarta, Jogjakarta, bahkan luar negeri,” kata Supriyono alias Botok, salah satu inisiator demo.
Baca Juga: Tompi Resmi Keluar dari WAMI, Ogah Kutip Royalti Sampai Ada Kejelasan
Dalam pengamatan Radar Kudus kemarin, sejumlah spanduk dan baliho juga sudah terpasang di depan kantor bupati dan area alun-alun yang bertetangga. Beberapa di antaranya bertuliskan “KPK Usut Tuntas” dan “Pak Presiden Prabowo Pecat Bupati Sudewo.”
Menurut Koordinator Donasi Masyarakat Pati Bersatu Teguh Istyanto, aksi tetap digelar karena masyarakat telanjur kecewa dengan berbagai kebijakan Bupati Sudewo. Tak hanya terkait PBB, tapi di antaranya juga terkait regrouping sekolah dan PHK.
Jumlah peserta demo bisa mencapai 100 ribu orang. “Laporan yang masuk ke kami, di antaranya, ada yang datang dari Jakarta, Jogjakarta, dan Kalimantan Timur,” katanya. (*/lin/ttg)
Editor : Hanif