PONTIANAK POST - Dr Rubini dikenal juga sebagai tokoh yang berusaha meningkatkan kesejahteraan dan perlindungan terhadap ibu dan anak. Dia ingin menurunkan angka kematian ibu dan anak saat melahirkan yang kerap terjadi di praktik bidan tradisional (dukun beranak). Oleh sebab itu, selain membuka praktik kedokteran umum di rumahnya di Landraad Weg (kini Jalan Jenderal Urip Pontianak), ia juga membuka praktik kebidanan dengan ditangani bidan bersertifikat.
Rubini juga dikenal sebagai dokter yang rendah hati dan tanpa pamrih. Pasien tidak mampu dapat membayar dengan apapun, seperti hasil bumi, kelapa, dan ayam. Bahkan sering juga digratiskan.
Hal ini juga kerap ia temui dalam misi sebagai dokter keliling. Secara periodik ia mengunjungi desa-desa di luar Pontianak dengan kapal atau perahu agar dapat menjangkau daerah terdalam.
Itulah mengapa nama dr Rubini cukup melekat di hati masyarakat pedesaan di luar Pontianak, yang kini berada di sekitar wilayah Kubu Raya dan Mempawah (dulu Kabupaten Pontianak).
Usaha dr Rubini itu dibantu istrinya, Amalia Rubini, yang tergabung dalam gerakan Palang Merah. Amalia Rubini juga berinteraksi dengan perkumpulan istri dokter di Pontianak untuk berbagi informasi dan keterampilan seputar pemberdayaan perempuan dan anak. Kebetulan istri dr Agusjam, yakni R.A. Sujarah, ketua organisasi Aisiyah yang mengelola sejumlah sekolah di Pontianak, seperti Taman Kanak-Kanak, pengajian perempuan, dan kursus-kursus keterampilan.
Selain pada bidang kemanusiaan, sebagai pengurus Parindra, ia turut bergerak di bidang politik. Ia ikut mendorong partai ini untuk memberikan perhatian pada program-program pemajuan kehidupan rakyat. Oleh sebab itu, Parindra juga mendirikan sejumlah sekolah, klub olahraga, klub kesenian, dan kursus-kursus politik.
Di samping itu, ia kerap menyuarakan kepada pemerintah kolonial untuk lebih memperhatikan pelayanan kesehatan masyarakat di Kalbar yang menurutnya masih jauh tertinggal dari wilayah lain, baik fasilitas maupun SDM-nya.
Menjelang masuk tentara Jepang karena berkobar Perang Pasifik, pada 1941 pemerintah kolonial mengadakan evakuasi terhadap pejabat-pejabat Belanda, penduduk, dan tokoh-tokoh masyarakat penting pribumi, termasuk dr Rubini yang turut diajak. Akan tetapi, karena kecintaannya kepada Kalbar dan pengabdian, dia menolak dievakuasi oleh pemerintah kolonial ke Jawa. Ia memilih tetap tinggal.
Setelah dievakuasi tenaga-tenaga dokter Belanda, keadaan semakin rumit karena kekurangan tenaga kesehatan. Padahal pada Desember 1941 Pontianak sudah mulai dijatuhi bom oleh Jepang yang mengakibatkan jatuhnya korban jiwa. Atas dasar itu, pemerintah kolonial yang semakin terdesak kemudian mengangkat dr Rubini sebagai perwira kesehatan cadangan dengan pangkat letnan 2 untuk mengurusi rumah sakit militer yang ditinggalkan dokter-dokter Belanda.
Merawat Korban
Bersama dokter-dokter pribumi lainnya yang menolak dievakuasi, dr Rubini merawat para pasien korban pemboman Jepang.
Sekitar bulan Februari 1942, Jepang yang telah berkuasa di Indonesia, membubarkan seluruh organisasi dan kegiatan politik, termasuk Parindra. Di sisi lain, dr Rubini yang tetap berprofesi sebagai dokter, berusaha untuk pura-pura bekerja sama dengan Jepang agar kegiatan-kegiatan politik yang dia bina secara sembunyi tidak terbongkar.
Para aktivis itu kemudian mendirikan organisasi Nissinkwai yang seolah-olah mendukung Jepang. Di sisi lain dr Rubini mulai menerima laporan-laporan kejahatan Jepang terhadap rakyat, terutama pada kaum perempuan yang menerima kekerasan seksual. Bahkan dr Rubini juga turut merawat kaum perempuan malang tersebut, baik di rumah sakit maupun rumah praktiknya. Hal ini semakin membulatkan tekad dirinya untuk melawan penindasan Jepang.
Jepang kemudian menilai pergerakan aktivis di Nissinkwai sebagai bentuk ancaman. Organisasi itu kemudian dibubarkan. Para aktivisnya bergabung di Pemuda Muhammadiyah agar dapat berdiskusi membicarakan langkah perjuangan dalam selubung kegiatan keagamaan. Awal tahun 1943, dr Rubini menerima dr Susilo dan Makaliwey yang datang dari Banjarmasin.
Mereka menyampaikan bahwa di Banjarmasin akan ada gerakan melawan Jepang dan di Pontianak juga untuk turut serta. Dengan begitu dr Rubini mulai mengadakan konsolidasi aktivis dan sejumlah tokoh kesultanan, untuk melakukan perlawanan terhadap Jepang yang rencananya pada Desember 1943.
Menurut laporan Jepang, dr Rubini yang dianggap sebagai pemimpin gerakan itu membentuk pasukan bersenjata yang bernama "Soeka Rela".
Nahasnya, rencana aksi ini diketahui Jepang karena adanya sejumlah orang yang berkhianat sebagai mata-mata Jepang. Selain itu, kegagalan aksi di Banjarmasin juga menyeret sejumlah nama di Pontianak, termasuk dr Rubini dan rekan-rekannya.
Mulai bulan Oktober 1943, aksi-aksi penangkapan terhadap para tokoh yang dianggap terlibat atau berbahaya bagi Jepang diciduk dan kemudian banyak yang dieksekusi di Mandor. Koran Borneo Sinbun, 1 Juli 1944, memberitakan bahwa Jepang telah mengeksekusi orang-orang yang terlibat dalam gerakan perlawanan. Sebanyak 48 di antaranya dianggap sebagai pemimpin perlawanan, termasuk dr Rubini dan istrinya, Amalia Rubini.
Selain itu, terdapat nama-nama lain, seperti Sultan Syarif Muhammad Alqadri (Sultan Pontianak), Pangeran Agung, Pangeran Adipati, dokter, insinyur, guru, dan masih banyak kaum intelektual lain, termasuk sultan/panembahan.
Untuk mengenang perjuangan tokoh-tokoh intelektual dalam perjuangan kemerdekaan Indonesia, seperti dr Rubini dan rekannya, Pemerintah Provinsi Kalimantan Barat pada 2007 menetapkan tanggal 28 Juni sebagai Hari Berkabung Daerah. (ant)
Editor : Hanif