PONTIANAK POST - Gempa dengan kekuatan magnitudo 6.0 terjadi di Poso Minggu pagi (17/8) pukul 05.38. Satu orang dilaporkan meninggal dunia akibat gempa bumi tersebut. Hal ini berdasarkan laporan kaji cepat Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) per Minggu (17/8) pukul 23.42 WIB.
Kepala BNPB Letjen TNI Suharyanto menuturkan, dilaporkan warga yang meninggal dunia merupakan pasien yang sebelumnya mengalami kritis usai tertimpa reruntuhan bangunan pascagempa di Gereja Elim Masani, Desa Masani, Kecamatan Poso Pesisir, Kabupaten Poso, Sulawesi Tengah.
"Saat gempa terjadi, para jemaat tengah mengikuti ibadah pagi. Sejumlah jemaat tertimpa material kayu dan batako dari bangunan gereja yang masih dalam tahap konstruksi," ujarnya. Selain korban meninggal dunia, data kerusakan rumah juga mengalami peningkatan.
Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) melaporkan kerusakan infrastruktur bertambah menjadi 204 bangunan. Pejabat (Pj) Penanggulangan Bencana BPBD Poso, Sofyan, mengatakan Tim Reaksi Cepat (TRC) masih terus melakukan pendataan lapangan dan data yang disampaikan masih dinamis.
Ia memaparkan 204 bangunan rusak terdiri atas 101 rumah rusak ringan, tiga rumah rusak sedang, 70 rusak berat, dan 30 fasilitas umum berupa sekolah, Polindes, kantor desa dan rumah ibadah. Sekitar 14 desa/kelurahan terdampak yakni Desa Tiwaa, Ueralulu, Masamba, Tokorondo, Lape, Bega, Towu, Masani, dan Kelurahan Tabalu di Kecamatan Poso Pesisir. Kemudian Desa Padalembara, Patiwunga, Tangkura Kecamatan Poso Pesisir Selatan, dan Desa Kilo di Kecamatan Poso Pesisir Utara.
Selain satu korban yang meninggal dunia, terdapat sembilan korban mengalami luka berat dan telah menjalani operasi di Rumah Sakit (RS) Poso. Satu korban dalam keadaan kritis. Ada pula puluhan korban luka ringan yang dirawat di sejumlah lokasi.
Kepala BNPB Letjen TNI Suharyanto mengatakan pihaknya telah melaksanakan rapat koordinasi penanganan darurat bencana gempabumi melalui ruang komunikasi digital pada Minggu (17/8) malam. Rapat ini dipimpin oleh Deputi Bidang Penanganan Darurat BNPB Mayjen TNI Budi Irawan yang dihadiri oleh perwakilan Kemenko PMK, Bupati Poso, Kalaksa BPBD Provinsi Sulawesi Tengah, Kalaksa BPBD Poso dan jajaran forkopimda Kabupaten Poso.
Tim Reaksi Cepat (TRC) BNPB langsung diberangkatkan pada Senin (18/8) dini hari menuju Poso guna melakukan upaya penanganan darurat dan pendampingan pemerintah daerah di lokasi kejadian. "Dalam tahap awal, direncanakan akan dikirimkan bantuan berupa makanan siap saji, tenda pengungsi, tenda keluarga, hygiene kit, selimut dan matras," urainya.
Direktur Gempabumi dan Tsunami BMKG Daryono menjelaskan, hasil analisis BMKG menunjukkan gempabumi ini memiliki parameter update dengan magnitudo 5,8. "Episenter gempabumi terletak pada koordinat 1,30° LS ; 120,62° BT, atau tepatnya berlokasi di laut pada jarak 12 Km arah Utara Kota Poso, Sulawesi Tengah pada kedalaman 10 km," paparnya.
Dengan memperhatikan lokasi episenter dan kedalaman hiposenternya, gempabumi yang terjadi merupakan jenis gempabumi dangkal akibat adanya aktivitas sesar tokararu. "Hasil analisis mekanisme sumber menunjukkan bahwa gempabumi memiliki mekanisme pergerakan naik," urainya.
Menurutnya, gempabumi ini dirasakan di Kota Poso dengan kekuatan V-VI MMI. Getaran dirasakan oleh semua penduduk. Kebanyakan semua terkejut dan lari keluar, plester dinding jatuh, dan cerobong asap pada pabrik rusak. Gempa dirasakan hingga Luwu Timur, Mamuju, Masamba, Majene, Palopo, Pasangkayu, dan Polman dengan kekuatan III-IV MMI atau dirasakan oleh orang banyak dalam rumah, di luar oleh beberapa orang, gerabah pecah, jendela atau pintu berderik, dan dinding berbunyi. "Hasil pemodelan menunjukkan bahwa gempabumi ini tidak berpotensi tsunami," terangnya.
Hingga pukul 06.43 WIB, hasil monitoring BMKG menunjukkan adanya lima aktivitas gempabumi susulan dengan magnitudo terbesar M 3,2. "Kepada masyarakat diimbau agar tetap tenang dan tidak terpengaruh oleh isu yang tidak dapat dipertanggungjawabkan kebenarannya," ujarnya. (idr/ant)
Editor : Hanif