PONTIANAK POST – Setidaknya tiga kado pahit diterima Bupati Pati Sudewo sepanjang hari kemarin (13/8). Dua dari Pati, satu dari Jakarta. Pertama, kala menemui sebentar puluhan ribu demonstran di Alun-Alun Pati, Jawa Tengah (Jateng), yang menuntutnya mundur, ia dilempari sandal dan botol air mineral. Kedua, lewat rapat yang berlangsung tegang karena demonstran sempat memaksa masuk, DPRD Pati memutuskan menyepakati pembentukan Panitia Khusus (Pansus) Hak Angket untuk memproses pemakzulan Sudewo.
Dan, ketiga, dari Jakarta, Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) menyatakan, bakal memanggil Sudewo yang juga mantan anggota DPR itu, berkaitan dengan kasus dugaan suap proyek pengadaan barang dan jasa di Direktorat Jenderal Perkeretaapian Kementerian Perhubungan (Kemenhub).
"Benar, saudara SDW merupakan salah satu pihak yang diduga juga menerima aliran commitment fee terkait dengan proyek pembangunan jalur kereta. Ini sudah kami sampaikan saat memberikan update terkait penahanan salah satu tersangka kasus ini, yaitu saudara RS (Risna Sutriyanto, ASN Kemenhub),” ujar Juru Bicara KPK Budi Prasetyo kemarin seperti dikutip dari JawaPos.com.
Namun, Sudewo bersikukuh menyatakan, tidak akan mundur. “Saya dipilih secara konstitusional, jadi tidak bisa berhenti hanya dengan tuntutan itu. Semua ada mekanismenya,” kata politikus Partai Gerindra itu saat memberikan keterangan kepada media di pendapa kabupaten sekitar tiga jam setelah ia menemui demonstran di alun-alun.
Sebagaimana dilansir Radar Kudur Grup Jawa Pos, Sudewo mengaku bisa memahami emosi massa yang sempat memuncak. Menurutnya, dalam kerumunan besar, sulit mengendalikan situasi sepenuhnya. Bupati yang dilantik pada 20 Februari lalu itu juga menganggap peristiwa tersebut sebagai proses pembelajaran bagi dirinya yang baru menjabat beberapa bulan. “Ke depannya akan saya perbaiki. Masih banyak kekurangan yang harus dibenahi,” katanya.
Mengesai desakan Sudewo mundur, Gubernur Jateng Ahmad Luthfi menyebut agar semua pihak mengikuti aturan. "Ya, itu tanyakan ke sana. Mekanismenya harus di DPRD," katanya seusai melakukan pantauan Cek Kesehatan Gratis di Universitas Diponegoro, Semarang, kemarin.
Tensi Demonstrasi
Tensi demonstrasi di Alun-Alun Pati yang dimulai sekitar pukul 08.15 meningkat menjelang siang. Sekitar pukul 09.37, Supriyono “Botok”, salah satu pentolan aksi, naik ke panggung dan menyampaikan kekecewaannya terhadap kebijakan kontroversial Bupati Sudewo, terutama kenaikan Pajak Bumi dan Bangunan Perdesaan dan Perkotaan (PBB-P2).
Sekitar pukul 09.42, mulai terjadi pelemparan botol air mineral ke arah pendapa dari gerbang depan. Kapolresta Pati Kombespol Jaka Wahyudi bersama Dandim Letkol Timotius Berlian Yogi Ananto kemudian menemui massa di panggung terbuka, mengajak mereka menjaga kondusivitas.
Pukul 10.07, massa membentangkan spanduk bertuliskan “Pak Presiden Prabowo pecat Bupati Sudewo atau Jateng boikot Gerindra.” Desakan agar Sudewo keluar menemui massa menggema. Upaya meredam tensi sempat dilakukan dengan shalawatan, namun segera disusul cemooh.
Situasi kian panas. Pukul 10.50, massa di sebelah timur pendapa, tepatnya di depan kantor DPRD, melempar botol dan batu. Polisi merespons dengan tembakan gas air mata. Kantor DPRD Pati sempat dimasuki sejumlah massa aksi. Massa berhasil dipukul mundur sekitar 200 meter dari kantor bupati.
Sekitar pukul 12.15, Sudewo keluar menemui massa dengan kendaraan taktis Brimob. Namun, kedatangannya disambut lemparan botol. Dalam pidato singkat, ia meminta maaf dan berjanji memperbaiki kesalahan. Sebelumnya, Kapolresta Pati telah meminta jaminan dari peserta aksi bahwa situasi akan kondusif jika bupati hadir.
Hingga pukul 15.00, sebagian massa mulai meninggalkan lokasi, namun masih banyak masyarakat yang nongkrong sambil menonton. Ada mobil milik Polri yang digulingkan dan dibakar massa.
Luka Lebam
Kabidhumas Polda Jawa Tengah Kombespol Artanto yang berada di lokasi menyebut, ada 11 orang yang diamankan, didata, dan diperiksa. “Terkait korban, ada dari Polri dan masyarakat. Ada 34 orang saat ini (kemarin) sedang ditangani di RSUD RAA Soewondo, ada juga yang dipulangkan. Dari keseluruhan korban, tujuh anggota Polri, sisanya masyarakat,” katanya.
Artanto menambahkan, para korban rata-rata mengalami luka lebam dan robek kulit. “Terkait korban jiwa, hasil penelusuran nihil,” katanya.
Selain itu, korban yang dirawat di RSUD Soewondo rata-rata terdampak tembakan gas air mata yang menyebabkan sesak napas. Dinas Kesehatan Kabupaten Pati juga menyebutkan tidak ada korban jiwa. Untuk korban luka, masih dilakukan pendataan lebih lanjut. (aua/jpc/ttg)
Editor : Hanif