Nasional Metropolis Daerah Pro Bisnis Ekonomi Olahraga Otomotif Internasional Kriminal Features Mozaik Ramadan Tekno Entertainment Event Kesehatan Kuliner Lifestyle Ragam Cahaya Iman

Sekolah Rakyat: Terobosan Pendidikan untuk Miskin, Tapi Tantangan Lapangan Kerja Masih Menanti

Hanif PP • Rabu, 27 Agustus 2025 | 10:07 WIB
ILUSTRASI Sekolah Rakyat. Pemerintah membuka pendaftaran seleksi Pegawai Pemerintah dengan Perjanjian Kerja (PPPK) untuk formasi Guru Sekolah Rakyat tahap kedua tahun 2025.
ILUSTRASI Sekolah Rakyat. Pemerintah membuka pendaftaran seleksi Pegawai Pemerintah dengan Perjanjian Kerja (PPPK) untuk formasi Guru Sekolah Rakyat tahap kedua tahun 2025.

PONTIANAK POST - Program Sekolah Rakyat sudah resmi bergulir. Program ini diharapkan bisa memutus mata rantai kemiskinan ekstrem. Meskipun baru berjalan, akses lapangan kerja bagi para lulusan Sekolah Rakyat harus mulai dipikirkan sejak sekarang.

Saat ini sebanyak 100 titik Sekolah Rakyat sudah beroperasi. Dalam operasionalnya, didukung oleh 2.400 guru dan 4.400 tenaga pengajar. Sementara pada bulan September nanti, ditargetkan 65 titik Sekolah Rakyat lainnya akan menyusul beroperasi. Presiden Prabowo sendiri, menargetkan 200 Sekolah Rakyat beroperasi pada tahun depan.

Pengamat pendidikan dari Universitas Pendidikan Indonesia (UPI) Cecep Darmawan mengatakan, Sekolah Rakyat adalah terobosan Prabowo untuk anak kalangan masyarakat ekonomi lemah. Menurut Cecep, masyarakat miskin harus memiliki peluang transformasi untuk memperbaiki kehidupan. Salah satu instrumen kunci melepas lingkaran kemiskinan, salah satunya adalah dengan pendidikan. "Kita perlu apresiasi Presiden yang terlihat sangat serius mengeksekusi program Sekolah Rakyat, hal ini tidak mudah," kata Cecep dalam keterangannya (26/8).

Menurut Cecep, impian memutus kemiskinan absolut dengan pendidikan bisa gagal memberi dampak. Tepatnya ketika lulusan Sekolah Rakyat tidak dipersiapkan untuk terserap dalam ruang lingkup bidang kerja yang jelas.

Oleh karena itu, kata Cecep, lintas kementerian harus mempersiapkan lapangan kerja yang seluas- luasnya bagi siswa Sekolah Rakyat. "Kondisi saat ini banyak lulusan SMK atau SMA bahkan sarjana menganggur. Mereka pengganguran terdidik, karena tidak ada lapangan kerjanya," jelasnya.

Untuk itu Cecep mengatakan Kementerian Ketenagakerjaan harus juga menyiapkan lulusan Sekolah Rakyat untuk siap bersaing di pasar kerja.

Cecep juga mengatakan untuk memutus rantai kemiskinan absolut, bukan hanya mengirim anak dari kalangan miskin untuk sekolah di Sekolah Rakyat. Namun, orang tua peserta didik juga harus didampingi untuk meningkatkan kesejahteraan. "Sebab, kalau hanya anaknya yang di sekolahkan di Sekolah Rakyat, itu tidak akan berdampak signifikan nanti," kata Cecep.

Selain itu, dia menilai para siswa Sekolah Rakyat juga nantinya harus inklusif. Sebaiknya jangan ada penyeragaman kemampuan. Sebab, pada dasarnya setiap anak memiliki kemampuan berbeda. Baginya sangat sayang sekali jika nanti kurikulumnya mendesak siswa punya kemampuan yang seragam.

Menurut Cecep, agar siswa Sekolah Rakyat memberi dampak bermakna pada transformasi sosial dan kehidupan, kurikulumnya mesti mengarahkan kemampuan siswa sesuai minat dan bakat. Maka sangat penting pemetaan kemampuan siswa dari sisi akademik sain dan matematika, sosial atau vokasi.

Selain itu, menurut Cecep Sekolah Rakyat juga harus memastikan kurikulum menyesuaikan karakteristik ilmu pengetahuan lokal tempat Sekolah Rakyat berdiri. Sebagai contoh Sekolah Rakyat yang didirikan di lingkungan dengan potensi perikanan dan kelautan, bisa disesuaikan kurikulum dengan bidang terkait perikanan dan kelautan. "Supaya nantinya dia bisa mengelola lingkungannya, dan tidak tercerabut dari lingkungan hidupnya," kata Cecep.

Namun, terlepas dari itu Cecep mengaku gebrakan Prabowo dalam sektor pendidikan cukup mengesankan. Sebab, belum setahun menjabat Presiden sudah memulai model- model pendidikan untuk kalangan miskin. (wan)

Editor : Hanif
#pendidikan #lapangan kerja #miskin #Presiden Prabowo #Sekolah Rakyat #pekerjaan rumah